Agar kualitas proses belajar-mengajar dapat tercapai dengan baik dibutuhkan suatu konsep hubungan guru-murid secara kualitatif. Kalimat pada awal tulisan tersebut harus dipicu, sebab pendidikan merupakan investasi kemanusiaan jangka panjang yang harus terpenuhi.

“UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) memiliki indeks integritas meningkatkan kualitas pendidikan dari pada UNKP (Ujian Nasional Berbasil Kertas Pensil)”, kata Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan  Bambang Suryadi di Jakarta, Selasa, (13/3/2018) lalu pada Harian Kompas.

Melihat kesiapan beberapa sekolah SMA/SMK di daerah NTB sebelum menghadapi UNBK masih jauh dari harapan, melihat banyak sekolah masih meminjam Laptop pada guru dan siswa,  Suara NTB, (22/3). Hal ini lantas menjadi pemicu beberapa sekolah untuk lebih siap dalam mempersiapkan sekolahnya menghadapi UNBK. Pada gladi bersih UNBK yang telah dilakukan di semua sekolah SMA/SMK di NTB menjadikan beberapa sekolah meminta bantuan pemerintah agar UNBK dapat berjalan 100 persen.

Menjadikan UN sebagai proses dan hasil akhir untuk mengukur kognitif siswa saat mengeyam pendidikan selama duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama-Sekolah Menengah Atas (SMP-SMA) merupakan hasil dari legitimasi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasioanal. Hal tersebut menjadikan acuan pendidikan era digital untuk dapat menentukan peran sekolah untuk menetukan hasil kognitif siswa.

Kultur Belajar

Membangun pendidikan pada daerah yang tingkat IPM (Indeks Pembangunan Manusia) ketiga terbawah dirasa sulit akan tercapai, kenapa? Penulis menegasikian ada beberapa hal subversif yang harus diluruskan untuk mencapai kultul belajar dan spirit siswa untuk mengejar hasil kognitif dengan menggunakan segala bentuk metode, baik melalui UNBK atau UNKP adalah hal dilematis yang masih berkutat pada hal yang politis bukan bersifat holistik.

Bangsa ini butuh grand desain pendidikan yang bermutu aplikatif dan memahami teknologi sehingga semua elemen, baik dari pemerintah pusat sampai pemerintah daerah harus saling menopang membangun spirit kultur belajar tersebut. Dalam kata lain terlebih lagi guru sebagai pendidik bukan pengajar yang hanya memberikan ceramah di dalam kelas memiliki peran lebih. Sebagai user, guru seharusnya dapat membangun kultur belajar yang kuat terlebih dahulu kepada seluruh siswa sehingga apa yang menjadi tujuan pendidikan dapat diraih.

Salah satu ungkapan filsuf asal Jerman Martin Heidegger (1889-1976) yang membuat penulis berpikir dua kali untuk menjadi pendidik yang professional adalah belajar berarti membuat sesuatu kita menjadi hakikat-hakikat yang selalu menunjukkan dirinya sendiri pada setiap saat. Dari ungkapan Martin Heidegger tersebut mungkin dapat menjadi acuan bagi semua elemen guru terlebih dahulu sebagai orang yang bersentuhan langsung dengan siswa sebagai sumber belajar. Bagaimana guru mengajar merupakan hal yang sulit dilakukan daripada menciptakan kultur belajar, karena apa yang dituntut kepada siswa dari guru mengajar adalah membiarkan siswa belajar dan bagaimana siswa dapat dibentuk spirit kultur belajar sehingga apa yang diberikan guru kepada siswa dapat diteruskan diluar kelas.

Tugas dan peran guru di era pendidikan digital tidak lagi terpaku pada hasil kognitif siswa, karena pendidikan sejatinya “usaha sadar” siswa untuk belajar. Heidegger melihat hal tersebut sebagai satu proses belajar sebagai masalah yang sangat mendesak sehingga keingintahuan siswa yang bersifat partisipatoris tadi memerlukan keterlibatan beberapaa elemen, baik itu itu Kepala sekolah, guru, teman, serta keluarga. Dengan begitu apa yang diinginkan filsuf tadi dapat diraih dengan membangun spirit kultur belajar sehingga keterlibatan penuh dari leaner tadi, bukanlah sesuatu yang dapat ditananamkan secara politis melainkan secara holistik memalui peran guru sebagai pendidik.

