Matahari telah datang menyibak kemegahan kota Charlotte, Carolina Utara, pagi itu. Sebahagian sinarnya menembus dinding kaca kamar apartemen milik Bryan, yang masih berada di atas tempat tidurnya.

Perlahan, ia membuka mata, raut wajahnya pun seolah menahan sakit. Ia lalu memijit pelan kepalanya sendiri. Ada perasaan aneh mengusik benaknya, "Bukankah saya sedang berada di sebuah bar di pusat kota? Siapa yang membawaku pulang?"

Ia tidak sempat mengingat bagaimana akhirnya bisa kembali ke penginapan. Semalam, Bryan mabuk berat seusai menenggak wiski hingga tak sadarkan diri.

Matanya mencoba menjelajahi seisi kamarnya dan berupaya melihat lebih jelas setiap benda yang ada di sana. Tirai penutup jendela masih terikat rapi di setiap pinggiran jendela membuat cahaya lebih leluasa menyelinap masuk.

Sungguh berat baginya untuk terbangun dikarenakan efek alkohol masih kuat berpengaruhi sistem saraf dalam kepalanya. Tetapi pekerjaan mengharuskannya segera bergegas menuju kantor lantaran jadwal meeting telah menantinya.

"Huh." Bryan membuang napas berat dan meniup ujung hidungnya saat melihat Jam di samping rak buku telah memasuki pukul 07.20 AM. Ia berusaha bangkit dan menanggalkan selimut flanel bermotif taburan bintang yang membungkus tubuhnya.

Di Kota itu, Bryan hanya tinggal sendirian di kamar apartemen. Kedua orang tuanya berada di Indonesia. Hanyalah urusan pekerjaan mengharuskan dia harus berpisah dari keluarga besar dan meninggalkan tanah air.

Bryan Dicky Marcendo(31), seorang pengusaha muda kelahiran Jakarta, kini melanjutkan bisnis tekstil ayahnya di Amerika Serikat.

Sebagai pemegang jabatan inti (Presiden Direktur) selama 6 bulan terakhir, ayahnya patut berbangga oleh kemampuan Bryan dalam mengolah perusahaan. Ia cukup mampu mengatasi persaingan bisnis yang ketat di kota itu.

Saat berada di dalam kamar mandi, ia sejenak memandang dirinya pada cermin wastafel. Ia kehilangan gairah untuk beraktifitas tetapi pekerjaan tidak mungkin di batalkan begitu saja sebab, agenda kali ini menjadi penilaian tersendiri bagi ayahnya melihat profesionalismenya mengurusi perusahaan.

Selesai mengguyur tubuh, ia merasa sedikit membaik. Bryan bergegas merapikan diri, tak lupa menyemprotkan parfum beraroma grapefruit di tubuhnya lalu mengemasi dokumen kantor.

Bryan kemudian melangkah keluar  menuju lantai paling bawah, tempat Mobil Porche Payman berwarna orange miliknya terparkir. Sekejab, ia langsung melaju meninggalkan apartemen. Walau masih belum meyakinkan diri untuk memulai agenda pembukaan anak perusahaan dalam keadaan kepala yang masih pening.

Dengan berburu waktu melewati padatnya Kendaraan di pusat kota, Bryan masih di selimuti tanya tentang siapa yang membawanya pulang. Sebab, tidak seorang pun yang ia kenal di bar malam itu. Lamunannya pun terhenti kala mendengar handphone berbunyi dalam saku celananya.

"Selamat pagi, sayang. Minggu depan aku ingin wisuda. Ku harap kamu datang."

Sebuah pesan singkat dari Renata, kekasihnya itu menyampaikan kabar bahagia. Bryan lalu menyunggingkan senyum kemudian membalasnya dengan singkat;

"Iya, sayang, iya. Akan saya upayakan!"

Bersama gadis keturunan  indo- China itu, Bryan telah menjalani hubungan jarak jauh dikarnakan Renata melanjutkan gelar magister kedokteran di salah satu kampus ternama di Australia.

****

Rapat yang di pimpin pagi itu berjalan lancar dan rencananya 5 hari kedepan, Bryan akan mengecek lokasi penempatan perusahan baru yang akan segera di kelola. Saat tengah berkutat dalam ruang kerjanya, pesan singkat kembali masuk.

