Di zaman kenabian, manusia selalu berada dalam konteks dua kubu. Sebagaimana kubu pro dan kontra khilafah pada hari ini. Adapun kubu netral atau yang tidak mengambil sikap, jumlahnya tidak pernah jadi tinta sejarah, barangkali karena tidak seberapa.

Salah satu dari dua kubu yang dimaksud yakni kubu yang diisi oleh komplotan manusia-manusia malang. Kubu ini ditandai dengan sulitnya membuka diri pada perubahan. Sekalipun kehidupan mereka penuh keonaran dan banyak hal yang tidak lagi sepadan dengan akal sehat, mereka akan tetap teguh pada akidah nenek moyangnya. Meskipun solusi perubahan yang ditawarkan pada mereka laksana berlian, mereka akan tetap bersikukuh menganggap prinsip sejak lahirnya adalah yang terbaik. Apes betul.

Tanda lain dari manusia di kubu ini adalah mudah berasumsi tanpa proses mengkaji, mudah membenci tanpa mengenali dan juga mudah menyimpulkan tanpa serangkaian metodologi.

Inilah yang terjadi pula dalam corak masyarakat kini, bahkan barangkali lebih gawat lagi. Sedikit saja tidak sepaham, siap-siap saja disenggol bacok. Sayangnya metode membacoknya bukan saling lempar sanggahan dan debat intelektual, akan tetapi langsung digilas dengan kekuatan payung hukum dan kursi kekuasaan.

Hal gawat lainnya, massa kaum apatis pun makin menjadi-jadi. Mereka merasa terdzalimi tapi tidak ikut memerangi kedzaliman tersebut. Inilah salah satu faktor yang melambankan gerak perubahan sebab mereka menghindari gesekan sosial. Bagi mereka, yang terpenting mereka masih bisa order go-food, asap rokok masih mengepul dan gizi anak-anaknya terpenuhi, maka siapapun dan apapun yang terjadi di perkancahan politik, mereka tidak mau tahu menahu. Giliran harga sembako dan BBM naik, mereka baru sadar bahwa kehidupannya hari ini adalah bagian dari keputusan politik.

Banyak yang paten beranggapan bahwa sistem negara hari ini adalah yang terbaik. Padahal berita-berita menyoal pejabat yang korupsi, perampokan, pemerkosaan, pembunuhan, penjualan aset negara, pengangguran, dan juga budaya bagi-bagi kursi kekuasaan pasca pemilu sudah sangat familiar dan terus mengalami kesuburan di negeri ini. Seharusnya kasus-kasus kebejatan tiada henti sudah cukup mampu memunculkan kepekaan kita untuk mendalami “dimana yang salah?”. Apakah kesemuanya adalah hasil dari sistem yang baik? Mengapa kita tidak mau berbelok haluan dan mencoba membuka pemikiran kita pada jalan perubahan?

Khilafah bukan kata baru. Khilafah dirincikan pada salah satu bab operasional pemerintahan dalam kitab fiqh anak-anak santri. Khilafah juga termaktub dalam sejarah dunia yang tidak memiliki celah untuk dibantah. Khilafah pernah menguasai 2/3 dunia selama 1400 tahun lamanya.

Banyak yang mendiskreditkan pejuangnya sebagai sebuah kehaluan tak ilmiah. Mereka beranggapan bahwa Islam hanya sebatas agama yang memandu hati agar dekat dengan Tuhan. Ketinggian Islam sebagai sebuah ideologi memiliki kepengaturan komprehensif dalam kehidupan manusia pada skala individu, keluarga, hingga negara.

Ada juga yang berspekulasi bahwa berbicara khilafah sama saja dengan berbicara kemunduran. Apakah sistem kapitalisme-sekulerisme yang diterapkan hingga hari ini adalah sebuah kemajuan? Disadari atau tidak, sistem ini nyata memborbardir kehidupan sosial skala global. Kaum kapitalis mengakumulasikan seluruh sumber kekayaan hingga tak ada lagi yang bisa terbeli tanpa campur tangan mereka. Sekalipun demikian, cepat atau lambat, sistem ini pasti akan melalui fase rongsok, tandas tak tersisa.

Mereka yang kontra juga mengatakan bahwa Islam tak punya aturan baku dalam kepengurusan pemerintahan. Dalam sirah nabawiyah, tepatnya saat Rasulullah SAW dalam perjuangan memberdayakan Madinah, Beliau mengatur strategi, membagi urusan kaum muslimin, bermusyawarah untuk menghasilkan mufakat, mengirimkan utusan delegasi, mengadakan perjanjian kerja sama, menguatkan benteng pertahanan juga membangun masjid-mesjid dan bangunan pemerintahan. Kesemuanya ini mengindikasikan bahwa Rasulullah SAW tidak hanya menjalankan peran kenabian saja, akan tetapi Beliau juga mengemban aktifitas politik dan pemerintahan.

Tapi merupakan sebuah kelumrahan bagi yang belum pernah tersentuh informasi mengenai khilafah, sebab kita adalah manusia abad 21 yang modern dan sejak lahir telah dicekoki hiruk pikuk sekulerisme. Kita tak pernah menyaksikan langsung kegemilangan daulah islam pada waktu itu. Kita tidak pernah merasakan sendiri bagaimana ketenteraman-ketenteraman saat khilafah itu tegak seperti yang dikisahkan mulai dari kepemimpinan Rasulullah SAW hingga kepemimpinan khilafah yang terakhir, Sultan Abdul Hamid II. Kalau tak serius mempelajari sirah dan mengkaji ketinggian Islam, kita pasti akan mudah menghakimi khilafah.

Yang tak lumrah adalah mengapa para penyambung lisan yang menawarkan solusi khilafah tak didengar dulu? Mengapa bahkan seolah digeneralisir sebagai sebuah ancaman. Tuh korupsi sudah jelas-jelas ancaman, bikin kita makin miskin tak karuan.

Jika negara mengayomi kebebasan berpendapat dan merangkul aspirasi masyarakatnya, seharusnya ide khilafah ini menjadi perdebatan intelektual dan bahan riset dikampus-kampus, atau bahkan menjadi topik bincang akbar aparat pemerintahan.

Namun, faktanya tak bisa diterima nalar sehat. Khilafah tak dikaji, tapi banyak yang memberikannya definisi final. Para tokoh-tokohnya didzalimi dan anggota-anggotanya pun diberi sanksi. Bahkan ormas yang mendakwahkannya dicabut BHP nya.

Solusi khilafah adalah aspirasi si penyampainya yang harus diwadahi dan diberi ruang menjabarkan pemahamannya pada publik. Jika solusi khilafah adalah respon reaktif dari masyarakat yang inginkan mashalat, mengapa ia tak dikaji dulu? Toh jika khilafah terbukti tak baik dan tak rasional, tentu akan terfilter dengan sendirinya. Bukan begitu?