Pergaulan merupakan proses interaksi sosial yang dilakukan antar individu dan memiliki pengaruh dalam hidup setiap individu. Pengaruh dari pergaulan ini ada yang baik dan ada yang buruk. Maka dari itu dalam memilih pergaulan kita harus berhati – hati.

Dikutip dari Detik.com, terdapat dua jenis pergaulan, yaitu pergaulan sehat dan pergaulan yang tidak sehat. Pergaulan sehat merupakan interaksi bersama untuk melakukan hal – hal yang positif. Pergaulan tidak sehat mengarah pada pergaulan bebas yang akan melakukan hal – hal yang negatif. 

Dikutip dari buku Candrajiwa Indonesia Glasarium karya Budhi Setianto Purwowiyoto, terdapat 10 tips dalam memilih pergaulan yang meliputi :

  1. Memiliki akhlak yang baik.
  2. Sopan dan ramah kepada orang lain, terutama orang yang lebih tua.
  3. Saling menghargai perbedaan yang ada.
  4. Saling memahami satu sama lain.
  5. Saling memberi nasihat yang baik pada prang lain.
  6. Tidak saling berprasangka buruk.
  7. Menyadari bahwa satu sama lain saling membutuhkan.
  8. Tidak suka membicarakan aib orang lain.
  9. Tidak mudah iri dan dengki kepada orang lain.
  10. Senang membantu orang lain.

Pada era sekarang, pergaulan sosialita menjadi trending di seluruh dunia. Pergaulan sosialita teridentik dengan kaum – kaum elite dan gaya hidup yang mewah. Tidak semua orang mampu mengikuti pergaulan ini. Hanya orang – orang yang memang memiliki uang turun – temurun saja yang bisa masuk dalam pergaulan ini.

Sosialita sendiri berasal dari dua kata, yaitu social dan elite. Dikutip dari QuBisa.com, social berarti orang yang memperhatikan sekitarnya atau memiliki jiwa sosial. Sedangkan elite berarti orang yang memiliki derajat yang tinggi. Sosialita dapat diartikan sebagai sekelompok orang dengan derajat tinggi yang peduli terhadap orang lain, khususnya orang yang kurang mampu.

Akan tetapi dalam pengaplikasiannya, sosialita dikonotasikan sebagai pergaulan yang cenderung mengarah negatif. Sosialita sering diartikan sebagai sekumpulan orang elite yang suka menunjukkan kemewahannya dan kekayaannya kepada orang lain. Dikutip dalam Hipwee.com, terdapat 8 kriteria kaum sosialita, yaitu :

  1. Mempunyai background keluarga yang kaya.
  2. Memiliki penghasilan yang besar dan memiliki daya beli yang tinggi.
  3. Memiliki wawasan yang luas.
  4. Memiliki jaringan sosial yang luas dan tidak terbatas.
  5. Memiliki selera yang tinggi dan anti pada barang tiruan atau bekas.
  6. Sering traveling keluar negeri.
  7. Menjadi sorotan dan hadir dalam banyak acara penting.
  8. Peduli terhadap sesama.


Kehidupan sosialita akan berdampak pada hedonic treadmill. Hedonisme sendiri dapat diartikan sebagai pemujaan atas kesenangan dan menolak penderitaan. Dalam healthline.com menjelaskan bahwa hedonic treadmill adalah kecenderungan manusia untuk mengejar kesenangan secara terus – menerus.

Gaya hidup hedonisme yang mencari kesenangan tersebut dicerminkan melalui kegiatan – kegiatan dalam pergaulan sosialita. Menurut seorang pengamat budaya, Veven Wardhana, kegiatan pergaulan sosialita dapat meliputi arisan elite, memamerkan barang – barang mewah, bergosip, dan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan kekayaan.

Ada berbagai motif manusia melakukan kehidupan sosialita ini, salah satunya yaitu keinginan untuk menjaga citra publik dan agar dipandang tinggi. Kaum sosialita akan mengeluarkan berapa banyak pun uang hanya demi membuat dirinya dipandang sebagai seorang yang berduit.

