Atau, nah ini dia, ada Jalan Soto.

Bertandang ke Surabaya, lalu jalan-jalan keliling kota pas pagi hari menyapa, itu adalah kegiatan yang terhitung berolah raga.

Tak bakal terasa lelah melangkah kaki berlama-lama, meski menempuh berkilo-kilo meter jauhnya, di kota yang berlambang ikan predator utama lautan, Sura dan reptil raksasa predator di sungai juga rawa, Baya.

Cerah biru langitnya, bersih kotanya, ramah pejalan kaki pedestriannya, ramah egaliter karakter orang-orangnya dan tentu, enak-enak kulinernya.

Ciri-ciri jalan raya di kota yang pada musim panas bisa mencapai suhu hingga 45o C ini, sangatlah lebar, besar dan panjang. Wow! OMG.

Namun demikian, berjalan kaki sepanjang jalan kota Pahlawan yang pernah membuat bala tentara Inggris kewalahan menghadapi keuletan pejuang kemerdekaan pada 10 Nopember 1945 ini, tak terasa letih dan sumpek karena lalu lalang kendaraan.

Laju kendaraan bermotor tertata rapi, nyaris tanpa ada kemacetan tiap harinya. Karena selain tipikal jalan yang Wow! OMG tadi, juga perilaku berkendara para warga.

Sejauh ini, tata tertib berlalu lintas yang ditunjang kondisi jalan raya serta rambu-rambu yang memadai, maka kota Surabaya adalah terbaik dibanding kota-kota lainnya di Indonesia.

Itu pendapat dan hasil pengamatan saya yang sempat berkeliling Indonesia.

Bahkan, jika ada pejalan kaki yang melenggang santai hendak menyebrang jalan yang Wow! OMG, maka tak perlu khawatir, nggak usah panik, nggak perlu beraksi kepak-kepak telapak tangan kayak mau terbang, selayaknya kebanyakan pejalan kaki di kota-kota lain, yang hendak menyebrang.

Namun, cukup pencet bel yang tersedia di sebuah tiang lampu bangjo yang tersedia di pinggir jalan, tepat sebelum lajur penyebrangan, zebra cross.

Sekian detik kemudian, lampu merah menyala, pengendara yang kebanyakan mematuhi kecepatan maksimal dalam kota yakni 40 km/jam, bakal langsung memelankan laju lalu berhenti memberi kesempatan bagi si pemencet bel, menyebrangi jalan Wow! OMG itu.

Sekira 10 detik, cukup bagi penyebrang untuk meniti zebra cross dengan tenang, nyaman dan aman. Bahkan bila perlu bisa sejenak foto selfi, swafoto di tengah zebra cross. Terus diklaksonin sama pengemudi kendaraan yang lagi khidmat berhenti.

Meski tak ada kesan sejuk hawa, namun berjalan-jalan pelan tak tergesa pun membuat saya nyaman menikmati kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta ini.

Tak terasa saya tiba di poros jalan Imam Bonjol. Tentunya, sebuah jalan protokol karena mengangkat nama pahlawan. Di banyak kota lainnya, nama-nama pahlawan besar juga sekaligus menjadi nama-nama jalan besar.

Perihal nama jalan, maka sering kali menggunakan jalan nama-nama pahlawan agarlah kita selalu mengingat jasa-jasa mereka bagi bangsa dan negara. Nama-nama jalan bunga-bunga juga untuk perumahan-perumahan besar di tengah kota.

Demikian halnya dengan nama-nama gunung atau pulau-pulau di Indonesia. Ada pula nama-nama buah, yang mirip dengan nama bunga, biasanya buat jalan-jalan dalam perumahan. 

Bahkan, nama umbi-umbian juga menjadi sebuah nama jalan di Ibukota. 

Di kawasan Jakarta Selatan dekat area lapangan sepak bola Blok S, ada serial jalan bernama Birah. Sejenis umbi yang mirip Keladi tapi ukurannya lebih besar. Ada sekitar 6 seri jalan Birah. Mulai Jl. Birah I sampai VI.