Mengetahui pesan itu bukan dari Renata, kekasihnya, senyumnya perlahan kembali surut.

"Hi ... I'm Tasya, last night you looked very drunk. I am the one who brought you home. I found your address from a business card in your pocket."

Bryan mulai mengernyitkan wajah seiring rasa penasaran semakin menimpa bantinnya. Ia sama sekali tidak memiliki kenalan bernama Tasya di kota itu.

"Apa dia (Tasya), teman SMA saya dulu? Ahh.. mana mungkin!"

Bryan tidak percaya  jika wanita itu  adalah sahabat lamanya semasa SMA di Jakarta dahulu. Dan juga tidak yakin jika dia berada di negara yang sama.

Memang, ia memiliki teman sekelas bernama Tasya, tetapi semenjak mereka tamat hingga selesai kuliah, mereka tak lagi saling berhubungan karna masing-masing di sibukkan oleh dunia kerja. Apalagi sebagian besar teman-teman sekolahnya dulu telah menikah hingga sibuk mengurusi keluarga.

Hari kian kembali padam, Bryan kala itu telah berada di apartemennya setelah seharian penuh menjabarkan proyek besar yang akan segera di bangun kepada internal perusahaan.

Ketika beristirahat sambil menjulurkan kaki, ia menatap jauh kerlip cahaya kota di balik jendelanya. Terbesit dalam hatinya untuk menghubungi wanita misterius itu melalui video call.

"Tutt.. tutt.. tutt."(Suara handphone berbunyi). "Hei.. Bryan, How are u?, Apa sudah membaik?" 

Dengan gaya bahasa menyerupai artis  Cinta Laura, Tasya, melontarkan tanya di balik layar.

"Hah. Tasya.. kamu Tasya kan." Bryan bertanya heran, ternyata dugaanya benar. Tasya teman SMA-nya dahulu yang menolongnya di bar malam kemarin.

"Kamu tinggal di mana? Kok bisa berada di bar malam itu?" Tanya Bryan dalam tumpukan rasa penasaran di benaknya.

"Hehe. Tenang, sob. Nanti aku jawab semuanya. Di sini, aku tinggal di Gastonia. Kalau kamu ada kesempatan, kamu bisa datang di restoranku." Seru Tasya.

Akhirnya Bryan dapat bernafas lega setelah mengetahui sosok wanita misterus itu. Dalam pembicaraan singkat, Tasya mengaku saat ini menggeluti bisnis kuliner. Semenjak ibunya meninggal, dia memutuskan menetap di  negara kelahiran ayahnya.

****

Setelah pesawat yang di tumpanginya baru saja mendarat di Bandara Internasinal Camberra, Australia. Bryan mulai berjalan keluar sembari menanti kedatangan kekasihnya menyambutnya di sana.

Dari jauh, Bryan melihat seorang wanita sedang melambaikan tangan sambil menempelkan bokong pada pintu mobil sport berwarna kuning terang. Ia mencoba menebak  jika wanita itu adalah Renata.

"Kamu tambah cantik sekarang." Bryan melontarkan pujian pada kekasihnya setelah mereka berhadapan. Kaca mata hitam yang di kenakannya tidak mampu menghalangi kekaguman akan paras kecantikannya itu.

Setelah berbincang singkat, mereka pun bergegas meninggalkan kebisingan  bandara.

"Saya menginap di hotel aja yah?" Pinta Bryan pada kekasihnya saat mobil itu melaju cepat menuju pusat kota Camberra.

"Terserah kamu aja. Kalau tidak ingin menetap di apartemenku. Hehehe."

"Malam ini, aku ingin menghabiskan malam bersamamu, sayang." Kata Bryan dengan tatap mata membujuk pada Renata.

Renata hanya mampu membalas dengan anggukan kepala dan berusaha kembali fokus menyetir mobilnya.

***

Dalam kamar hotel, mereka saling menuntaskan rindu yang selama ini terpendam cukul lama hingga keduanya hanyut dalam pelukan hingga larut malam. 

Tiba keesokan hari, Bryan mendampingi pujaan hatinya itu ke kampus tuk merayakan hari kelulusan. Hari itu, Bryan turut mengungkapkan niat baiknya pada Renata, bahwa dirinya ingin segera melamarnya.