Pelajar
2 bulan lalu · 99 view · 6 menit baca · Cerpen 53007_63438.jpg
Pinterest

Sore yang Horizontal

Akhirnya angsa itu terbang dengan sayap-sayap raksasanya, ke sore yang vertikal, ke sore yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi. Arahnya sudah ditentukan, dan untuk saat itu ia terbang ke matahari yang mulai tenggelam dengan nyaman di balik awan-awan yang warna-warnanya bercampuran. 

Mungkin belum semua ia selesaikan, tapi itu menurutnya. Yang Memiliki memilih untuk selesai.

___

Siang itu tidak terik, mendung yang tidak begitu gulita menyelimuti langit Sabtu yang biasa-biasa saja. 

Tokoh kita berdiri dekat pintu kereta, melihat keluar jendela, melihat pohon-pohon, kendaraan, rumah-rumah, konstruksi bangunan, orang-orang, terminal, burung-burung, dan udara yang melayang-layang yang begitu saja berlalu. 

Sambil mendengarkan beberapa lagu 80an, ia tak mau berpikir apa-apa kecuali memperhatikan sekitar, memperhatikan orang-orang yang terkadang sangat-sangat membingungkan.

Wajah tokoh kita tak lebih seperti aspal panas di siang bolong, datar dan menggerahkan, membuat orang iba sekaligus kesal. Ia perhatikan satu-persatu orang di gerbong di mana ia berdiri—karena duduk adalah pekerjaan orangtua di kereta. 

Ia melihat pria bertubuh besar dengan kaus oblong abu-abunya, di sebelah kirinya seorang perempuan yang bersandar tepat di bahunya. Di sebelah kanan pria itu, lelaki di pertengahan umur empat puluh sedang tidur sambil menganga. 

Di sebelah perempuan yang bersandar, duduk sejajar satu keluarga dengan kulit mereka yang terbakar; anak lelaki berumur tujuh tahun yang tampak linglung, ibunya yang agak gemuk sedang bermain gawai, pria dengan topi lusuh dan kemeja yang sedikit nyentrik, dan balita perempuan di pangkuan sang pria yang melihat dunia luar dari kereta yang menurutnya di dalam, sepertinya mereka ingin piknik sambil berfoto ria. 

Lalu ia bosan melihat orang-orang yang terlihat tidak realistis itu, padahal mereka realistis.

Tokoh kita turun di stasiun Cawang, dan naik angkutan umum sekali untuk sampai di salah satu toko buku. Sesampainya di toko, ia tak lama-lama untuk melihat buku-buku menarik yang baru saja terbit, tapi langsung membidik satu buku yang sudah dicarinya beberapa bulan terakhir ini. 

Tak ambil waktu lama, ia langsung menuju kasir. Tapi ternyata ia terhenti oleh rak bawah yang tak terlalu banyak diperhatikan orang, ia menemukan sesuatu yang menarik. Ia lihat-lihat sebentar, dan di sana terdapat buku-buku klasik berharga murah. 

Ada karya Hemingway, Palahniuk, kumpulan cerita Jepang klasik, dan…ia berhenti di salah satu buku yang cukup tebal. Tokoh kita ambil buku itu, dan membawa dua buku pulang.

___

Suaranya selalu terdengar walau hari masih gelap. Suaranya selalu menghiasi awal hari yang belum siap untuk terbangun. Suaranya tidak begitu merdu juga tidak begitu lunglai. Suaranya adalah suara yang dijanjikan surga, begitu kata orang-orang. 

Ia adalah seorang kakek tua berumur di atas enam puluh. Langkahnya selalu menyendiri di tengah ramainya angin pagi gulita. Langkahnya pasti menuju ke banyak ketidakpastian orang-orang yang masih lelap. 

Dengan pakaian ibadahnya yang sederhana; peci haji pemberian bapak haji, baju koko licin berwarna hijau, sarung Samarinda di atas mata kaki, sandal jepit Swallow biru, dan botol minum pemberian salah satu tetangga agar tenggorokannya tak kering ketika menyuarakan yang lain untuk bangun dari lelap, ia berjalan dengan sedikit sesak karena asmanya ke masjid, ke tempat yang selalu ia idamkan untuk datang.

Sang kakek tidak begitu terkenal, tidak juga tidak dikenal. Sang kakek tidak kaya, tidak juga miskin. Sang kakek pernah menjual cincin, tapi tak lagi karena cincin tak lagi begitu populer. 

Sang kakek mencintai istrinya yang biasa disebut nenek, dan sang nenek mencintainya sambil menjahit celana yang kepanjangan, resleting yang rusak, kemeja yang robek, dan lain-lain. 

Sang kakek hanya melakukan hal luhur: mengajar ngaji, sambil sesekali senam pagi di hari Minggu agar menjaga kebugarannya.

___

Tokoh kita menatap lama sekali sampul buku itu setelah sebuah pengumuman pilu disiarkan lewat toa masjid. Ia sudah mencoba mengalihkan perhatiannya tapi tetap saja kedua matanya mengarah lagi dan lagi ke sampul buku yang tidak banyak orang akan bilang istimewa. 

Baru ia beli kemarin buku itu, bukan buku baru, hanya buku bekas berharga murah yang menurutnya cukup menarik untuk dibaca. Di luar rumahnya, ramai orang bercakap hal yang tak didengarnya. 

