“Gimana bu?, Mau coba dulu gak?” whatsapp masuk dari seseorang yang saya baru kenal melalui komunitas di rumah. “Ini bagus banget loh, aku dah nyobain dan memang hasilnya nyata..blablabla” pada akhirnya entah rasa iba atau memang saya termakan rayuannya atau memang saya hanya ingin segera mengakhiri percakapan tersebut, saya mengiyakan membeli produk yang ditawarkan.

Tidak hanya satu sebetulnya, satu persatu orang yang saya kenal, baik tidak kenal melalui komunikasi chat menawarkan produk bahkan jasa atau bahkan meminta sumbangan. Fenomena pandemi? Bisa jadi. Mengingat dengan peraturan yang diberlakukan pemerintah setahun terakhir dan dampak ekonomi  yang terjadi membuat sebagian besar orang mungkin kehilangan mata pencaharian.

Adanya survival mode pada diri setiap manusia membuat masyarakat menjadi kreatif demi mempertahankan dapur tetap ngebul atau bisa jadi supaya tidak bosan di rumah seharian, maka dicarilah kegiatan.

Di lingkungan sekitar saya termasuk teman maupun keluarga banyak yang berjualan. Tadinya yang tidak ada tampang untuk jualan, sekarang mulai menawarkan barang, dan mempromosikan produk. Baik itu yang diproduksi sendiri misalnya makanan, maupun sebagai perantara menjual produk jadi atau ikut jaringan direct selling yang kini menjadi ramai kembali.

Keberadaan sosial media yang beragam juga ikut mendorong pertumbuhan wiraswastawan baru di kelas menengah ke bawah. Jikalau dulu untuk menjajakan satu produk, perlu mengetuk satu pintu ke pintu lain, maka kini dengan kekuatan sosial media hal yang perlu dilakukan adalah, buat postingan yang kece, cuap-cuap sedikit memberikan informasi biar sekalian eksis kemudian tayang di semua sosal media yang dimiliki.

Bisa lewat wa status, lewat facebook, Instagram maupun tiktok. Maka selama postingan menarik, tingkat jumlah like yang tinggi maka bisa dipastikan produk tersebut bagus adanya. Apalagi kalau ada selegram yang endorse maka akan semakin naik daunlah produk tersebut. Dari sisi penjual, maka mereka semakin kreatif dalam menjajakan dagangan, tetapi dari sisi pembeli ini yang harus hati hati.

Bisnis apa yang melejit selama masa pandemi ini kalau diperhatikan? Makanan sudah jelas termasuk perlengkapan memasaknya, bahkan sampai dengan kursus memasak online juga ramai di sosial media.

Kemudian, banyak yang setelah kursus mulai berjualan. Beragam bentuk dan rupanya dari yang diklaim sehat sampai dengan yang hanya pemuas lidah perasa sementara. Lalu produk kedua skin care, coba anda perhatikan di dunia maya banyak sekali skin care baru yang bermunculan.

Berada di rumah, setelah memasak apa yang bisa dilakukan? Ya merawat diri biar tidak kucel dan bau minyak goreng begitu kira-kira. Atau bentuk dari cinta diri sendiri, maka tubuh harus dirawat supaya semakin baik performanya.

Fenomena ini muncul dan menyebar karena ada ketidakberdayaan kolektif karena situasi pandemi yang memaksa individu yang biasanya bersosialisasi satu sama lain, kini harus dikurung di rumah sendiri dan dibelenggu akan kekhawatiran masa depan.

Kemudian “wabah jualan” diakselerasi oleh pesatnya sosial media dan mudahnya kita terkoneksi satu sama lain tanpa harus berada di tempat yang sama pada waktu yang bersamaan.

Terminology yang dilontarkan oleh Malcom Gladwell belasan tahun silam, adanya “Social Epidemic” melihat dari syarat syarat di mana ide, pesan, perilaku, maupun produk tersebar di masyarakat bagaikan virus kecepatannya.

Virus jualan usaha kecil rumahan menjamur dan menyebar begitu cepat di setiap pelosok dengan dibantu oleh kekuatan sosial media yang dalam hitungan detik bisa menjangkau masyarakat luas.

Penggunaan selebgram untuk endorse produk tersebut juga menjadi persyaratan yang terpenuhi dalam teori ini. Bahwa ada orang-orang  tertentu yang mampu secara effektif melakukan percepatan penyebaran “virus” ini. Cukup mengulas produk tersebut, menyebarkannya di sosmed masing-masing atau bahkan ada acara live shownya melalui laman “story” maka orang akan berebut memperoleh produk tersebut.

Saya sempat membaca, salah satu selebgram yang mempromosikan panci dan hanya dalam hitungan jam produk belasan juta rupiah terjual bak kacang goreng dan ramai dibicarakan.

Selebgram yang tepat juga menjadi faktor “stickiness”, karena bisa jadi karena yang diingat adalah wajah dan tindakan dari idolanya di sosial media dengan segala pesan persuasifnya, maka konsumen tergerak membeli produk tersebut.

Memang celakanya bila bertemu dengan konsumen lemah hati seperti saya ini, mata langsung akan berbinar-binar dan tanpa sadar jemari akan dengan sigap mengirimkan chat guna memesan barang tersebut. Terlepas dari butuh atau tidaknya itu adalah urusan belakangan. Meskipun ujung-ujungnya adalah penyesalan.

Terlepas dari segala bentuk konsumersime yang ada, bisa jadi bagi sekelompok orang menengah ke atas, tidak ada saluran untuk membelanjakan uangnya di masa PPKM yang sudah diperpanjang beberapa kali. Sehingga apapun yang ditawarkan dibeli. Baik itu makanan, maupun barang lainnya.

Buat yang sedang mencari tambahan penghasilan ini adalah peluang, selama anda tahu apa yang harus ditawarkan dan bagaimana mengemasnya sehingga dilirik dan dibeli orang. Jadi selama ada “demand” pasti ada “supply”. Nah, tugas yang berjualan lah yang menciptakan demand tersebut terus menerus supaya bisnisnya tidak hanya bersifat sementara.