Kaum sosialita tidak terlalu memedulikan kebutuhan melainkan memedulikan keinginannya. Dalam mengikuti trend fashion, mereka dengan enteng mengeluarkan banyak uang untuk dapat membeli barang mewah yang baru dikeluarkan. Kaum ini juga teridentik dengan barang – barang branded.

Seperti yang kita ketahui bahwa barang brended tidaklah murah. Contoh barang branded yang sering dibeli oleh kaum ini adalah tas. Harga sebuah tas saja bisa sampai ratusan juta atau bahkan sampai miliaran. Kaum sosialita tidak hanya memiliki satu atau dua tas yang mahal, melainkan mengoleksi berbagai macam tas dari berbagai brand yang terkenal didunia.

Soren Kierkegaard dengan Tahap Estetis

Berkembangnya zaman tidak luput dari penemuan hal – hal baru yang dapat menjadi sumber trend baru. Setiap orang memiliki kebebasan yang ditentukan saat dalam situasi menghadapi suatu pilihan dan mengambil keputusan. Kedua situasi ini dibahas oleh Soren Aabey Kierkegaard dalam eksistensialisme.

Kebebasan dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab dalam eksistensialisme menggambarkan keberadaan manusia dalam dunia. Salah satu tahap eksistensialisme manusia menurut Kierkegaard adalah tahap estetis. Pada tahap ini manusia ingin mendapatkan segala kesenangan dan menolak apa pun yang membatasi dirinya untuk mendapatkan kesenangan tersebut.

Kemauan manusia dalam memperoleh kesenangan ini akan mengikat dirinya untuk berfokus pada kecenderungan masyarakat dan zamannya. Inilah yang menyebabkan manusia untuk selalu mengikuti trend yang akan berdampak munculnya sifat hedonisme.

Manusia yang berada pada tahap estetis ini sebenarnya tidak tahu apa yang sungguh – sungguh diinginkannya. Apa pun yang diinginkannya dan yang dilakukannya tidak berasal dari dalam dirinya sendiri. Hidupnya hanya bergantung pada mood dan trend saja. Jika trend tersebut menghilang, manusia di tahap ini akan mengalami kebosanan dan berusaha untuk mencari yang baru.

Arthur Schopenhauer dengan Kehendak Sebagai Kejahatan

Keinginan yang dimiliki manusia mendorongnya untuk memiliki kehendak – kehendak yang mengakibatkan penderitaan terus – menerus. Kehendak yang dikemukakan oleh Arthur Schopenhauer diartikan sebagai kehendak buta. Manusia dengan kehendak buta akan bertindak menurut hukum – hukum yang berasal dari kehendaknya yang tidak disadari.

Schopenhauer berpendapat bahwa manusia pada hakikatnya merupakan representasi dan dikuasai oleh kehendak irasional. Kehendak buta yang bersifat otonom menguasai beberapa unsur dalam diri manusia, seperti akal budi, tubuh, atau kepribadian. Segala aktivitas dalam tubuh manusia merupakan hasil dari dorongan yang tidak sadar.

Kehendak buta menurut Arthur Schopenhauer diartikan sebagai kejahatan. Hidup manusia dikuasai oleh kehendak yang tidak ada batasnya, sedangkan pemenuhannya selalu terbatas. Kehendak yang tidak pernah beristirahat ini akan terus mendorong manusia untuk dapat memenuhinya. Hal ini membuat hidup manusia dipandang sebagai rasa sakit dari kejahatan yang diterima.

Manusia harus bekerja keras untuk bisa memenuhi segala keinginannya. Setelah keinginan terpenuhi, maka akan muncul keinginan baru lagi yang lebih besar. Begitu pula seterusnya jika hidup manusia tunduk kepada kehendaknya. Ini akan membuat manusia tidak akan pernah mempunyai kebahagiaan dan kedamaian abadi.

