Pernyataan Ahok yang menyinggung Surat Al Maidah ayat 51 yang disebarkan oleh seorang teman dekat Anies Baswedan, dengan terlebih dahulu mengedit rekaman videonya, akhirnya membuahkan hasil.

Tidak hanya bagi kelompoknya Anies Baswedan, yang kebetulan tampil menjadi pesaing Ahok di Pilkada DKI 2017. Juga bagi Ahok,  polemik ini memberi hasil berlipat,  keuntungan yang sebelumnya tidak pernah diprediksinya akan sedemikian besar. What a blessing in disguise!

Walau niat atau tujuan keduanya berbeda, namun ajaib, kedua-duanya bisa terwujud secara bersamaan. Kok bisa? Kata orang-orang religius, "Jikalau Tuhan yang berkehendak, maka apapun bisa terjadi." Dan hal itu pun terjadilah.

Dari perspektif kelompoknya  Anies Baswedan, penyebaran video editan ini diharapkan bisa menimbulkan polemik  dengan tujuan akhir, bangkitnya semangat penolakan terhadap Ahok.

Dan memang terbukti,  video editan ini  telah menimbulkan kehebohan yang luar biasa di Jakarta, terlebih di dunia maya, dan juga berhasil memancing tokoh-tokoh politik dan agama akhirnya keluar dan membuka suara.

Demikian juga pesaing Ahok lainnya, Agus Yudhoyono, yang sebelumnya mengaku adem, juga tidak bisa tinggal diam,   akhirnya ikut memanaskan suasana dengan meminta polisi untuk memproses laporan masyarakat tentang dugaan penistaan agama melalui ucapan Ahok di Pulau Seribu.

Tidak ketinggalan tentunya dengan Anies Baswedan, yang akhir-akhir ini semakin  rajin menyoroti Ahok sejak ia berkawan dengan M Taufik beserta geng besarnya, yang memang sudah sejak lama memiliki hobby menyindir dan memojokkan Ahok. 

Entah dengan maksud membela umat atau menyemangati teman dekatnya si Buni Yani, Anies, di laman facebooknya  memberi pernyataan yang poinnya sudah makin mudah ditebak, berdasarkan pengalaman saat ia memberi komentar tentang bersihnya kali di Jakarta beberapa waktu lalu.

Sama halnya ketika itu, Anies  memanfaatkan situasi dengan menumpang arus yang sedang deras untuk bisa  bisa sampai di tujuan tanpa lelah mendayung.

Justru, warga  di Kabupaten Kepulauan Seribu, khusunya Pulau Pramuka, tempat dimana Ahok menyampaikan pernyataannya itu dalam sebuah acara dialog dengan warga tanggal 27 September kemarin, hingga kini belum bisa mengerti apa sesungguhnya yang terjadi. 

Mereka kebingungan untuk bisa memahami apa yang diributkan oleh banyak orang di Jakarta dan di dunia maya, karena merekalah saksi mata peristiwa itu. Namun, kenapa justru pihak lain yang tidak mereka kenal, dan juga tidak ada di lokasi saat peristiwa itu berlangsung bisa tersinggung, dan mengaku menjadi korban penistaan.

Apanya mereka yang jadi korban, bagian mananya yang telah dinista? 

Mereka benar-benar tidak mengerti, dan juga tidak habis pikir apa yang salah. Padahal, mereka benar benar menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan mendengar secara langsung apa yang disampaikan oleh Ahok.

Dan, mereka sedikitpun tidak tersinggung, mereka tidak merasa dinista, mereka tidak merasa dilecehkan. Tapi mereka heran sekaligus bingung, karena ada orang luar Kepulauan Seribu  yang teriak-teriak telah dilecehkan dan agamanya dinista, kok bisa? 

Mulanya mereka pikir ini hanyalah sebuah acara komedi, namun belakangan mereka sadar bahwa ini serius. Ada banyak yang membuat laporan ke polisi, ada petisi di change.org yang ditandatangani puluhan ribu orang, ada yang meneriakkan penjarakan Ahok hingga bunuh Ahok. Ihhh... mengerikan!

Tidak terhitung dengan pihak-pihak yang menuntut supaya Ahok minta maaf. Dan ini juga tidak kurang membuat mereka semakin tidak pasti, apakah ini sungguhan atau mimpi? Mereka sendiri yang ada di tempat waktu itu, tidak pernah meminta Ahok untuk minta maaf, untuk apa?

Tidak ada yang perlu dimaafkan. Akan tetapi, ada banyak orang yang bukan penduduk Kepulauan Seribu menuntut Ahok harus minta maaf? Siapa memangnya mereka? Untuk apa Ahok meminta maaf kepada mereka. 

Seingat warga, mereka juga tidak pernah meminta siapapun untuk mewakili mereka guna menuntut maaf dari Ahok. Namun ternyata, tanpa sepengetahuan dan juga tanpa meminta izin dari mereka, ada banyak pihak yang dengan lantang menuntut supaya Ahok minta maaf.

Entah apa salah Ahok kepada warga Kepulauan Seribu sehingga ia harus meminta maaf. Dan anehnya, minta maafnya kepada orang luar lagi, bukan kepada warga Pulau Seribu yang memang tidak pernah meminta itu dari Ahok.

Begitulah, jika mental pecundang yang ditonjolkan, segala hal yang bisa akan ditumpangi, demi memudahkan mencapai tujuan. Termasuk memainkan isu yang sifatnya sensitif, namun ketika itu memberi peluang besar untuk bisa menohok lawan, maka itu akan dilakukan.

