Siapa di sini yang gemar menonton Ini Talk Show di NET. TV? Kalau ada yang bertanya begitu, penulis pasti menjadi salah satu yang mengacungkan jari.

Acara bincang-bincang berselimut komedi ini adalah salah satu acara favorit penulis dari televisi Indonesia. Dalam satu paket acara, berbagai unsur komedi, pelajaran kehidupan, dan penggalian fakta berhasil dipadukan dalam kemasan yang ciamik. Lantas, apa yang membawa penulis untuk menyukai acara ini?

Triumvirat Andre, Sule, dan Nunung memang sudah lucu dari awal. Apalagi chemistry di antara tiga pelawak kawakan ini memang sudah terjalin sejak era Opera van Java. Ketika Sule/Andre membuat kelucuan dan Nunung terbahak-bahak, penonton niscaya ikut tertawa.

Akan tetapi, ada satu karakter yang membuat penulis benar-benar cinta dengan acara ini. Siapakah tokoh tersebut?

Karakter itu adalah Pak RT Bolot. Pelawak dengan nama asli Muhammad Sulaeman Harsono ini membawakan tokoh yang sudah ia perankan sejak era 90an. Dengan peci dan baju safari khasnya, ia menjadi seorang ketua RT dengan selective hearing.

"Kupingnya milih kayak TPS," tandas Sule pada salah satu episode. Pak RT Bolot hanya bisa mendengar kalau diberikan uang, makanan, kopi, atau diajak bicara oleh wanita cantik. Bahkan, beberapa wanita yang dianggap (maaf) tidak memenuhi stereotip cantik sering dibudegin olehnya.

Sehingga, pura-pura tuli menjadi senjata komedi bagi pelawak senior satu ini. Dengan ketuliannya, Pak RT Bolot bisa membalikkan umpan yang diberikan oleh pembawa acara maupun bintang tamu.

Sering kali, balasannya tidak nyambung dengan apa yang ditanyakan lawan main. "Gimana kabarnya Pak RT?" tanya Sule. "Sendiri aja," jawab Pak RT. Dampaknya, lawan main menjadi kesal dan menciptakan comedic spark baru dari kegemasan mereka.

Akan tetapi, penulis melihat ketulian Pak RT Bolot lebih dari sekadar senjata komedi. Ia adalah sebuah bentuk satire politik dari birokrasi yang inefisien. Acemoglu dan Robinson (2017) mengistilahkannya sebagai institusi ekstraktif. Dengan kata lain, institusi-institusi publik yang hanya menyedot kekayaan yang diciptakan rakyat dan mengurangi kesejahteraan umum melalui inefisiensi birokrasi. Mau bukti?

Dialog berikut menjadi enkapsulasi sempurna dari sebuah satire politik yang mematikan:

Omas: "Makanya bilangin punya temen, kupingnya dandanin tuh, rapihin! Temen begitu ditemenin aja, entar ketularan luh baru rasa!"

Vincent: "Orang kupingnya ada keepernye!"

Pak RT Bolot: "Gua mah jangan diobatin dah kuping gua mah."

Omas: "Lah ngapa emang?"

Pak RT Bolot: "Kalo diobatin duit gua ilang."

Tessy: "Mata pencaharian dia di situ!"

Keengganan Pak RT Bolot agar kupingnya disembuhkan adalah simbol dari keengganan institusi ekstraktif untuk berubah. They don't want to reform themselves. Mengapa? Sebab aliran uang yang masuk diperoleh dari inefisiensi tersebut.

Kita sering memberikan istilah pelicin, sogokan, bahkan Fadli Zon menyebutnya sebagai oli pembangunan untuk aliran uang ini. Masalahnya, praktik seperti ini sudah dianggap lumrah di negeri kita. Bahkan, banyak oknum birokrat mendapatkan mayoritas penghasilannya dari sogokan. Persis seperti yang dibicarakan Pak RT Bolot dan Tessy.

Selain menyedot kekayaan rakyat, institusi publik yang ekstraktif juga membentuk birokrat-birokrat yang tidak berorientasi pelayanan (service-oriented) dan sering mencari muka di depan atasan. Lagi-lagi, Pak RT Bolot menggambarkan tendensi ini dengan sempurna. Simak saja dialog berikut ini, ketika Presiden Jokowi menjadi bintang tamu di Ini Talk Show.

Sule: "... Nah ini nih, Pak, sering modus nih, Pak."

Presiden Jokowi: "Jadi gini Mas Sule ya, yang namanya RT, yang namanya RW, yang namanya lurah, yang namanya camat, yang namanya bupati, wali kota, gubernur, menteri, Presiden, semuanya itu harus melayani rakyat."

Sule: "Nah... Dengerin! Melayani rakyat! Ini malah kami yang melayani RT terus, Pak! Saya sudah capek, Pak. Mau dipecat juga susah mecatnya. Tuh kan betul-betul!"

Pak RT Bolot: "Begitu, Pak, heeh!"

Malah, Pak RT Bolot digambarkan sedang berusaha menarik pungutan liar dengan dalih "uang parkiran" dan "ongkos" kepada Sule sebagai warga. Baru ketika ia menyadari kehadiran Presiden Jokowi, Pak RT Bolot langsung bermanis muka. 

Bahkan, modus operandi terhadap Sule dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Bukannya melayani, Sule malah harus melayani permintaan berbagai pungli dari Pak RT Bolot.

Adegan ini menggambarkan apa yang sering dihadapi oleh banyak rakyat Indonesia. Mengurus KTP, akta kelahiran, dan berbagai dokumen penting lainnya saja harus memberikan pelicin agar cepat selesai. Belum lagi berbagai pungli yang dikenakan para oknum dalam berbagai kesempatan.

Inilah yang menciptakan high-cost economy di Indonesia. Akibatnya, biaya tinggi ini menghalangi kemajuan kita sebagai bangsa.

Maka dari itu, kalau kita mau mencapai visi Indonesia Emas 2045, kita perlu menghilangkan high-cost economy. Pemusnahan ini hanya dapat dilakukan dengan menciptakan institusi publik yang inklusif. Artinya, institusi-institusi publik yang melayani masyarakat sebagai wealth creators.

Pelayanan itu harus efisien, non-discriminatory, dan bebas dari pungli. Jika tidak, bangsa kita pasti mengalami kemunduran. Persis seperti yang terjadi di India pada era Permit Raj (1947-1990) atau Peru sebelum Alberto Fujimori.

Jadi, mau Indonesia menjadi negara maju? Sosok Pak RT Bolot menjadi peringatan satiris bagi kita semua. Jangan sampai institusi publik kita dipenuhi oleh birokrat macam Beliau, atau malah menjadi seperti Beliau. Budeg, rakus, dan bermuka dua.