Pandangan Karl Marx mengenai Agama salah satunya ialah dengan menuduh bahwa agama merupakan opium atau obat bius bagi masyarakat. Apapun penghiburan yang diperoleh melalui agama untuk mereka yang tertekan maupun menderita, hiburan itu hanya bersifat sementara.

Artinya agama hanya seperti obat bius yang biasa dipakai orang untuk mencapai ketenangan. Walau Ketenangan yang bersifat ilusi agar orang tetap bertahan dalam penderitaannya.

Hingga dikatakan Karl Marx, Agama sebagai candu masyarakat. Adapula Ia menegaskan bahwa agama harus dihapus karena menawarkan kebahagiaan yang bersifat ilusi.

Namun, hal yang mungkin disepelekan oleh Marx mengenai agama adalah makna-makna yang ditawarkan oleh agama untuk menjawab persoalan-persoalan universal kehidupan manusia. Agama memberikan makna pada pemeluknya mengenai kehidupan, kesenangan, penderitaan bahkan kematian.

Komunitas agama mempertahankan sistem makna yang dihayati bersama dan meneruskannya kepada individu-individu melalui berbagai kegiatan keagamaan. Oleh karena itu, makna yang ditawarkan agama  berpengaruh pada kelompok sosial serta individu.

Sistem Makna Dalam Kelompok Sosial

Menurut Peter L. Berger, sistem makna itu di satu pihak bersifat menjelaskan, tetapi di pihak lain juga bersifat normatif (Peter L Berger, 1967:29-33). 

Sistem makna dalam kelompok memberi visi keteraturan sosial yang ada di dalam masyarakat pemeluk seperti pengaturan kekuasaan dan wewenang, sistem stratifikasi, status dan peran, dan lain-lain. Visi seperti ini yang membuat sistem makna menjadi suatu legitimasi yang kuat untuk keteraturan sosial dalam kelompok.

Legitimasi adalah segala macam bentuk penjelasan yang diberikan untuk membenarkan sebuah tindakan, perilaku, atau praktik-praktik yang ada di dalam masyarakat. Tetapi, di dalam agama-agama, legitimasi itu berasal dari Allah atau dewa-dewi. 

Legitimasi-legitimasi itu biasanya diungkapkan melalui aneka bentuk seperti mitologi, legenda, peribahasa, cerita-cerita rakyat dan sejarah yang digunakan untuk membenarkan kepercayaan, kebiasaan, ataupun ketentuan-ketentuan yang berlaku di dalam masyarakat.

Bentuk legitimasi yang diungkapkan melalui mitologi dapat ditemui dalam agama Hindu dengan keberadaan kasta-kasta.  Dari kasta Brahmana yang merupakan kasta tertinggi berasal dari mulut dewa hingga kasta Sudra yang paling rendah berasal dari kaki dewa pencipta. Tugas kasta Sudra ialah melayani ketiga kasta lainnya (Lemercinier, 1981:164).

Legitimasi dalam bentuk mitologi itu diciptakan untuk memberikan penjelasan atau membenarkan stratifikasi sosial di dalam masyarakat dengan segala bentuk ketidak-adilan yang terdapat di dalamnya. 

Legitimasi-legitimasi keagamaan mempunyai kekuatan yang luar biasa, yang melebihi kesepakatan-kesepakatan bersama di dalam kehidupan kemasyarakatan, karena legitimasi itu bersumber dari Wujud Tertinggi.

Walaupun legitimasi-legitimasi pada umumnya digunakan untuk membenarkan ketentuan-ketentuan, pengaturan-pengaturan, kebiasaan-kebiasaan, atau praktik praktik yang ada di dalam masyarakat, namun terkadang, legitimasi keagamaan memberikan kritik-kritik atas kehidupan sosial yang ada.

Di dalam Kitab Suci Al-qur’an agama Islam misalnya, khususnya QS. Al-Ahzab 33:33 dan QS. Al-Fath 48:26 berisi tentang kritikan terhadap perilaku jahiliah yang berkaitan dengan tabarruj (berhias/berperilaku) dan hamiyyah (kesombongan).