Jika seseorang sudah merasa kalah sebelum bertanding, maka yang dipikirkan adalah bagaimana siasat yang bisa dilakukan untuk bisa memukul lawan dari belakang.

Niat Ahok sebenarnya sangat mulia, bagaimana  supaya masyarakat bisa cerdas menyikapi politisasi agama dalam Pilkada DKI yang begitu intens dipakai guna membungkam pesaing dan memaksakan kepentingan.

Bukan hanya sebagai alat diskriminasi, namun juga sebagai alat pembodohan masyarakat demi kepentingan politik pihak-pihak yang bernafsu untuk bisa dan harus menang. 

Beda dengan Ahok, yang justru meminta warga tidak perlu merasa bersalah dan tidak enak hati  karena nantinya tidak akan memilih dia. Ia justru  mempersilahkan mereka memilih yang lain, yang lebih baik, kalau ada tentunya. Belum ada politisi yang beginian, biasanya selalu ujung-ujungnya supaya memilih yang bersangkutan.

Pernyataan Ahok di Pulau Seribu sangat jelas merupakan bentuk edukasi politik yang dilakukan oleh Ahok kepada warga di sana, dan ini jarang-jarang didapat dari seorang pemimpin dan politisi. Berani membicarakan sesuatu yang selama ini bersifat tabu, dan juga selama ini selalu dihindari untuk dijelaskan dengan gamblang.

Namun, Ahok  yang tidak kenal takut dan juga jenius itu berani melakukannya, dan ia tak henti-hentinya berupaya  meluruskan apa yang selama ini bengkok atau sengaja dibengkokkan.

Ahok tidak pernah gamang menyikapi hal demikian, karena ia  berpijak kepada konstitusi sebagai landasan bertindak dam bersikap, sehingga ia tidak ragu dalam memutuskan sesuatu. Dan sebagai hasilnya, warga yang mendengar dan juga semua pihak yang ada di tempat tidak merasa  bahwa Ahok telah berbuat salah atau menista agama mereka dengan pernyataannya.

Dan memang tidak sedikit warga yang akhirnya menjadi  sadar politik dengan apa yang dikatakan dan telah dilakukan oleh Ahok selama ini. Dan secara nasional usaha Ahok ini sangat diapresiasi, ada banyak daerah yang kepincut dengan Ahok. Dan ini sungguh menjadi berkat terselubung bagi Ahok.

Tentu tidak berlebihan,  jika warga Kepulauan Seribu terlihat lebih maju  dibandingkan pihak-pihak yang masih menyoal dan meributkan pernyataan Ahok. Padahal semestinya, justru orang pulaulah yang kerap ketinggakan berita dan informasi.

Namun kali ini, ternyata warga Kepulauan Seribu jauh berada di depan daripada mereka-mereka yang tinggal di ibukota dan selalu paling duluan menerima informasi dan kemajuan, namun ketika mencerna pernyataan Ahok masih menggunakan perspektif abad ke 7.

Memang, mungkin saja hal itu dilakukan secara sengaja demi suatu agenda yang sebenarnya bukan rahasia lagi. Namun, tentulah hal itu tidak akan diungkapkan dengan terus terang, takut ketahuan, padahal sudah ketahuan.

Dan inilah yang membuat warga Kepulauan Seribu kebingungan,  antara percaya dan tidak, benarkah mereka kalah cerdas dari orang-orang yang  melaporkan Ahok dan menuntutnya minta maaf, atau ini hanyalah sandiwara belaka?

Atau, mungkin saja  mereka sebenarnya bukan  kurang cerdas untuk memahami dan mencerna pernyataan Ahok, namun pesona Ahok sedemikian memikat layaknya pemilik padepokan itu, sehingga mereka tidak mampu lagi untuk tersinggung dan sudah tidak lagi berasa telah dilecehkan.

Dari pada berandai-andai, dan jika anda masih penasaran dengan pernyataan Ahok; dan juga kenapa reaksi warga Kepulauan Seribu tidak seperti pihak- pihak yang telah melaporkan Ahok ke Polisi; mereka yang menuntutnya minta maaf, mereka  yang telah menandatangani petisi; ada baiknya anda datang ke Pulau Seribu.

Anda akan tahu betapa cerdasnya warga Kepulauan Seribu, dan mereka jujur dalam menyikapi Pilkada DKI yang akan datang. Tidak seperti mereka yang teriak- teriak  "penjarakan Ahok," seakan akan mereka mewakili warga Kepulauan Seribu untuk tersinggung dan merasa dilecehkan. Padahal, kita belum pernah tahu bahwa ketersinggungan bisa diwakilkan. 

Namun jika itu menyangkut Ahok, apapun bisa ditumpangi dan diwakilkan, seperti yang selama ini juga disuarakan oleh Ratna Sarumpaet, di mana seakan akan ia mewakili warga Jakarta yang (katanya) menjadi korban kebijakan Ahok. Dan sakit hati warga telah diwakilkan kepada Ratna, sehingga ia menjadi orang yang paling tersakiti di masa kepemimpinan Ahok. 

Nah, daripada ribut dan berpolemik, kenapa tidak datang saja ke Pulau Seribu?

Kita akan tahu apa yang sebenarnya terjadi, bukan melalui hasil editan, bukan pelintiran. Tetapi dari sumber langsung, yakni warga Kepulauan Seribu.