Mahasiswa
1 tahun lalu · 361 view · 2 menit baca · Media 83412_14583.jpg
pixabay.com

Sosmed Jaman Now, Biang Kebencian?

Media dan Kebencian

Era global adalah era menyempitnya dunia yang ditandai dengan bermunculannya berbagai macam teknologi canggih yang kian menguasai dunia. Kebutuhan manusia yang tidak pernah tercukupi mendorong  terciptanya berbagai macam media, salah satunya ialah media sosial (medsos) yang kini menjadi tren generasi milenium.

Media sosial merupakan sebuah media daring yang memudahkan penggunanya dalam berinteraksi satu sama lain. Facebook, Instagram, Twitter, merupakan salah satu dari sekian banyak media sosial yang merajalela di dunia maya.

Kehidupan tanpa media sosial di zaman ini tak lengkap rasanya bagaikan laut tak bergaram. Keinginan dan hasrat untuk mengikuti perubahan arus, mengharuskan kaum muda bahkan kaum tua memiliki jejaring sosial dengan alasan agar lebih update atau tidak ketinggalan zaman.

Pengguna media sosial di Indonesia berdasarkan survey tahun 2017, dari 132 juta pengguna internet, 40% merupakan penggila media sosial. Angka tersebut sangatlah tinggi jika dibandingkan survey pada tahun-tahun sebelumnya.

Di zaman ini, sosial media erat kaitannya dengan tindakan-tindakan yang tidak mencerminkan etika budaya timur. Hal ini ditandai dengan banyaknya kasus-kasus yang membuat geleng-geleng kepala.

Sosial media jaman now tidak hanya dipergunakan sebagai alat interaksi satu sama lain, tetapi juga sebagai alat penebar kebencian dan ajang hujat-menghujat antara satu dengan yang lain. Contohnya saja, para kaum pembenci yang dikenal dengan sebutan haters’’. Kaum ini umumnya muncul dikarenakan kebenciannya terhadap sikap, perilaku, atau kebiasaan hidup para pemain seni (artis).

Banyak sekali ditemukan kalimat yang berisi kritikan, hujatan, bahkan hinaan yang dilayangkan para haters kepada pemain seni dengan perantara media sosial. Hal ini tentunya sangat disayangkan karena penggunaan media sosial yang disalahgunakan.

Tidak hanya pemain seni yang menjadi sasaran empuk para netizen, bahkan tokoh publik pun kerap dijadikan bahan kritikan, hujatan, bahkan hinaan. Tidak main-main, aparat polisi, TNI, pejabat Negara, bahkan presiden sekalipun menjadi ladang bagi para netizen memupuk aspirasi kebencian.

Baru-baru ini ditemukan kasus penghinaan tehadap Tentara Republik Indonesia (TNI), yang dilakukan oleh pemuda di Malang melalui sosial media instagram. Hinaan yang dilayangkan pemuda tersebut membuat geram pasukan loreng hijau.

Lebih tragis lagi, hinaan juga dilayangkan kepada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Sungguh sangat disayangkan, hinaan tersebut dilayangkan oleh remaja asal Medan yang masih berusia 18 tahun. Kicauan remaja tersebut disalurkan lewat sosial media facebook.

Penyalahguaan sosial media yang dijadikan sebagai media peyebar kebencian seharusnya menjadi sorotan di negeri ini. Fungsi positif media sosial sebagai media silaturahmi harusnya dapat diperhankan, bukannya beralih fungsi yang sama sekali tidak berfaedah.

Mengkritik boleh saja dilakukan, asalkan kritik tersebut bersifat membangun, sebagai alat intropeksi diri menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, kritik menjatuhkan yang  sama sekali tidak memiliki manfaat, harusnya dapat dibuang jauh dari bangsa ini.

Generasi  jaman now harusnya tidak dipupuk dengan dokrin kebencian, yang menjadikan generasi bangsa menjadi generasi pengecut yang hanya dapat bermain di belakang layar sebagai penabur biang kebencian.