Menurut Ahmad Amin, arti dari kata  Jahiliah adalah kesombongan, kemarahan dan ketidaktahuan.  Penggunaan istilah jahiliah pada masyarakat pra islam menunjukkan pada masa itu hal-hal yang menonjol dalam masyarakat adalah nilai-nilai kesombongan, kebanggaan dan ketidaktahuan.

Masyarakat arab pra-islam merupakan komunitas yang mengabaikan atau mengingkari fitrah manusia. Peperangan bertahun-tahun yang terjadi antar suku, penguburan anak perempuan hidup-hidup, penyembahan kepada berhala, serta penindasan antar kelas yang marak terjadi di kehidupan sosial mereka.

Kemudian Islam datang di tengah kondisi masyarakat yang demikian, dengan Al-qur’an dan Nabi Muhammad SAW sebagai 2 faktor utama, dalam waktu relatif singkat, Nilai-nilai Islam merubah cara masyarakat yang Jahiliah menjadi masyarakat yang beradab.

Sistem Makna Dalam Kehidupan Individu

Sistem makna pada individu bisa saja dipengaruhi oleh keluarga, teman, institusi-institusi sosial, dan masyarakat luas. Baik Individu maupun kelompok sosial menggunakan agama untuk memberi makna pada eksistensi mereka sendiri. 

Sistem makna memberikan interpretasi untuk pengalaman-pengalaman mereka dan menempatkan kehidupan manusia dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya di dalam kerangka yang lebih luas.

Sistem makna yang dimiliki oleh seorang individu memungkinkan dia mengevaluasi perbuatannya pada masa lampau dan memotivasinya untuk melakukan sesuatu pada masa depan. Sistem makna juga membuat individu termotivasi ketika ia memaknai sebuah peristiwa yang dialaminya dari ketentuan agama.

Di dalam agama Islam misalnya, sakit merupakan salah satu kesempatan bagi seseorang untuk dapat menghapus dosa-dosanya. Bisa dilihat pada hadits berikut:

“Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya.” (HR Muslim).

Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan: Abdullah bin Mas’ud pernah mengatakan, Aku melihat Nabi Saw. dalam keadaan sakit, sakitnya begitu parah.

Lalu aku berkata: “sesungguhnya engkau sedang sakit parah sekali !” Nabi Saw. bersabda: “betul, aku sesungguhnya sedang sakit dan tingkatnya seperti dua orang yang sedang sakit diantara kalian (dijadikan satu bebannya kepadaku).” Aku berkata: “Itu bermakna bahwa engkau akan mendapatkan balasan dua kali lipat?” Nabi Saw bersabda: “benar, seperti itu.”

Makna yang diberikan oleh agama diinterpretasi bagi individu menjadi sebuah motivasi dan kerelaan hati. Hal itu sangat berefek pada cara individu maupun kelompok sosial dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan mempengaruhi bagaimana cara pandang mereka terhadap dunia yang mereka pijak.

Makna yang diberikan oleh agama jelas bukanlah sesuatu yang bersifat sementara apalagi sebuah ilusi.

Makna yang diberikan oleh agama sesuai dengan definisi fungsionalnya, seperti yang dikemukakan  Clifford Geertz:

Agama sebagai sistem simbol yang berfungsi untuk menenteramkan suasana hati dan memberikan motivasi yang kuat dan tahan lama di dalam kehidupan manusia dengan menetapkan konsep-konsep atau merumuskan kepercayaan-kepercayaan tentang tatanan umum eksistensi (manusia dan masyarakat) dan membungkus konsep-konsep atau kepercayaan itu seolah-olah sebagai sesuatu yang real atau merupakan fakta sehingga suasana batin dan motivasi yang tercipta pun menjadi real. (Geertz, 1966:4).




Kepustakaan:

Raho,Bernard (2013)  Agama Dalam Perspektif Sosiologi. Jakarta: OBOR

Afif Muhammad. Dari Teologi ke Ideologi: Telaah atas metode dan pemikiran Sayyid Quthb. Bandung: Pena Merah 2004

Bincangsyariah.com