Guru yang Didaktis

Secara kultural di era teknologi informasi yang mudah dan gampang di ekses melalui smartphone, kita sangat jarang mendengar lagi siswa "kutu buku" yang menjadikan buku sebagai teman. Kehadiran smartphone menjadikan semua orang menjadi lebih butuh Wifi untuk mengakses internet daripada perpustakaan untuk mengakses pelajaran. Perubahan itu lantas menjadikan smartphone sebagai kawan baru bagi setiap orang, terlebih lagi siswa di sekolah. Problema ini menjadikan perubahan kultur di segala lini menjadi tersedutkan dengan kehadiran smartphone tersebut.

Padahal salah satu tindakan utama guru pada era pendidikan digital ini adalah bagaimana membuat proses belajar tidak bersifat pasif melainkan aktif. Karena siswa saat ini  membutuhkan elemen guru dan segala yang mempengaruhi tersebut menjadikan siswa lebih aktif dalam suasana belajar. Sebagai guru di era digital ini menjadikan peran guru sangat krusial dan kompleks ketika ”mengajar” di dalam kelas. Bagaimana seorang guru menggiring siswa untuk terus belajar serta dapat membimbing siswa untuk menjadikan seorang guru menjadi didaktis

Sejak diberlakukan Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, sudah seharusnya guru dapat memberikan nilai didaktis kepada siswa melalui proses belajar mengajar di dalam kelas sehingga masalah  pendidikan merupakan permasalahan guru ketika berada di dalam kelas. Permasalahannya sekarang apakah guru NTB memilki nilai didaktis?

Pada Pasal 1 Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.  Guru merupakan pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Hal tersebut menjadikan seorang guru mendapat predikat pahlawan tanpa tanda jasa, sebab, siapa sangka yang dengan keadaan sadar seorang guru memiliki tugas berat dengan mengorbankan tenaga, pikiran, dan ekonomi dengan segala kondisi dirinya secara ikhlas mendidik siswa yang bukan dari anaknya sendiri.

Prioritas Utama

Pada permasalahan lain, saat ini dibutuhkan lebih dari 900.000 ribu guru baru professional untuk mendongkrak dari 50.000 ribu  guru pensiun tiap tahunnya. Kekurangan ini membuat seluruh LPTK (Lembaga Pendidik Tingkat Kependidikan) yang ada untuk terus berbenah demi menciptakan sumberdaya guru yang dapat mengganti (pensiunan) guru professional tersebut. Sebagai posisi utama dalam mengejar mutu pendidikan, saat ini guru menjadi tenaga pendidik yang memilki nilai-nilai didaktis sudah tentu menjadi prioritas utama dari LPTK melahirkan guru professional. Dari 3 juta guru yang ada, ada sekitar 256.000 ribu guru yang akan pensiun sepanjang 2018-2020 nanti.

Maka dari itu, dedikasi guru professional yang harus didahulukan tanpa melihat dari mana asal guru tersebut. Sehingga berbagai permasalahan yang dihadapi guru seringkali mengesampingkan apa yang menjadi cita-cita luhur bangsa ini. Pemerintahan provinsi NTB (Nusa Tenggara Barat) pada era digital ini perlu memperhatikan hal tersebut, sehingga guru didaktis menjadi tumpuan utama pendidikan.

Peran pemerintah provinsi NTB dibutuhkan untuk segera memikirkan langkah strategis bersama elemen sekolah, baik itu guru, dan peran keluarga dalam membangun spirit belajar siswa sehingga dapat menopang mutu pendididikan NTB. Pada kebutuhan lain, pemerintah harus membuat platform dalam kualifikasi guru sebagai tenaga pendidik professional yang memillki nilai-nilai dan sifat didaktis sehingga IPM NTB bisa didongkrak naik. Semoga!!