Uniknya, nama jalan Birah tertulis huruf kapital besar-besar, seperti Jl. BIRAH I, terbaca jalan Birah Pertama. Akan tetapi, karena dari kejauhan seolah huruf H dan I berdempetan, maka sering khilaf jadi terbaca; Jalan Birahi.

Menariknya, belum ada nama masakan atau jajanan di jalan-jalan kota di Indonesia. 

Padahal nama-nama masakan menjadi nama jalan, itu juga penting. Agar warga bisa memaknai kuliner sebagai penambah khazanah petualangan cita rasa yang berujung ke sensasi rasa yang membahagiakan.

Ada Jalan Rawon kek.
Ada Jalan Rendang, gitu sip kali ya?
Ada Jalan Sate, biar kebayang aroma sate sepanjang perjalanan.
Ada Jalan Lodeh, gitukan out of the box.
Ada Jalan Pecel, biar orang sejagat raya tau kalo Indonesia juga punya salad sehat.
Ada Jalan Es Dawet, biar memberi sugesti segar di tengah iklim tropis.
Ada Jalan Lontong Balap, supaya ada kesan persaingan sehat meraih prestasi.

Atau, nah ini dia, ada Jalan Soto.

Menyusuri jalan lebar berhias pepohonan palem yang menjulang di sepanjang jalan Imam Bonjol Surabaya di dalam perumahan yang besar-besar, kaki saya tiba-tiba berhenti demi membaca tulisan;

'Soto Ayam Imam Bonjol. Halal, Sehat, Alami, Berkelas.'

Kedua kaki saya berhenti bukan karena letih lelah, namun memberi kesempatan pikiran saya loading berputar-putar.

Soto Halal. Oke, sudah umum itu.

Soto Sehat. Oke lah, asal diimbangi jeruk nipis sama sering jalan kaki.

Soto Alami. Yaa oke lah, karena saya belum pernah nemu soto yang sintetis. Mungkin maksudnya adalah bahan-bahan utama yang alamiah.

Soto Berkelas. Nah ini, yang membikin pikiran saya berputar-putar tak henti-henti.

Berkelas bagaimana? 

Apakah tempatnya? Nggak juga, karena warung mepet tembok kusam, sederhana.

Tampak Depan Warung Soto Berkelas di Jalan Imam Bonjol Surabaya.

Teruuus pikiran saya memutar, ditambah semerbak aroma soto nan menghimbau, membuat kedua kaki saya yang tadinya sudah saya setting untuk jalan lurus mentok, menjadi berbelok kanan menuju ke warung soto itu, demi menggali sebuah jawaban apa makna kalimat 'Berkelas'.

Seorang pria berusia 70-an tahun, tampak ramah menyapa dan mempersilakan saya duduk lalu memesan hidangan.

Di dalam warung, meja dan kursi bangku kayu panjang tertara rapi dan bersih. Pekat aroma soto ayam yang berpadu dengan perasan jeruk nipis, juga adukan teh dan kopi panas, mendominasi aroma-aroma minor lainnya.

Setelah cuci tangan, lalu duduk, segera saya memesan seporsi soto sama jeruk nipis panas.

Sambil menunggu, tangan saya gerayangan mengambil segelas plastik air mineral dan membuka seplastik krupuk rambak buat ngemil dan menghilangkan dahaga setelah sekian ratus meter menyusuri jalan Wow! OMG.

Lha iya, jalan kok disusuri, kayak lagi nginang ya?

Pesanan telah tiba!

The Soto has landed!

Semangkok soto ayam yang kuahnya meluber hingga ke tepian, nyaris tumpah sedikit ke meja.

Untung saya cekatan, ikut bantu mas-mas penyaji agar sekian mililiter kuah soto tak terbuang, eman-eman.

Kepulan asap kuah soto yang masih panas seolah mengobrak-abrik syaraf-syaraf indera penciuman saya. Menampar-nampar, menekuk-nekuk, melinting-linting, berhenti sejenak, terus dijembrengin lagi.

