Saat ini, sosialisme maupun feminisme sebagai “idea” masih dianggap suatu bahaya, dan bahkan ancaman oleh sebagian besar masyarakat negeri ini. Seolah-olah layaknya sosok hantu yang menakutkan dalam suatu kisah. Padahal kedua “idea” tersebut merupakan suatu bentuk angin segar yang perlu menjadi “the new road.”  Bayang-bayang kelamnya sejarah menjadi faktor utama yang menyebabkan kekhawatiran publik terhadap kedua “idea” tersebut, khususnya terhadap sosialisme yang selama ini menjadi momok yang menakutkan.

Namun untuk mencapai pokok pembahasan kali ini, kita akan sedikit menghiraukan pengaruh sejarah dalam tulisan ini. Bagaimanapun, baik sosialisme dan feminisme merupakan gagasan yang sangat menarik sekali untuk dipelajari.

Sosialisme sendiri berpusat terhadap gejala sosial dimana kesetaraan sosial manusia merupakan harga mati, sehingga perbedaan-perbedaan yang terdapat terhadap segala aspek kemasyarakatan mengharuskan terbentuknya interaksi yang aktif dan dinamis tanpa memandang satu sama lain berdasarkan hal-hal yang bersifat perbedaan.

Feminisme merupakan suatu prinsip dalam gerakan sosial yang pokok intinya ialah kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam segala hal. Maka dari itu feminisme bermaksud untuk menghilangkan jarak yang membuat laki-laki lebih dominan sehingga perempuan menjadi sebuah kelompok yang terdiskreditkan.

Maka dengan demikian, secara eksplisit dapat dikatakan bahwa sosialisme lebih kompleks daripada feminisme. Dan feminisme sendiri akan selalu mendapat pengaruh  yang luas dari sosialisme itu sendiri, serta sosialisme tidak mampu menjadi kenyataan tanpa adanya pengaruh dari feminisme.

Bahwa tak pernah sesuatu kelas dengan sukarela melepaskan kedudukannya yang berlebih? Ujar Karl Marx. Yang dimaksud Karl Marx dalam kelas yang mempunyai kedudukan berlebih ialah lawan dari sosialisme dan feminisme yakni kapitalisme!

Kapitalisme merupakan lawan yang sama dan harus dilawan secara bersama-sama oleh sosialisme dan feminisme. Barangkali kita telah mengetahui bahwa kapitalisme saat ini sudah menjadi “idea” mayoritas negara dan role model dalam bermasyarakat mayoritas negara di dunia, sehingga seringkali baik sosialisme maupun feminisme dianggap sebagai gerakan yang usang dan punah.

Padahal dalam nilai-nilai sosialisme dan feminisme masih memiliki harapan yang positif untuk digerakkan kembali bahkan diperbaharui untuk beradaptasi dalam kondisi zaman yang telah diakuisisi oleh kapitalisme.

Nilai-nilai yang dimaksud yang pertama ialah keberanian, dan dalam menghadapi tantangan zaman kapitalis saat ini, dibutuhkan keberanian untuk menderita dalam bahagia. Seseorang yang telah muak oleh egosentris kapitalis, ia harus membekali dirinya tentang wawasan sosialisme dan feminisme secara mendetail.

Untuk hal tersebut, pertama-tama ia harus mempelajari sosialisme dari akarnya sampai pucuk pohon, dan dalam pengembaraan tersebut, maka ia akan bertemu dengan feminisme yang menjelaskan bahwa hakikat gender hanyalah sebatas anatomi tubuh yang secara signifikan terdapat di kelamin, selebihnya yang saat ini dianggap membatasi hanyalah buah dari monopoli peradaban yang dilakukan oleh kaum elite borjuis.

Dan selanjutnya ialah pergerakan yang radikal sesuai koridor prinsip sosialisme dan feminisme secara seimbang dan tidak berat sebelah. Oleh karena itu, tanpa menghina suatu golongan tertentu, maka tulisan ini akan sedikit menganjurkan kepada para kaum feminisme yang kebanyakan ialah perempuan, untuk segera terlebih dahulu memahami sosialisme sebagai kontruks dalam berpikir dan bertindak. Dengan demikian, maka secara alam bawah sadar, nilai-nilai yang terkandung dalam sosialisme akan “merangkul” feminisme sebagai pasangan setia.

Dengan kata lain, aktivis feminisme seharusnya telah menjadi pemikir sosialisme terlebih dahulu. Seperti yang dikatakan Ir. Soekarno dalam bukunya “Sarinah” bahwa sosialisme ialah keenakan hidup yang pantas. Maka sosialisme membawa pesan-pesan kesetaraan yang di dalamnya terdapat agenda besar yakni feminisme itu sendiri. Dapat kita ketahui beberapa sejarah yang berevolusi, yang telah terjadi ialah pergerakan revolusioner seharusnya digerakkan oleh pergerakan antar golongan yang “tertindas”, bukan hanya satu golongan saja, melainkan koalisi yang mampu meruntuhkan sistem yang telah using/rusak.

Dan yang perlu disadari oleh aktivis feminisme yang pergerakannya yang terkesan “individualistis” tanpa bersangkut paut dengan “idea” yang lainnya(sosialisme) hanya akan melahirkan kesia-siaan yang tak berujung. Padahal yang perlu digaris bawahi, bahwa para pemikir sosialisme tidaklah merasa keberatan jika berkoalisi dengan aktivis feminisme dalam menyusun suatu perlawanan. Oleh karena itu, aktivis feminisme saat ini harus membuka diri dengan mengajak para pemikir sosialis dalam ruang lingkup dialektika yang sistematis dan masif.

Tentu hal tersebut dilakukan untuk mencari titik temu yang selama ini masih menghilang. Maka dengan demikian bisa dikatakan bahwa sosialisme dan feminisme tidaklah berlawanan satu sama lain, melainkan mempunyai lawan yang sama seperti kapitalisme, oligarki, sikap eksklusif suatu golongan.

Dan jika pergerakan tersebut telah terbentuk, maka kaum feminisme tidak perlu khawatir terhadap para pemikir sosialisme dengan kekhawatiran bahwa mereka akan menyerang balik feminisme tersebut, hal tersebut sangat mustahil sekali, karena sosialisme berdiri dengan akar masyarakat yang menggunakan asas “gotong royong” dan hal tersebut tidaklah berlainan dengan feminisme dikemudian hari. Sosialisme akan selalu “merangkul” feminisme sebagai ibu, anak, kawan, bahkan kekasih.

Sosialisme dan feminisme merupakan sepasang burung merpati putih. Saling membutuhkan dan melengkapi dengan sarang yang terdapat di pohon yang sama. Pohon tersebut bernama kehidupan.