75481_59274.jpg
KH. Ma'ruf Amin
Sosok · 2 menit baca

Sosok Ulama Pelengkap Kepemimpinan Jokowi

KH. Ma’ruf Amin merupakan calon wakil presiden yang akan mendampingi Jokowi pada pemilu 2019 mendatang. Banyak pihak yang tercengang dengan manuver politik yang diambil oleh pihak Jokowi. 

Namun peminangan Ma’ruf Amin bukan tanpa pertimbangan dan strategi. Ma’ruf Amin merupakan tokoh berpengalaman di berbagai bidang, bukan hanya agama, tapi juga politik dan ekonomi.

Ulama sekaligus politisi kelahiran 1943 silam ini telah mengenyam pendidikan Islam sejak kecil hingga remaja. Beliau pun berasal dari keluarga berbasis ulama, merupakan cicit dari Imam Masjidil Haram, Syaikh Nawawi Al-Bantani, dan anak dari ulama besar Banten Mohammad Amin.

Seimbang antara Pendidikan Agama dan Formal

Ma’ruf Amin mengenyam pendidikan sekolah dasar di Madrasah Ibtidaiyah Kresek, Tangerang, kemudian berhijrah ke Jawa Timur dan melanjutkan pendidikan menengah dan tingkat atas di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Pada tahun 1967, beliau lulus dari Fakultas Ushuluddin Universitas Ibnu Chaldun, Bogor, Jawa Barat.

Menyandang sebutan Kiai, Ma’ruf Amin memiliki citra kiai zaman dulu yang tidak lazim mendapatkan gelar akademik hingga profesor, karena mereka memang tidak begitu memedulikan urusan teknis akademik. Kiai lebih sibuk dengan melayani umat. Walaupun kiai melakukan proses pengembaraan ilmu begitu panjang, tetapi itu dilakukan tanpa predikat dan ijazah formal. 

Namun hal ini berbeda dengan Ma’ruf Amin yang juga memperoleh gelar Profesor bidang ekonomi syariah dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Magribi, Malang. Hal ini menunjukkan keahlian Ma’ruf Amin di bidang ekonomi dan pemahaman selain terkait ilmu agama.

Berpengalaman Lengkap

Selain sebagai ulama, Ma'ruf memulai karier politiknya sejak tahun 1971 melalui partai Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ma’ruf pernah menjadi anggota legislatif DPRD, DPR, MPR, anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Rais 'Aam PBNU, Ketua MUI, hingga sekarang sebagai anggota dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila.

Ma’ruf juga pernah mengajar sebagai guru sekolah-sekolah di Jakarta Utara, Dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Nahdatul Ulama (Unnu), Jakarta. Selain itu, pernah menjabat Anggota Komite Ahli Pengembangan Bank Syariah Bank Indonesia pada tahun 1999 hingga akhirnya memperoleh gelar honouris causa dalam bidang ekonomi syariah dari UIN Malang. Hal ini menunjukkan betapa mumpuninya Ma’ruf dalam bidang ekonomi.

Gagasan Kementerian Pondok Pesantren

Kiai dan pesantren di masa Orde Baru menjadi kelompok yang termarginalkan, karena kiai dan pesantrennya tidak mau tunduk dalam politik Orde Baru sehingga memangkas gerak langkah kiai dan pesantren karena disinyalir sebagai bagian dari kekuasaan Orde Lama. Padahal pesantren dan pondoknya mempersatukan anak-anak muda kita dari segala lapisan masyarakat. 

Anak petani, anak saudagar, anak bangsawan berkumpul di dalam pondok itu. Keadaan lahir dan batinnya mendapat bimbingan yang sama dari guru, sehingga pemuda-pemuda itu yang di kemudian hari memegang pekerjaan yang beraneka warna di dalam masyarakat

Pesantren tetap menyelenggarakan pendidikan yang khas, sesuai dengan karakternya. Kalau negara tidak mengakui, yang rugi negara sendiri, karena telah mengabaikan proses belajar anak bangsa. Pesantren juga memberikan beasiswa tidak sedikit kepada santrinya yang tidak mampu, karena biaya sama sekali tidak menjadi acuan dalam belajar di pesantren. 

Indonesia sendiri merupakan negara dengan banyak jumlah pesantrennya. Keberadaan pesantren perlu diatur secara khusus. Hal ini juga menjadi pemikiran cawapres Ma’ruf Amin untuk mengajukan pembentukan lembaga khusus yang mengatur tentang pesantren, bahkan bila perlu Kementerian ke-Pondok-Pesantren-an. Ide ini merupakan suatu hal yang bija. Karena melalui kementerian atau lembaga khusus tersebut, maka dapat semakin mempersatukan pesantren dengan nasionalisme.

Berbagai pengalaman dan latar belakang Ma’ruf Amin jelas membuktikan kematangan dan betapa bijaknya sosok ulama sekaligus politisi tersebut. Sikap dan gaya busana sederhana khas kiai juga semakin menujukkan kebersahajaan seorang pemimpin yang pantas memimpin bangsa Indonesia.