Wujud dan Penampakan Semangkok Soto Berkelas Benar-Benar Menggugah Selera Bagi Petualang Cita Rasa Soto.

Aroma soto yang sungguh aduhai memikat, membuat saya tak sabar menuang poya juga sambal, tapi nggak saya aduk. Terus saya foto sebentar ini semangkok soto, lalu saya ambil sedikit kuah panasnya lalu tak seruput pelan-pelan.

Nyoz! 

Syaraf cita rasa saya langsung kejet-kejet kesetrum.

Berlanjut, saya sendok nasi yang sengaja saya campur kuah soto biar bumbu-bumbunya merasuk menembus pori-pori setiap upa, butiran-butiran kecil nasi.

Saya campur sedikit sama sambal juga poya yang tengah mengambang, terus saya suap sendiri ke dalam pintu rongga cita rasa, yaitu mulut saya.

Nyozz!!

Kali ini z nya ada dua, tanda serunya juga dua. Tambah kejet-kejet syaraf-syaraf cita rasa saya. Tapi saya tetap tenang, jaim, biar nggak keliatan kalo batin saya lagi kejet-kejet keenakan.

Krupuk rambak saya tuang ke dalam soto, biar mlempem sambil bunyi 'krisik-krisik' pelan. Lalu saya sendok, campur sambal sama poya sedikit, kali ini saya lelehin kecap sedikit. Saya suap diri saya sendiri lagi.

Saya percaya perbuatan saya tak melanggar hukum, karena saya menyuap diri sendiri dengan penuh kesadaran. 

Hak! hak! aem!

Nyuozz!!

Sekarang, z nya tetep dua, tanda seru tetep dua, tapi ada tambahan u, sebagai penggaris bawah lengkapnya cita rasa soto ayam yang tengah saya hadapi kali ini.

"Beh, beeh ... piye ki? Wis jan og."
Ucap saya dalam hati, berlogat ala Kediri, kota tempat saya menumpang lahir.

Tambah suwal-suwel saya menikmati soto ayam jalan Imam Bonjol ini, tanpa peduli lagi berapa kali Nyazz! Nyozz! Nyazz! Nyozz! saya rasakan. Saya biarkan saja batin saya bolak balik kejet-kejet keenakan, ben kuapok mu kapan.

Semangkok soto ayam telah tandas. Langsung mengkilap bersih mangkoknya, seolah tanpa perlu dikorahi lagi. Saya pun bersandar ke dinding tembok, meneguk pelan jeruk nipis yang menghangat dari panas diawal suguhan, sambil memaknai apa itu soto 'Berkelas'.

Sempat bersendawa ringan, sambil menutup sedikit area bibir saya memakai kepalan tangan kanan, biar tampak sopan, saya pun beranjak dari bangku panjang.

Saya penuhi kewajiban membayar tagihan hidangan. Karena niat awalnya cuman jalan-jalan, maka saya bawa uang sekedar buat jaga-jaga.

Eh bener. Jaga-jaga kalo mendadak ketemu warung soto ayam Imam Bonjol ini.

Mau mbungkus buat bawa pulang, saya batalkan. Soalnya, buat dana pulang pesan ojek online-nan. Saking kenyang dan sotonya berkelas keenakan, saya nggak kuat lagi jalan-jalan.

Nanti lah tak ajak keluarga kapan-kapan. Lagipula, soto itu enaknya dinikmati bareng-bareng, pas kuahnya terhampar panas setelah barusan dituang ke dalam mangkok.

Pak H. Suparman pemilik warung Soto Berkelas, sosok pengolah Soto khas Surabaya yang bagai pelita, selalu menebar cahaya, agar setiap pengunjungnya bisa meraih cita rasa bahagia.

Uang kembalian saya terima.
Wah! Buat ongkos ojek online masih kurang, ternyata.

Saya mencoba tenang. Toh nanti bisa dibayar di rumah, itu uang kekurangan.

Lalu, selama dibonceng menyusuri jalan Wow! OMG, pikiran saya terus loading berputar-putar. Cari-cari alasan.

"Nyam."

Baca Juga: Mie Ayam Lek Sun