Menjomblo memang menjadi pilihan yang tepat bagi kawula muda yang belum siap untuk menikah dan masih sibuk dalam tahap pendewasaan. Namun aneh rasanya jika ada manusia yang lebih memilih untuk menjomblo selamanya, apalagi hal itu dilakukan oleh ulama yang sejatinya merupakan suri tauladan bagi umat Islam pada masanya. 

Sedangkan banyak manusia yang ketika telah mencapai usia dewasa, berharap dapat segera menikah dengan seseorang lawan jenis yang disukainya serta menjaga keturunan sesuai ajaran agama. Dengan demikian, Allah menciptakan manusia dengan berpasang-pasangan sesuai beberapa Firman Allah di Al-Qur’an yaitu :

  • QS. An-Nisa Ayat 22.
  • QS. An Nahl ayat 72.
  • QS. Ar Rum ayat 21.
  • QS. An Nur ayat 32.
  • QS. Al Fathir ayat 11.

Beberapa ayat tersebut menjelaskan tentang pernikahan atau dengan kata lain agar tidak menjomblo serta membangun rumah tangga dengan harapan mencegah perbuatan-perbuatan menyimpang yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.

Namun tetap saja banyak manusia yang lebih memilih menjomblo seumur hidup dengan beberapa alasan, termasuk tindakan menjomblo seumur hidup yang dilakukan oleh beberapa ulama terkemuka dengan dasar yang bisa diterima oleh akal sehat. Alasan para ulama melakukan hal yang tidak biasa itu, yakni hidup menjomblo tersebut yang dilakukan oleh beberapa ulama ialah hanyalah pribadi dan Allah saja yang tahu.

Akan tetapi kebanyakan alasan para ulama yang memilih menjomblo seumur hidup yaitu agar dapat lebih mementingkan ilmu pengetahuan daripada pernikahan.

Pada dasarnya memang menikah merupakan anjuran bagi umat Islam yang telah siap membina rumah tangga, di sisi lain menikah merupakan suatu cara untuk menyalurkan hasrat kebutuhan biologis dan juga untuk memiliki keturunan yang kedepannya dapat diharapkan sebagai regenerasi dalam berbagai hal. 

Namun pilihan menjomblo seumur hidup bagi ulama memang merupakan pilihan yang berat, karena mereka harus hidup sendiri, mengurus kebutuhan hidup mereka sendiri serta menjalani lika-liku kehidupan tanpa adanya istri bahkan keturunan yang mendampingi. 

Maka dari itu, perlu adanya apresiasi terhadap pengorbanan para ulama yang rela menjomblo seumur hidup demi ilmu pengetahuan yang berguna bagi perkembangan zaman, dan memang dari semua ulama yang memilih untuk hidup menjomblo memberikan sumbangsih terhadap ilmu pengetahuan yang digeluti bagi umas Islam pada khususnya, serta peradaban pada umumnya. 

Oleh karena itu, pilihan yang mereka pilih termasuk salah satu bentuk pengorbanan dalam mensyiarkan Islam kepada orang banyak.

Para ulama yang memilih untuk menjomblo berpikir bahwa menikah dapat menghalangi mereka dalam memperdalam ilmu pengetahuan, karena saat telah menikah, maka para ulama cenderung akan mementingkan keperluan rumah tangga sehingga memperlambat mereka dalam memperdalam ilmu pengetahuan serta menyalurkan ilmu pengetahuan tersebut kepada umat secara luas. 

Ulama yang memilih hidup menjomblo seumur hidup juga dikenal dengan kehidupan yang zuhud akan dunia, serta dikenal dengan sifat tsiqah dalam bidang ilmu yang digelutinya. Meskipun mereka tidak memiliki keturunan karena tidak pernah menikah seumur hidup, sehingga tidak adanya penerusnya, para ulama yang menjomblo seumur hidup telah mewariskan karya-karya yang sangat bermanfaat bagi perkembangan zaman sehingga mereka dikenal lewat dedikasinya bagi kemajuan ilmu pengetahuan. 

Dengan kata lain, kehidupan para ulama yang memilih menjomblo seumur hidup tidak sia-sia dengan adanya karya-karya mereka yang di dedikasikan terhadap umat. Walaupun pilihan mereka menjomblo merupakan pilihan pribadi dan juga tidak menganjurkan kepada umat Islam agar mencontoh tindakan mereka, namun yang perlu di garis bawahi ialah seharusnya umat Islam pada masa sekarang mencontoh dedikasi mereka terhadap ilmu pengetahuan sehingga umat Islam mampu memperbaiki peradaban lebih baik dari yang sebelumnya.

Beberapa ulama yang memilih menjomblo ialah Ibnu Khassyab, Abul Fattah Nashihuddin Al-Hanbali, Abdullah bin Najih Al-Makki, Al-Adib Al-Nahwi, Husain bin Ali Al-Ju’fi, Al-Imam Al-Mujtahid Abu Jakfar bin Jarir Al-Thabari, Imam Abu Bakar bin Al-Anbari, Abdul Wahhab bin Al-Mubarak, Imam Abul Qasim Mahmud bin Umar Al-Zamakhsyari Al-Khawarizmi, Jamaluddin Abul Hasan Al-Qifthi, Syekh Ibnu Taimiyah, Syekh Basyir Al-Ghazzi, dan seterusnya. Adapun dari kalangan ulama perempuan ialah Karimah binti Ahmad bin Muhammad bin Hatim Al-Marwaziyah. 

Dizaman ini, sangat sedikit yang melakukan hal tersebut, karena berdasarkan disaat ini diperlukan regenerasi dalam berdakwah, serta tuntutan zaman yang berbeda, sehingga ketika saat ini ada ulama yang lebih memilih untuk menjomblo seumur hidup, maka masyarakat akan mencercanya dengan hinaan dan tidak mau mengikuti dakwah dari ulama tersebut. Dilain sisi, pernikahan merupakan salah satu cara dalam berdakwah dan cara ini berhasil ketika Islam pertama kali menyebar di wilayah Nusantara.

Semoga dari tulisan ini, kaum muslimin mampu mengambil hikmah dari suatu sejarah serta semoga Allah SWT. memberikan rahmat kepada para ulama yang rela menjomblo seumur hidup demi kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban umat Islam.