Ukapan  “Green Economy” itu maksudnya tetap saja melulu alam sebagai sesuatu yang harus dieksplotasi (agaknya berkesan ekstraktif) kemudian dilestarikan atau minimal berwawasan lingkungan dalam pelaksanaannya. Alasannya adalah landasan Bioetika, menyatakan dengan jelas bahwa bagaimanapun hukumnya keanekaragaman hayati di alam tetap tidak ternilai harganya. Kemudian sekarang yang terjadi adalah rame-rame ingin konservasi.

Berdasarkan pengalaman, dibutuhkan suatu kerjasama terpadu dalam pengelolaan kawasan konservasi. Kerjasama terpadu ini akan tercapai manakala ada titik temu motivasi. Selain itu, masyarakat sebagai basis utama konservasi alam merasa tidak mendapatkan keadilan dari program-program pembangunan. Ketidakadilan sosial-ekonomi menjadikan alasan utama terjadinya konflik kepentingan. Sedangkan ekonomi berkelanjutan merupakan motivasi utama masyarakat. Jadi, bagaimana menyatukan beragam kepentingan-kepentingan tersebut dalam ranah upaya konservasi alam? jawabannya adalah Wisata Ekologis atau Ekowisata.

Menurut para ahli, pengertian ekowisata adalah bentuk  berkelanjutan dari wisata berbasis sumberdaya alam (SDA) yang fokus utamanya adalah pada pengalaman dan pembelajaran mengenai alam yang dikelola dengan meminimalisir dampak lingkungan, non-konsumtif, dan berorientasi lokal (kontrol, keuntungan dan skala). Pendapat lainnya menyatakan bahwa ekowisata merupakan bentuk perjalanan menuju kawasan yang masih natural yang bertujuan untuk memahami budaya dan sejarah alami dari lingkungannya, menjaga integritas ekosistem, sambil menciptakan kesempatan ekonomi dengan konservasi sumber daya alam sehingga menguntungkan bagi masyarakat lokal. Oleh sebab itu ekowisata merupakan bagian dari cara pandang yang arif jika ingin mengkatagorikan menjadi sebuah industri atau bisnis.

Kenapa Ekowisata? Sudah jelas bahwa Ekowisata memiliki basis utama masyarakat sehingga otomatis masyarakat lokal berhak dalam mengelola kegiatan wisata di kawasan yang mereka miliki (baca “Revitalisasi Kearifan Lokal untuk Konservasi Biodiversitas Nusantara”). Musababnya, masyarakat lokallah yang memiliki pengetahuan tentang alam serta budaya yang menjadi potensi dan daya pesona wisata yang bernilai jual. Jadi, pelibatan masyarakat lokal menjadi mutlak adanya.

Bernilai jual berarti dari segi ekonomi. Terlihat jelas bahwa perlu adanya keuntungan yang didapatkan oleh masyarakat lokal dengan Ekowisata. Keuntungan tersebut meliputi berbagai keuntungan sosial-ekonomi maupun budaya serta dapat membantu mencapai sasaran konservasi lingkungan. Ditambah lagi masyarakat memegang porsi besar dari keuntungan dan memegang kendali atas kegiatan ekowisatanya .  

Apalagi bonus demografi Indonesia mestinya beiringan dengan peningkatan kaum professional muda. Masuk akallah bila mengalihkan kaum ini ke ranah konservasi alam sebagai kontribusi yang memajukan pembangunan, mengingat potensi besar ekologis Indonesia untuk Ekowisata. Bergabungnya mereka menjadi penting dalam menguatkan organisasi lokal secara kontinyu. Selanjutnya dapat mendorong usaha yang mandiri dan menciptakan kemitraan yang berkeadilan dalam pengembangan ekowisata.  