Ia mengintip dari jendela yang gordennya tertutup, keramaian itu datang dari rumah tetangganya yang berada tak terlalu jauh dari rumahnya. Ia perhatikan sampul buku itu lagi, memang tak ada yang benar-benar istimewa, hanya sebuah sampul dari buku yang bahkan belum sempat ia baca. 

Di sampul itu, hanya ada dua gambar: seorang kakek tua berjubah hijau dengan tudung putih—pakaian Timur Tengah, dan angsa raksasa. Sang kakek memegang kedua kaki angsa raksasa itu yang terbang di atas sisa sampul yang berwarna hitam. 

Lalu ia bertanya kepada dirinya sendiri, “Apa maksudmu?”

___

“Kalau kerjaanmu hanya membaca, lalu apa? Apa ada yang berubah?” tanya pria tua itu ketika di siang Minggu yang cukup terik.

Tak ada jawaban, ia masih mengetik.

“Beberapa orang merasakan kehilangan, apa kau tak merasa hilang?” tanyanya lagi kepada anak laki-laki di depannya, anak laki-laki yang adalah tokoh kita. Pria tua itu, sang kakek, mengelus-elus jenggotnya yang tak lebat dan beruban. Ia tarik nafasnya, lalu menghembuskannya lagi. “Mau sampai kapan, nak?”

Ia masih mengetik. Dan ia bukan anaknya.

“Memang dogma, ideologi, atau kata-kata rumit lainnya yang sudah kau pelajari kadang-kadang memuakkan. Tapi toh kamu tetap memakainya meski terasing. Jadi sama saja, hanya permukaan yang terlihat yang berbeda.” Jelas sang kakek.

Ia masih terus mengetik. Mencoba memahami naskah yang sedang diterjemahkan.

“Kau mencoba memahami dari dasar, mencoba menggali lagi dan lagi, mencoba mengerti apa hidup yang kautinggali, mencoba menerjemahkan kebahagiaan yang menghimpun orang-orang, sudah selesaikah?” tanya sang kakek lagi.

Tokoh kita masih mengetik. Ia beranjak ke paragraf kedua belas.

“Sembahyanglah.”

Paragraf kedua belas, baris kelima. Ia masih mengetik.

Sang kakek berjalan keluar dari kamar tokoh kita, berjalan keluar rumah, berjalan ke tempat ibadah, berjalan dengan sungguh-sungguh.

Dan tokoh kita menatap lagi buku yang baru dibelinya kemarin siang.

___

Tokoh kita tak ingin terdifinisikan kembali, ia tak ingin memiliki makna.

Tokoh kita tak ingin spekulasi subjektif, ia tak ingin dianggap sebagai seseorang.

Tokoh kita tak ingin lagi berada dalam ruang dan waktu, ia ingin keluar menjadi kekosongan.

Tokoh kita tak ingin adanya belenggu, ia ingin berterbangan dan berenang setara dengan ria.

Tokoh kita tak ingin namanya disebut-sebut, ia hanya objek dan bukan subjek.

Tokoh kita tak ingin lagi bicara, ia bilang sudah terlalu banyak huruf yang terbuang sia-sia.

Menurutnya itu menyenangkan, walaupun yang lain melihatnya tidak dengan tatapan menyenangkan.

___

Setelah sembahyang sang kakek rebahan sebentar. Katanya lelah menempati tubuhnya malam itu. Tepat sebelum matanya tertutup, ia melihat seekor angsa putih yang terbang di langit-langit masjid. 

Angsa itu terbang berputar-putar di sekitar kubah, dan tak lama menjadi semakin besar. Tapi kelopaknya tak kuat menahan lelah, dan ia begitu saja terlelap.

___

Jalanan tidak begitu ditelan kerumunan manusia sore akhir pekan itu. Tapi jalanan masih setidaknya dipenuhi manusia yang belum bisa dan dapat beristirahat sore akhir pekan itu. Sebagian mereka masih memarkir mobil dan motor. 

Sebagian mereka masih menjajakan jajanan. Sebagian mereka masih bernyanyi di tempat makan. Sebagian mereka masih menyapu dedaunan di pinggiran. Sebagian mereka masih menyetir angkutan. 

Sebagian mereka masih menuntun yang lainnya untuk pulang ke peristirahatan, meski dengan waktu yang sangat rentan. Sore akhir pekan itu masih horizontal seperti sore-sore lainnya.

Begitupun kepada tokoh kita yang termenung melihat rumah tetangganya yang dikerumuni orang. Ia memandangi rumah beserta Minggu sore sambil mengemut lolipop rasa susu-melon di balkon lantai dua rumahnya, bersandar ke tralis besi dengan mata malas. 

Sorenya masih sore yang horizontal, tak sedikitpun ingin berbelok, tak sedikitpun ingin menikung 90° menjadi vertikal. Ia merenungi apa yang orangtua itu sampaikan kemarin, tapi tak menemukan satupun makna. 

Tangan kanannya memegang batangan permen, lalu dikeluarkan lolipop itu dari mulutnya, dijilati perlahan, manis menempel di sudut-sudut lidahnya. Yang ada saat ini hanya sekumpulan sampah yang ingin diteriakkan, tapi tak mungkin. 

Ia emut lagi lolipop itu, dan tidak menyadari bahwa seekor angsa raksasa sedang bertengger di tralis sebelahnya, melihat-lihat sosok manusia yang sedang mengemut lolipop.

Artikel Terkait