Kali ini, kita menghindar bicara soal politik. Kali ini kita bicara soal apa yang  disebut dengan keadaan dan kemajuan saat ini. Fenomena kekinian tepatnya. Sebuah keadaan yang diciptakan teknologi yang memiliki karakteristik disruptive.

Dengan perkembangan teknologi yang semakin memudahkan, maka banyak hal yang bisa kita lakukan juga dengan jauh lebih mudah. Perkembangan teknologi mempersempit dunia. Teknologi juga mempertemukan banyak orang sekaligus dalam satu tempat. Teknologi juga mendorong manusia untuk selalu terhubung. Meskipun pada kenyataannya teknologi hanya memassalkan dan mengintesifkan kebutuhan purba manusia itu.

Dalam konteks terhubung itu,  dengan dasar bahwa manusia pada dasarnya memiliki sifat ekshibisionis, ada kebutuhan akan perlunya menyiarkan keberadaan dalam segala suasana. Jika pada awalnya hanya dalam bentuk teks, kini berupa visual.

Dengan peralatan yang makin maju dan memudahkan untuk mengambil foto, kebutuhan untuk selalu eksis ini terpenuhi. Tidak hanya menunjukkan foto diri, tetapi segala kemungkinan yang bisa ditangkap foto. Benar, segala kemungkinan yang bisa direkam foto.

Seperti di suatu pagi dua minggu yang lalu, ketika melakukan olah raga pagi di stadion Veldrome di bilangan Rawamangun, penulis setidaknya menangkap dua kelompok orang dengan warna-warni pakaian yang menarik di layar visual.

Kelompok pertama, kebetulan semua perempuan, merupakan kelompok Yoga. Tampaknya, kelompok ibu-ibu yang melakukan kegiatan Yoga di antara waktu mengantar anak dan menjemput. Ini cukup positif sebenarnya daripada keluyuran dari satu mal ke mal yang lain.

Berbagai foto dengan beberapa gaya Yoga dan ekspresi yang sumringah diabadikan. Dalam balutan warna-warna cerah, kebetulan pink, foto pasti akan lebih atraktif. Ini selaras dengan kesenangan dasar manusia akan warna-warna yang cerah. Tidak lama, foto itu telah menembus awan.

Tidak jauh waktunya, seorang perempuan muda, lengkap dengan aksesoris lari, mulai dari topi, kaos, sepatu dan kaus kaki dengan warna-warna cerah, melakukan selfie. Menyesuaikan frame untuk menangkap suasana olahraganya, track larinya dan juga beberapa orang yang sedang berlari. Visual itu akan segera diawankan juga. Masih di lokasi yang sama beberapa orang juga melakukan hal yang sama.

Media sosial yang beragam itu menyediakan tempat lapang bagi gambar dengan berbagai format dan ukuran. Seringnya menampilkan gambar dan video diri sendiri. Juga tentang diri sendiri.

Segala sesuatu diabadaikan dan diberhentikan, ditangkap dalam sebuah frame untuk kemudian diunggah ke media sosial. Sehingga muncul sebuah adagium baru, Aku aktif di media sosial maka aku ada.

Gambar-gambar pun berhamburan. Mulai dari foto makanan hingga selfie dengan mayat orang terkasih pun muncul. Mulai dari kuku terpotong hingga bayi kucing yang baru lahir. Pokoknya, segala sesuatu yang bias ditangkap kamera.

Menunjukkkan segala sesuatu yang terjadi dengan dirinya. Menciptakan realitas yang tidak realis. Kenyataan tidak selalu seperti yang tampak di dalam foto. Pastinya itu bisa terjadi. Visual  bisa dimanipulasi. Teknologi juga menyediakan alat untuk kebutuhan itu.

Ada foto sedang belanja di mal. Sambil memegang dua baju bermerek, dituliskan caption foto, ‘mau pilih mana, yah?’. Lalu, lanjut dengan foto yang lain.

Untuk seperti ini, ada yang sudah sampai pada tahap kegilaan. Seperti pernah ada diberitakan media, seorang remaja putri yang secara teratur masuk ke mal-mal lalu mencoba baju-baju mahal dan memasang fotonya memakai baju itu di ruang pas. Hampir setiap minggu dia melakukannya. Sekedar ingin menunjukkan dirinya di tengah kemewahan, yang sebenarnya palsu.

Caption-nya bisa macam-macam. Kesan yang ditimbulkan, dia memiliki banyak uang dan juga sering belanja barang bagus. Maka mengalirlah pujian. Makin terbanglah dia dan mungkin juga melakukan kegilaan lain, yang tidak terbayangkan. Besok-besok biasa dia akan masuk ke ruang pamer mobil-mobil mahal, hanya untuk sebuah foto. Masih di media sosial, segala emosi disuguhkan lewat berbagai ekspresi.

