Kondisi kehidupan yang carut marut, seharusnya tidak serta-merta membuat kita mengambil sikap apatis dan mencari berbagai pelarian.

Dalam ajaran Agama islam, sangat menegaskan untuk terus bersifat optimis dalam menghadapi seluruh kondisi apapun, seperti yang dijelaskan dalam Al-Quran bahwa ;

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ”

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Âli ‘Imrân [3]: 139).

Realitas yang dipertontonkan saat ini, sedikit mengorek-ngorek ingatan penulis dengan pernyataan Imam nya kaum komunis yakni Karl Marx, beliau berkata bahwa "Agama adalah candu" kritikan ini dilontarkan sebab kebanyakan kaum Rohaniawan atau kaum Agamawan pada saat itu selalu menggunakan Agama untuk menenangkan kaum miskin, dan tak sedikit juga orang miskin yang menjadikan agama sebagai pelarian dari kehidupan dunia yang susah, sikap pesimis ini sebagai akibat dari ketidakmampuan menghadapi berbagai permasalahan.

Kiranya menurut penulis kritikan tersebut bukan kemudian membuat kita anti terhadap pemikiran Marx, sebab kritikan tersebut menyisahkan makna bahwa posisi Agama seharusnya dijadikan sebagai modal menghadapi semua keadaan. Hal ini sebenarnya telah dipraktikan oleh para Nabi-Nabi, diantaranya Nabi Musa AS yang melawan Firaun dan Nabi Muhammad SAW yang berjuang untuk menyebarkan agama islam dan menciptakan keadilan pada saat itu. Namun penulis tak ingin panjang lebar menjelaskan hal ini, sebab standing point dari tulisan ini ialah bagaimana posisi Ilmu Agama (Spiritual) dalam kehidupan manusia.

Kondisi saat ini, memperlihatkan bahwa banyak orang yang mempelajari Ilmu Spiritual, Namun sebagai pelarian dari permasalahan dunia, dan lebih cenderung apatis dengan berbagai problematika yang ada, dilain sisi krisis integritas pada Tokoh-Tokoh Negara saat ini juga merupakan implikasi dari kurangnnya minat untuk memperdalm ajaran spiritual ini.

padahal menurut hemat Penulis Ilmu Spiritual merupakan modal yang kuat untuk menghadapi modernitas yang dipenuhi dengan kehidupan yang serba materealistik.


Ilmu Agama sebagai Kewajiban
Dalam buku K.H.M Hasyim Asy'ari yang berjudul "menjadi orang pinter dan bener, adab al-alim wa al-muta'allim" pada bab 4 menjelaskan bahwa ada empat jenis ilmu yang bersifat wajib untuk dipelajari, diantaranya :


1. Ilmu Tauhud, ilmu ini mrmbahas masalah ketuhanan, hal ini yang nantinya memperkuat keyakinan bahwa Allah SWT itu maujud.
2. Mengetahui sifat-sifat allah
3. Ilmu fikih, hal ini bertujuan untuk mengetahui dan mengantarkan kepada ketaatan kepada Allah, seperti halnya cara-cara bersyci, salat dan puasa.
4. Ilmu tasawuf, ilmu ini menjelaskan tentang berbagai keadaan, makam, tingkatan dan membahas rayuan dan tipu daya nafsu.

Lebih jelasnya lagi, ilmu tasawuf merupakan sebuah upaya untuk membebaskan manusia dari belenggu nafsu duniawi, hal ini karena adanya nilai-nilai ruhani yang akan membentengi diri saat menghadapi persoalan kehidupan modern yang lebih condong pada sikap hedonistik dan materealistik.

SQ, EQ dan IQ
Menurut asumsi penulis bahwa, ketiga konsep yang dirumuskan oleh Ary Ginanjar ini memiliki keterkaitan yang cukup erat dengan penjelasan K.H.M Hasyim Asy'ari diatas, tentang kewajiban untuk mempelajari ke empat ilmu tersebut, yang salah satunya ialah Ilmu tasawuf.

Ketiga rumusan ini dalam istilah Ary Ginanjar sebagai Meta kecerdasan, Spiritual Quotient (SQ), Emotional Quotient (EQ) dan Intelektual Quotient (IQ), dalam pemahaman penulis ketiga ini saling berkaitan serta saling mengisi.