Menurut Schopenhauer, perasaan senang hanyalah tempat pemberhentian sementara dari rasa sakit. Manusia yang terus - menerus dikuasai kehendak pada akhirnya akan jatuh pada titik kebosanan. Mereka akan memandang hidup sudah tidak menarik lagi karena dipenuhi segala penderitaan dan tidak bahagia.

Schopenhauer mengatakan jika ingin hidup bahagia, maka hiduplah seperti anak - anak. Pada masa inilah akan membuat manusia belum menemukan keserakahan dari segala keinginannya dan kurangnya pemenuhan kebutuhan. Seiring bertambahnya usia, maka manusia akan memiliki segala keserakahan dari keinginannya. Mengharapkan agar kembali menjadi anak - anak merupakan hal yang sia - sia. Hidup selalu berjalan dan tidak ada alat pemutar waktu, sehingga hidup memang merupakan penderitaan.

Pergaulan Sosialita Sebagai Trend Menjadi Hedonisme

Pergaulan sosialita merupakan trend yang tidak pernah hilang keberadaannya. Manusia yang hidup dalam kehidupan sosialita menandakan mereka mencari kesenangan. Sama seperti yang dikatakan oleh Soren Kierkegaard melalui tahap estetis miliknya.

Manusia yang terikat dengan kesenangan ini akan memfokuskan dirinya pada kecenderungan masyarakat dan zamannya. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa motif seseorang berkehidupan sosialita ini agar dipandang oleh orang lain. Mereka akan membuat dirinya terpandang dan tidak diremehkan orang lain.

Hal inilah yang membuat seorang sosialita akan terikat pada masyarakat dan zamannya. Kaum sosialita juga akan selalu memperhatikan trend terbaru dalam dunia. Salah satu contoh nyata yang sering diikuti kaum ini adalah dalam dunia fashion. Fashion ini yang akan membuat derajat manusia menjadi lebih tinggi.

Fashion yang dimaksud di sini bukan mengenai keunikan berpakaian, melainkan mengarah ke barang branded. Kaum sosialita akan selalu mengejar berbagai jenis barang bermerek yang hanya sebagai keinginannya semata. Mereka tidak terlalu memedulikan kebutuhan dan juga kegunaan dari barang tersebut.

Inilah yang akan membuat kaum sosialita teridentik dengan sifat hedonisme. Seperti yang kita ketahui bahwa barang bermerek tidaklah murah. Salah satu barang bermerek yang selalu dibeli oleh kaum sosialita adalah tas. Kaum sosialita tidak akan merasa puas dengan tas yang mereka miliki, meskipun itu sudah sangat banyak.

Kaum sosialita juga terkenal dengan istilah anti barang tiruan atau barang KW. Mereka menganggap bahwa barang yang tidak orisinal akan membuat mereka dipandang rendah oleh masyarakat. Inilah yang membuat para kaum sosialita akan selalu bertekad dalam membeli barang orisinal.

Kaum sosialita dengan entengnya mengeluarkan beberapa ratus juta hanya untuk sebuah tas. Mereka akan selalu mengikuti perkembangan trend fashion dari beberapa jenis merek yang terkenal di dunia. Jika suatu merek mengeluarkan produk terbaru, maka kaum sosialita inilah yang akan berada di garis terdepan untuk membelinya.

Meskipun mereka telah memiliki puluhan jenis tas, mereka tetap akan merasa bahwa  dirinya akan tertinggal zaman jika tidak membeli model baru yang baru dirilis. Gaya hedonisme tidak terlalu menjadi masalah bagi mereka, karena mereka memiliki background keluarga yang memiliki banyak uang.

Keinginan Merupakan Kehendak Sebagai Kejahatan

Pergaulan sosialita dapat juga diartikan sebagai kehendak kejahatan. Hal ini karena dalam pergaulan sosialita memiliki kehendak untuk memenuhi berbagai macam keinginan. Sama seperti yang dijelaskan oleh Arthur Schopenhauer mengenai kehendak sebagai kejahatan.

