Mahasiswa
2 tahun lalu · 262 view · 4 menit baca · Media 750xauto-nggak-melulu-buruk-ini-5-manfaat-baik-rokok-yang-perlu-kamu-tahu-150330v.jpg
www.brilio.net

Sosialisasi Bahaya Merokok, Cukupkah?

Belakangan ini pembahasan wacana kenaikan rokok sangat ramai dibicarakan. Tak ayal isu ini pun menjadi pembicaraan yang hangat di warung, kampus, halte, stasiun, kebun, perkantoran, sekolah, dan ditempat-tempat lainnya.

Media pun beramai-ramai menjadikan ini sebagai isu yang menjadi headline di halaman mereka. Baik media cetak maupun elektronik berlomba-lomba mengangkat isu ini sehingga isu rokok ini mejadi isu nasional. Berbagai perspektif pun digunakan media dalam membahas isu ini. Dari pemberitaan yang memakai sudut pandang ekonomi, kesehatan, dan bahkan merembes ke sektor politik.

Berselang tidak begitu lama tulisan ini ditulis, ada diskusi menarik yang diadakan oleh salah satu stasiun televisi swasta untuk membahas isu rokok ini, mereka mengundang ahli kesehatan, pejabat publik seperti anggota dpr, Juru Bicara Wakil Presiden, LSM dan beberapa mahasiswa yang ikut menyaksikan diskusi ‘hangat’ itu.

Saya bersyukur atas terselenggaranya diskusi itu. Artinya nlai-nilai demokrasi yang katanya dianut oleh negeri  ini berkembang dengan baik. Mimbar kebebasan berpendapat pun terwadahi. Ini layak kita pertahankan dan seharusnya menjadi budaya yang harus terus-menerus dilestarikan demi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.

Namun di sisi lain, saya juga menyayangkan keberpihakan media dalam menggiring opini publik demi kepentingan kelompok tertentu. Diskusi yang dipimpin oleh seorang moderator itu seakan-akan berusaha memperlihatkan betapa malangnya nasib industri rokok di negri ini. Ini terlihat dari beberapa pernyataan yang disampaikan moderator seperti “Nyumbang banyak, cukai tinggi tetapi ruang yang diberikan sempit”.

Semua orang mempunyai hak menyampaikan pendapatnya. Inilah konsekuensi hidup di negri demokrasi seperti Indonesia, tak terkecuali tentang isu rokok yang sedang hangat saat sekarang ini. Isu ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru,sudah sangat lama isu ini menjadi polemik di tengah masyarakat kita.

Namun isu ini sangat populer dan menjadi pusat perhatian beberapa minggu kebelakang, pasalnya ada satu wacana yang membuat isu ini menjadi buah bibir di tengah masyarakat yaitu adanya penelitian tentang kenaikan harga rokok yang katanya dapat mengurangi jumlah perokok.

Berdasarkan laporan online Wartawan BBC Indonesia pada 23 Agustus 2016. Wacana kenaikan harga rokok ini berawal dari penelitian studi Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Studi yang diterbitkan di Jurnal Ekonomi Kesehatan Indonesia itu mengkaji dukungan publik terhadap kenaikan harga rokok dan cukai untuk mendanai jaminan kesehatan nasional (JKN) – yang biasa dikenal sebagai BPJS.

Berdasarkan survei terhadap 1.000 orang dari 22 provinsi dengan tingkat penghasilan di bawah Rp1 juta sampai di atas Rp20 juta, sebanyak 82% responden setuju jika harga rokok dinaikkan untuk mendanai JKN. Peserta kemudian ditanyakan berapa harga rokok maksimal yang sanggup dibeli dan sebanyak 72% menyatakan akan berhenti merokok jika harga satu bungkus rokok di atas Rp50.000.

 “Dengan menaikkan harga dua kali lipat, jumlah rokok yang dikonsumsi akan turun tetapi jumlah uang yang beredar untuk rokok tetap naik. Maka pemerintah menerima tambahan uang cukai sebesar Rp70 triliun, itu cukup untuk menutup defisit JKN,” tutur penulis utama laporan itu, Hasbullah Thabrany.

Hasbullah juga mengatakan bahwa hasil tersebut konsisten dengan studi di negara-negara lain.