Selain itu, Masyarakat sebagai pengelola membutuhkan peran aktif organisai lokal. Selama ini kebanyakan bersifat "Community Run Tourism" sehingga dampaknya membuat masyarakat lokal tidak banyak mendapatkan keuntungan dari program ekowisata. Peran aktif tersebut menjadi sangat krusial dalam pemberdayaan mengingat kondisi SDM masyarakat di lokasi tkp

Misalnya, memberdayakan masyarakat lokal untuk lebih mengenal dan memahami permasalahan di wilayahnya, dan menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Berdasarkan kondisi tersebut maka indikator utama pada konsep penataan kebijakan ekowisata meliputi komitmen dan kesamaan visi pembangunan, pelibatan akademisi, lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat lokal dalam pembuatan kebijakan.

Penting untuk diperhatikan berkenaan dengan perencanaan wilayah ekowisata dan dampak terhadap spesies target serta ekosistemnya menilik bahwa perencanaannya masih kurang sinergis dengan program-program pembangunan di sektor lainnya. Salah satunya, Perencanaan Sistem Zonasi dan regulasinya akan membantu menjaga nilai konservasi dan keberlanjutan kawasan ekowisata.

Perlu dipertimbangkan pula adalah jumlah turis/tahun; pengaturan waktu kunjungan turis; berapa sering lokasi yang “rentan” secara ekologis dapat dikunjungi atau merentankan turis. Ambil contoh Gunung Semeru dan Lawu yang pada musim kemarau diberlakukan larangan pendakian untuk mencegah kebakaran atau memberikan kesempatan tumbuh spesies tertentu atau melereng-nya gas belerang di Gunung Ijen yang mematikan. Oleh karena itu, memperhitungkan tingkat pemanfaatan ruang dan kualitas daya dukung lingkungan kawasan destinasi ekowisata mutlak diperlukan.

Cost-benefit” memang sangat perlu diperhatikan sehingga ekowisata tidak hanya berkutat pada destinasi wisata. Beragam konsep yang bisa digunakan, salah satu contohnya mengadaptasi (REDD+). Tambahan plus dalam artian menjadikan keanekaragaman hayati dan Sustainable Forest Management sebagai pusat perhatian dalam program REDD. Dengan demikian, diharapkan ekowisata berkonsep REDD+ menjadi alat untuk  trade off dalam melestarikan alam karena bila dikembangkan dengan benar niscaya akan menjadi penghasilan asli daerah yang sangat besar. Dengan ini menjadilah jelas bahwa alasan penambangan (sebagai contoh) untuk kesehjateraan masyarakat dan sumber pendapatan daerah terbalikkan logikanya.

Logika-logika-an coba perhatikan pernyataan idealisme berikut: Target ekowisata adalah eco-sustainable antara ekonomi, sosial-budaya, dan alam. Jika eco-sustainable, maka akan optimal, tapi bukan maksimal. Karena setelah maksimal, maka akan habis, tapi bila optimal maka akan lestari atau terkonservasi. Artinya bahwa ekowisata membawa dampak positif terhadap konservasi alam plus budaya asli setempat yang pada akhirnya menumbuhkan jati diri dan rasa bangga antar penduduk masyarakat setempat akibat peningkatan kegiatan ekowisata.

Berkaitan dengan perlindungan hutan, ekowisata nyata berkontribusi pada konservasi dengan cara meningkatkan kepedulian dan dukungan terhadap perlindungan bentang lahan yang memiliki nilai biologis, ekologis dan sejarah yang tinggi. Sehingga spirit konservasi menjadi karakter dari jenis alternatif ekonomi ini secara berkelanjutan bagi masyarakat di kawasan hutan yang dilindungi. 

Bagaimana tidak, Kegiatan ekowisata selalu beriringan dengan aktivitas meningkatkan kesadaran masyarakat dan mengubah perilaku masyarakat tentang perlunya upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Akhirnya, Ekowisata harus dapat menjadi alat yang potensial untuk memperbaiki perilaku sosial masyarakat untuk tujuan konservasi lingkungan.