Dalam penjelasan Ary Ginanjar bahwa esensi dari ketiga rumusan diatas ialah Olah fikir, olah rasa dan olah hati, Ketiga hal ini merupakan satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan agar kita jadi manusia paripurna, Kalau olah hati saja kita akan jadi sufi (SQ), Kalau olah rasa saja kita akan jadi pujangga (EQ), kalau olah fikir saja kita akan jadi ilmuwan.(IQ).

Oleh sebab itu, perlunya perpaduan ketiga hal tersebut guna menciptakan kehidupan yang ideal, serta dapa merealisasikan tujuan penciptaan.

Jikalau digambarkan Titik pusat adalah SQ, lingkaran kedua adalah EQ, lingkaran luar adalah IQ. Semua lanksana tarian sufi yang sedang berdansa.

Gambaran sederhana mengenai cara kerja meta kecerdasan ini ialah tauhid (SQ) akan mampu menstabilkan amygdala (sistem saraf emosi), sehingga emosi selalu terkendali (EQ), emosi yang terkendali akan menghasilkan optimalisasi pada fungsi kerja god spot pada lobus temporal serta mengeluarkan suara hati ilahiah dari dalam bilik peristirahatannya, pada momentum inilah, seseorang dikatakan memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi, barulah dilanjutkan dengan mengambil langkah konkret lainnya berupa penghitungan yang logis (IQ), sehingga intelektualitas bergerak pada manzilah atau garis edar yang mengorbit pada allah yang esa, (ary ginanjar, 2003 : 218).

SQ sebagai modal sosial
Ajaran spiritual atau tasawuf ini dapat menjadi modal untuk bertindak secara aktif, Sehingga kita dapat terlibat dalam menyelesaikan permasalahan yang ada.

Penulis menganalogika konsep meta kecerdasan ini seperti seorang nelayan yang pergi memancing, perahunya ialah SQ, dayung nya ialah EQ dan alat pancingnya ialah IQ. Nelayan tersebut akan mendapatkan ikan apabila ketiga hal ini saling mengisi, bayangkan apabila Ia hanya memiliki perahu dan dayung, namun tidak memiliki Alat Pancing, tentunya Ia tidak akan mendapatkan ikan, begitupun sebaliknya apabila ia memiliki alat pancing dan dayung namun perahunya bocor, tentunya Ia akan kewalahan, anatar mengurus perahu yang bocor atau memancing.

Dalam pengertian lain, kesatupaduan antara SQ dan EQ dapat melahirkan pribadi yang berintegritas dan dapat mempergunakan IQ secara proporsional sehingga dapat menciptakan sebauah tatanan social yang adil dan damai.

Spiritual Quotient atau kecerdasan spiritual ini dapat menjadi modal social apabila dipahami sebagai fondasi serta dapat menjadi dorongan untuk Melakukan hal-hal yang dapat medatangkan kemaslahatan bagi masyarakat secara luas.

Ketika menjalankan tugas kekhalifaan di bumi ini, perlu untuk memperdalam ilmu spiritual guna mencapai kecerdasan Spiritual yang maksimal sehingga dapat menciptakan pribadi yang berintegritas, memiliki prinsip yang kuat, serta tidak tergoyahkan dengan hal-hal yang bersifat materealis, misalnya : tidak gampang untuk disuap serta tidak mudah untuk melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan moral agama maupun moral sosial.

Menurut hemat penulis, para tokoh-tokoh yang menduduki posisi-posisi strategis saat ini, tidak memiliki kecerdasan spiritual atau dengan bahasa umumnya bangsa ini sedang dilanda krisis integritas, bagaimana tidak hampir tiap harinya media-media online terus memberitakan pejabat-pejabat yang melakukan kasus korupsi. Hal ini yang kemudian membuat Spiritual Quotient ini dapat menjadi modal sosial yang kuat.

Namun dilain sisi, seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa, konsep ini merupakan kesatupaduan yang tidak dapat dipisahkan.

Akhir kata, penulis berkesimpulan bahwa. Pertama, ajaran spiritual bukan hanya dijadikan sebagai pelarian  dari ketidakmampuan menghadapi tantangan serta masalah timbul di masyarakat, namun harus dijadikan sebagai modal dalam menghadai kehidupan yang diapin oleh jurang-jurang materealistis ini. Kedua, ajaran spiritual menjadi wajib untuk membentuk pribadi yang berintegritas, sehingga dapat menjalankan tugas kekhalifaan di muka bumi ini.