“Penelitian sebelumnya di Malaysia, Singapura, Inggris, Australia menunjukkan kalau orang dihadapkan dengan kenaikan harga rokok dua kali lipat maka konsumsinya turun 30%. Dalam ilmu ekonomi ini disebut elastisitas demand,” jelas Hasbullah.

Semenjak penelitian ini di publish, publik pun dibuat heboh. Banyak yang pro terhadap penelitian ini, namun tidak sedikit pula yang kontra karena berbagai kepentingan tertentu terutama para pengusaha rokok, petani tembakau, dan tentunya perokok itu sendiri yang merasakan dampak langsung jika wacana ini menjadi kebijakan resmi pemerintah. Perang argumen pun merebak di media.

Tidak cukup sampai disitu pernyataan juga keluar dari pemimpin-pemimpin kita. Salah satunya adalah Pak Soekarwo, Gubernur Jawa Timur. Soekarwo berseloroh bila ingin mengurangi jumlah perokok, caranya bukan menaikkan cukai, namun semua pabrik rokok harus ditutup.

 "Pabrik rokok  di luar negeri juga harus ditutup. Mending begitu," katanya, seperti yang terlansir dalam halaman Tempo.Co (Jumat, 19 Agustus 2016). Soekarwo menambahkan dalam halaman yang sama. "Kalau tujuannya untuk mencegah anak-anak merokok, ya tidak bisa. Seharusnya melalui sosialisasi dengan baik," katanya.

Membaca pernyataan ini, hati kecil saya bergumam dan terus mempertanyakan realita. Apakah sosialisasi bahaya rokok selama ini masih kurang gencar? Bukankah di setiap bungkus rokok terdapat peringatan bahaya nya merokok? Tmeskipun demikian kenapa perokok semakin meningkat jumlahnya? Dan sekarang yang lebih memprihatinkan adalah jumlah anak-anak yang merokok juga semakin pesat pertambahannya.

Menurut laporan republika.co.id (selasa 24 Mei 2016) berdasarkan riset Atlas Tobbaco, Indonesia menduduki rangking satu dengan jumlah perokok tertinggi di dunia. Indonesia menduduki rangking pertama dalam jumlah perokok disusul Rusia rangking kedua, kemudian Cina, Filipina, dan Vietnam.

Sebanyak dua dari tiga laki-laki di Indonesia adalah perokok. Belum lagi dana yang dikeluarkan perokok untuk membeli rokok. Jika dikalkulasikan tentu saja mengeluarkan banyak sekali uang. Sungguh mengkhawatirkan dan seharusnya ini menjadi perhatian yang sangat serius bagi kita semua.

Kembali ke pernyataan Pak Soekarwo, saya mempertanyakan sosialisasi seperti apa yang dimaksudkan? Toh, semakin ke sini perokok semakin meningkat. Padahal peringatan bahaya merokok yang terdapat di bungkus rokok juga sudah di ubah, yang awalnya sedikit ‘diplomatis’ dengan menjabarkan risiko penyakit yang di akibatkan jika merokok menjadi pernyataan yang lugas dan padat ‘merokok dapat membunuhmu’.

Menurut saya ini bukan lagi sosialisasi bahkan bisa dikategorikan ancaman. Namun pada realitanya tetap saja yang merokok tidak berkurang dan justru meningkat. Atas dasar itu, rasanya diperlukan langkah strategis untuk memutus mata rantai ‘pembunuh berdarah dingin’ ini. Hilangkan kepentingan politik dan golongan karena Indonesia membutuhkan generasi yang kuat dan bermartabat untuk melanjutkan perputaran peradaban.

Yang perlu dilakukan adalah berembuk dan melibatkan insan akademis serta seluruh pihak terkait untuk mencari sektor lain untuk petani tembakau agar berproses untuk meninggalkan tanaman tembakau. Saya menyadari ini bukanlah kerja kecil dan sebentar melainkan ini kerja peradaban yang panjang dan lama namun ini pekerjaan yang logis jika di garap dengan serius.

Bangun paradigma berpikir yang luas melampaui batas, hancurkan sekat kebobrokan paradigma selama ini. Lestarikan program pemberdayaan masyarakat yang semakin kesini makin terasa dampaknya. Bersikaplah optimis seperti untaian kalimat indah dari Anies Baswedan berikut ini.

“Bangsa ini butuh banyak orang optimis karena optimis itu sifatnya menular. Maka dari itu tularkanlah sikap optimis itu di lingkungan sekitarmu.”

Artikel Terkait