Menurut Schopenhaur, kehendak sebagai kejahatan merupakan dorongan dari keinginan yang mengakibatkan penderitaan. Kehendak manusia tidak akan pernah habis. Inilah yang akan membuat manusia diliputi oleh penderitaan. Keinginan yang terus menerus sampai akhirnya jatuh pada situasi penderitaan dan tidak bahagia.

Manusia dengan pergaulan biasa saja sudah memiliki banyak keinginan, apalagi manusia dengan pergaulan sosialita. Keinginan para kaum sosialita ini tidak akan ada habisnya. Keinginan – keinginan yang dimilikinya merupakan kehendak buta. Mereka akan memiliki keinginan yang ada di luar kesadarannya.

Manusia tidak akan pernah puas dengan satu hal. Inilah salah satu alasan mengapa keinginan manusia itu banyak. Sama halnya dengan kaum sosialita, mereka tidak akan merasa puas dengan satu barang yang dimilikinya. Mereka pasti akan mencari barang – barang lainnya yang sesuai dengan keinginannya.

Contoh yang dapat dilihat dari kaum sosialita ini melalui dunia fashion. Para kaum hawa cenderung memiliki tingkat keinginan belanja yang tinggi. Akan tetapi ada beberapa kaum hawa yang mampu menahan keinginan belanjanya ini. Bisa dikatakan bahwa mereka mampu mengontrol diri mereka dengan sadar.

Berbeda dengan kaum sosialita, mereka memiliki kecenderungan untuk menuruti segala keinginan mereka. Seperti yang dikatakan dalam Hipwee.com dalam 8 kriteria kaum sosialita, kaum ini memiliki daya beli yang tinggi. Daya belanja yang tinggi ini akan membuat hidup kaum sosialita dalam penderitaan.

Kesenangan hanyalah menjadi tempat pemberhentian sementara. Sama seperti keinginan untuk belanja hanyalah kesenangan pada saat itu saja. Jika nantinya ada suatu barang yang baru dirilis, maka merek memiliki kehendak buta agar bisa membelinya. Inilah proses yang akan terus dialami oleh kaum sosialita.

Kesimpulan

Pergaulan sosialita merupakan pergaulan kaum elite saja. Hal ini dicerminkan dari gaya hidup kaum sosialita yang begitu hedonisme. Tidak semua orang bisa untuk memasukinya, hanya orang – orang dengan latar belakang keluarga beruang saja yang bisa menjadi bagian dari pergaulan sosialita.

Jika disambungkan benang merah antara pergaulan sosialita dengan teori milik Kierkegaard dan Schopenhaur, maka memang tepat mereka saling terkait. Dalam pandangan Kierkegaard mengenai keinginan manusia untuk mencari kesenangan dengan memfokuskan diri pada masyarakat dan zamannya ini termasuk pada tahap estetis.

Pada tahap ini manusia akan lebih memedulikan trend dalam masyarakat dan zamannya. Inilah yang akan membuat kaum sosialita menjadi sosok yang hedonisme. Kaum ini akan selalu mengikuti perkembangan suatu trend fashion. Mereka akan mengoleksi berbagai jenis tas dengan harga yang ratusan juta rupiah.

Dalam kehendak sebagai kejahatan milik Schopenhauer, keinginan manusia membuat manusia memiliki kehendak buta. Keinginan manusia tidak ada habisnya, sehingga membuat kehendak buta tidak pernah berhenti. Kehendak buta inilah yang akan berujung pada penderitaan dan tidak bahagia.

Pergaulan sosialita dengan segala keinginannya agar dipandang oleh orang lain menjadi faktor utama keinginan yang tak berkesudahan. Para kaum sosialita akan selalu menuruti keinginan mereka, tanpa memedulikan kemahalan harga suatu barang. Yang penting barang itu merupakan barang yang baru dikeluarkan dan berasal dari brand yang terkenal, maka berapa pun harganya tidaklah masalah.