Sedang makan malam dengan anak-anak di mal, sambil menyebut sebuah mal terkenal. Begitu sebuah caption foto yang diunggah seorang pemilik akun facebook. Padahal kenyataannya dia sedang ditraktir oleh saudaranya. Dia dan anak-anaknya. Pengunggah itu seperti menikmati kepalsuan yang disajikan lewat foto.

Di kesempatan lain, terlihat seseorang yang sibuk menunjukkan fotonya liburan di berbagai negara. Karena seringnya dia liburan tampak berbagai foto yang diunggah, seorang temannya sampai bertanya, “Kerjaan suaminya apa yah?  Kok bisa membiayai perjalanan ke Eropa yang cukup sering itu?”.

Foto lain menunjukkan sebentuk tampang di dalam mobil. Setiap hari pasti ada fotoya dengan berbagai gaya dan narasi yang beragam pula. Hingga mengantarkan anak pun harus dikabarkan dengan menyajikan sebuah foto. Terkadang ekspresi monyong menjadi kekinian. Ekspresi wajib yang kudu disajikan ke khalayak. Entah untuk apa. Ada sebentuk kebahagian di dalamnya. Mungkin.

Mencuci rambut di salon tidak lengkap tanpa foto yang menunjukkan aktivitas. Foto anak disebar untuk menunjukkan bahwa dia sayang dengan anaknya. Foto sepatu juga terpampang. Foto koleksi batu akik. Nongkrong di café. Jajan di pasar. Lagi berlari di treadmill di sebuah pusat kebugaran. Foto sedang karokean. Foto sedang naik motor besar yang memang ada di sebuah pameran. Foto bareng artis. Foto di berbagai tempat. Di bandara dan juga tempat-tempat eksotis yang menunjukkan keberadaannya.

Pada intinya setiap kesempatan, harus diabadikan. Setiap aktivitas harus diberitakan ke setiap orang, setiap waktu. Setiap saat. Jeda sehari alamat badan pegal-pegal. Ada kesenangan dalam menampakkan visual diri. Terdapat kesenangan menunjukkan kekinian diri. Tidak mengawankan foto, tidak hidup rasanya.

Mungkin jika tidak dilarang dalam konteks etika maka kita mungkin akan menyajikan juga kalau kita sakit dengan berbagai selang tersambung ke badan. Seperti yang dilakukan Setya Novanto.

Begitulah sekarang kebanyakan manusia di muka bumi ini. Sebuah kebutuhan purba yang terwujud lewat teknologi termasuk internet, smartphone dan big data dalam jangkauan setiap manusia. Kebahagian di ujung jari.

Terjangkau dari segi biaya dan juga infrastrukturnya cukup tersedia. Setidaknya di Indonesia pemakai internet hampir mencapai 80 persen dengan jumah smartphone yang melebihi jumlah penduduk. Artis-artis terkenal dibayar untuk menyuburkan praktek-praktek kebutuhan purba manusia ini.

Begitulah manusia membentuk berbagai ‘citra’ tentang dirinya yang diungkapkan lewat sebuah foto. Foto yang dialirkan setiap waktu, masuk ke ruang-ruang privat manusia-manusia di tempat lain yang terhubung dengannya.

Manusia seperti ini bisa dimasukkan sebagai kelompok spesies baru manusia, homo photographicus. Sebuah manusia jenis baru yang tidak lepas dari kegiatan selfie dan wefie. Aktivitas mengabadikan setiap detak kehidupan dan menyajikan kepada khalayak. Sudah menjadi sebuah kebutuhan.

Alasannya, sekedar mengunggah. Sebenarnya sedang mengharapkan dan membutuhkan  sebuah pengakuan. Pengakuan atas keberadaan. Pengakuan atas sebuah status yang tidak bisa dilepaskan dari keinginan untuk mendapatkan pujian dan berbagai bentuk emosi yang harus segera disampaikan ke segala penjuru bumi.

Tidak ada lagi batas-batas antara sebuah ekshibisionisme dengan kebutuhan akan menciptakan citra diri dalam rentang waktu yang singkat dan terus menerus. Ini sudah seperti kecanduan. Ini sudah lebih parah dari kecanduan akan obat terlarang.

Hingga akhirnya ada yang harus menempuh hal-hal yang membahayakan jiwa. Bahkan ada yang harus melakukan pembunuhan hanya untuk mendapatkan banyak like. Meningkatkan view. Lalu, menciptakan kemabukan tersendiri. Sebuah kekinian species manusia baru, Homo photographicus.