Speech delay adalah gangguan komunikasi yang menyebabkan anak sulit untuk berbicara. Speech delay juga dapat dikatakan sebagai keterlambatan perkembangan dalam berkomunikasi pada anak jika dibandingkan dengan anak seusianya.

Seorang anak dapat dikatakan mengalami speech delay ketika anak belum mencapai tahapan perkembangan bahasa sesuai usia mereka. Kemampuan berbicara pada anak yang mengalami speech delay dapat berkembang seperti anak seusianya, hanya saja membutuhkan waktu yang lebih lama.

Speech delay dan speech disorder merupakan 2 gangguan dalam berkomunikasi yang berbeda. Tidak seperti speech delay, kemampuan berbicara pada anak yang mengalami speech disorder tidak bisa mengalami perkembangan.

Speech delay dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu 1) reseptif, terjadi ketika anak kesulitan untuk memahami bahasa, 2) ekspresif, terjadi ketika anak mengalami kesulitan untuk melakukan komunikasi verbal, dan 3) kombinasi reseptif-ekspresif, terjadi ketika anak sulit untuk memahami bahasa dan sulit melakukan komunikasi verbal.

Sedangkan berdasarkan penyebabnya, speech delay dibedakan menjadi 2 jenis yaitu 1) primary speech delay (speech delay yang penyebabnya belum diketahui) dan 2) secondary speech delay (speech delay yang terjadi karena adanya autisme, kecacatan pendengaran, masalah perkembangan umum, atau kecacatan syaraf).

Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya speech delay pada anak. Selain penyebab yang telah disebutkan di atas, speech delay juga dapat disebabkan karena adanya faktor genetik. Sebagian besar anak yang mengalami speech delay memiliki latar belakang atau riwayat keluarga yang pernah mengalami keterlambatan bicara di masa kecilnya.

Penyebab lainnya adalah pengaruh pola asuhan orang tua seperti kurangnya kesempatan untuk mempraktekkan bahasa yang dimiliki oleh anak, penggunaan lebih dari 1 bahasa di keluarganya, orang tua yang terlalu membebaskan anak untuk bermain gawai sehingga anak lebih sering mendengar dibandingkan berbicara, atau karena orang tua yang jarang mengajak anaknya berkomunikasi.

Orang tua perlu waspada jika ketika anak berusia 2 bulan tetapi belum bersuara, belum babbling (mengoceh gabungan huruf mati dan huruf hidup), atau bahkan belum cooing sama sekali.

Parameter yang dapat digunakan orang tua untuk mendeteksi speech delay pada anaknya, yaitu ketika anak berusia 2 tahun tetapi anak belum mampu menggunakan ±25 kosakata, di usia 2,5 tahun belum mampu mengkombinasikan kata benda atau 2 frasa unik, usia 3 tahun belum mampu menggunakan ±200 kata, dan usia di atas 3 tahun ucapan anak masih sulit dimengerti.

Menurut Center for Community Child Health (2006), anak yang mengalami keterlambatan bicara cenderung sulit untuk menjaga kontak mata, memandang orang atau melihat orang hanya dengan waktu yang sebentar, jarang menggunakan gerakan simbolik seperti melambaikan tangan, dan sering bergumam atau mengeluarkan kata yang tidak jelas seperti bayi.

Diagnosa atau tanda lain dari anak yang mengalami speech delay juga dikemukakan oleh Early Support for Children, Young People and Family (2011), diantaranya adalah anak kurang/tidak merespon terhadap suara, anak sulit memahami perintah dan perkataan orang lain, anak tidak tetarik untuk berkomunikasi, perkataannya sulit dimengerti, dan sebagainya.

Setelah mengetahui pengertian, penyebab, dan ciri dari speech delay, orang tua juga perlu mengetahui tips dan trik penanganan speech delay. Pengetahuan tersebut dapat dijadikan sebagai sumber edukasi bagi para orang tua yang hendak memiliki anak, sudah memiliki anak yang sedang latihan membaca, atau orang tua yang anaknya sedang/curiga mengalami speech delay.

Langkah awal yang dapat dilakukan untuk membantu menangani anak yang speech delay adalah dengan memberikan kesempatan anak untuk mengemukakan pendapat, sering mengajak anak berkomunikasi atau bernyanyi, memberikan batasan waktu dalam bermain gawai, menanggapi dan membenarkan kalimat serta ejaan anak yang kurang benar.

Speech delay dapat berpengaruh pada kepribadian anak, seperti cara bersosialisasi anak dan akademis anak. Beberapa orang tua yang memiliki anak penderita speech delay mengalami kecemasan berupa kekhawatiran terhadap masa depan anaknya, kekhawatiran finansial yang harus dikeluarkan, ataupun kerepotan lain.

Namun, berdasarkan data hasil penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Negeri Semarang, kecemasan orang tua terhadap anaknya yang mengalami speech delay tergolong rendah. Artinya, orang tua tidak merasa gelisah, khawatir, maupun kebingungan karena mereka dapat mengatasi permasalahan tentang anaknya yang mengalami speech delay.

Dari informasi yang telah disebutkan di atas, para orang tua diharapkan mampu lebih memperhatikan kondisi dan perilaku anaknya agar dapat mendeteksi kemungkinan adanya speech delay lebih awal. Apabila terjadi gejala speech delay pada anak, segera lakukan langkah penanganan awal atau bawalah anak ke terapis untuk mendapat pertolongan lebih tepat.

Tips untuk menangangi dan mencegah terjadinya gangguan keterlambatan komunikasi (speech delay) pada anak adalah rajin untuk mengajak anak berkomunikasi dan beraktivitas bersama sehingga anak memiliki kesempatan untuk mengekspresikan bahasanya.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa speech delay disebabkan oleh beberapa hal, baik secara internal maupun eksternal seperti kurangnya peran orang tua dalam pengasuhan anak. Anak yang mengalami speech delay cenderung sulit untuk mengutarakan bahasa lisannya secara jelas dan sulit fokus terhadap orang lain.