Sekarang, seluruh dunia seakan disapu oleh sebuah gelombang. Namanya adalah gelombang pemberontakan sosial.

Di Amerika Serikat, banyak kaum muda memberontak karena meninggalnya George Floyd di tangan polisi. Lantas, kemarahan ini menular ke Inggris, Eropa, dan beberapa negara lainnya. Kini, kemapanan lama diguncang oleh perlawanan yang eksplosif dan politis.

Akan tetapi, ini bukan kali pertama gelombang pemberontakan sosial menyapu dunia. Pada era 1960-an, terjadi pemberontakan yang lebih parah lagi. Itulah alasannya dekade ini dipanggil sebagai The Swinging Sixties. Alias dekade 60-an yang penuh dengan gejolak sosial yang cepat.

Bahkan, gejala swing ini sampai ke Indonesia. Kalau tidak, mana mungkin ada band seperti Koes Bersaudara, The Mercys, dan band-band legendaris lainnya? Anak-anak muda yang terpengaruh budaya Barat era 1950-1960an ini membawa sebuah budaya baru ke Indonesia.

Budaya baru itu memberontak terhadap konstruksi masyarakat ala Demokrasi Terpimpin. Anak-anak muda mulai berpenampilan gondrong. Celana mereka juga mulai mengadopsi model cutbray. Musik mereka juga asing terhadap budaya kita. Nadanya ngak ngik ngok.

"Jangan seperti kawan-kawanmu, Koes Bersaudara. Masih banyak lagu-lagu Indonesia, kenapa mesti Elvis-Elvisan?" tandas Bung Karno pada apel kemerdekaan 17 Agustus 1965. Artinya, Swinging Sixties bersumber dari berbagai disrupsi budaya di Inggris dan Amerika. Dan musik tidak terkecuali dalam fenomena ini.

Betul kata Bung Karno. Nadanya memang ngak ngik ngok. Temponya cepat dan bersemangat. Lompatan dinamika musiknya juga kuat sekali. Mendengarnya membuat telinga dan pikiran kita bersemangat. Semangat untuk menjalani hidup dan menonjok segenap kemapanan yang ada.

Menurut hemat penulis, ngak ngik ngok adalah ekuivalen dari punchy. Lagu-lagu berirama cepat, bernada semangat, dan berisi konten yang melawan kemapanan lama. Pada era rebellious ini, ada ribuan lagu yang termasuk kategori ini. Tetapi, tidak ada yang semantap Son of a Preacher Man dalam menunjukkan kepalan tinjunya.

Lagu yang dirilis pada tahun 1969 dalam album Dusty in Memphis ini adalah ciptaan John Hurley dan Ronnie Wilkins. Karya ini bercerita tentang seorang remaja putri yang jatuh cinta dengan anak seorang pendeta (preacher). Ternyata, cinta itu muncul dari rayuan manis sang remaja putra setiap kali ayahnya (si pendeta) datang ke rumah orang tua si remaja putri.

Setiap kali kedua orangtua remaja ini berinteraksi, mereka berdua pasti kabur secara diam-diam. Puncaknya, mereka berdua bercumbu di taman belakang rumah. Kejadian ini membekas di memori dan hati si remaja putri. Sehingga, dia tidak bisa lupa dengan cinta mudanya ini; Son of a Preacher Man.

Isi lagu ini adalah oposisi terang-terangan terhadap kerangka moral yang ada. Mereka menentang persepsi moral orang tua mereka dan memutuskan untuk “jalan sendiri” secara sembunyi-sembunyi. Konten ini merefleksikan apa yang para Boomers lakukan waktu itu. Melawan kerangka moral yang sudah ditanamkan oleh para Greatest Generation, orang tua mereka.

Jadi, bagi para Millennials dan Zillennials yang kini ikut tren, “OK Boomer,” berhati-hatilah. Tengok sejenak rekam jejak para Baby Boomers di masa muda mereka. Hehehe.

Terlebih lagi, proses produksi lagu ini juga mempunyai sebuah kisah unik. Awalnya, lagu ini diciptakan untuk Aretha Franklin. Mengapa? Sebab Aretha adalah anak seorang pendeta. Akan tetapi, Beliau menolaknya karena menganggap lagu ini tidak patut (disrespectful). Iya, tidak patut terhadap norma-norma sosial sebelum Swinging Sixties.

Kemudian, pikiran Aretha Franklin berubah ketika Swinging Sixties berakhir. Pada tahun 1970, Beliau akhirnya meng-cover lagu ini. Menurut hemat penulis, ada alasan lain di balik popularitas lagu ini yang melejit. Ternyata, norma-norma sosial yang berlaku sudah terdisrupsi di tahun 1970.

Berkat the Swinging Sixties, norma sosial sebagai pagar-pagar dalam masyarakat diperluas. Meluasnya lingkup norma ini membuat penikmat musik lebih leluasa dalam jenis lagu yang mereka dengar. Sehingga, selera musik di masyarakat, khususnya di antara generasi Boomers bergeser. Mereka menjadi getol dengan lagu-lagu seperti ini.

Mengapa? Sebab lagu ini merepresentasikan pemberontakan mereka. Melawan norma-norma sosial lama. Membongkar kemunafikan yang terjadi. Terlebih lagi, ambisi mereka untuk mengubah dunia sesuai dengan gambaran idealis generasi ini. Inklusif, terbuka, dan tidak restriktif.

Kini, para Millennials dan Zillennials kembali berupaya mendisrupsi batasan sosial yang ada. Tujuan mereka mirip dengan apa yang dilakukan para Boomers di masa lalu. Hanya saja cara dan mediumnya sudah jauh lebih canggih. But the main theme of inclusivity and openness stayed.

Maka dari itu, lagu ini tetap relevan dengan tema saat ini. Ditambah dengan unsur ngak ngik ngok yang kuat membuatnya semakin cocok untuk dijadikan simbol pemberontakan terhadap kemapanan lama. Tidak semua orang setuju dengan pesan ini. Namun semangatnya patut diacungi jempol

Lagu We Shall Overcome memang pemersatu aksi yang legendaris. Namun Son of a Preacher Man adalah lagu rebel yang didengar untuk menyemangati setiap partisipannya.