Tiap kali konflik di Palestina mencuat, selalu saja ada upaya membangkitkan solidaritas orang-orang muslim di Indonesia. Bunyi narasinya menekankan pentingnya ukhwah islamiyah (persatuan Islam) untuk membebaskan Palestina. Urgensi persatuan dibangun di atas sebuah kesan bahwa muslim sendirian dalam hal mendukung perjuangan Palestina.

Karena itu, "kita" mesti bersatu membebaskan a-Aqsa. Layaknya ABG jatuh cinta pertama kalinya, nada kampanye semacam ini tak ubahnya kalimat "This is us against the world."

Tentu tak ada yang salah memperkokoh persaudaraan sesama muslim. Tapi apa iya tragedi dan konflik di Palestina cuma urusan muslim semata? Dan apakah dengan mengedepankan tragedi di Palestina sebagai konflik Muslim vs Yahudi kita turut membantu upaya pembebasan Palestina atau malah menutup banyak kemungkinan pintu bagi solusi?

Pertanyaan pertama jawabannya jelas tidak. Buat Anda yang masih dibuai dengan keyakinan bahwa perjuang Palestina sebagai perjuangan aktivis muslim melawan Israel atau Yahudi semata, izinkan saya memperkenalkan pada anda Rachel Corrie.

Ia adalah aktivis asal Amerika Serikat yang tewas ketika menjaga rumah-rumah orang Palestina dari penghancuran yang dilakukan oleh aparat Israel. Rachel tewas di ujung moncong buldozer karena mempertahankan hak warga palestina atas rumah dan tanah mereka.

Jika Anda merasa bahwa hanya intelektual muslim saja yang bersuara atas ketidakadilan yang dialami oleh bangsa Palestina, maka izinkan saya memperkenalkan pada anda Norman Finkelstein, Profesor pakar sejarah dan politik timur tengah yang getol membela hak-hak politik bangsa Palestina. Professor keturunan Yahudi asal Amerika ini juga kritis pada narasi Holocaust yang dinilainya kerap dijadikan justifikasi bagi penindasan yang dilakukan Israel di Palestina.

Akibat kritiknya yang keras pada Israel dan zionisme, ia dituduh banyak intelektual pro Israel sebagai "self hating jew". Israel bahkan tidak lagi mengizinkannya masuk ke negara itu. Norman dinilai oleh otoritas Israel sebagai pro teroris karena pernyataan-pernyataannya yang mendukung Hamas dan Hizbullah.

Jika Anda mengira hanya Islam saja satu-satunya komunitas agama yang menyuarakan penolakan atas penjajahan Israel di Palestina, maka tentu Anda akan kebingungan mendapati ratusan rabbi Yahudi berdemonstrasi menolak penjajahan Israel. Jika Anda merasa bahwa hanya muslim saja yang tergerak hatinya melihat ketidakadilan di Palestina, maka saya pastikan Anda salah.

Sewaktu serangan besar terakhir Israel ke Gaza pada 2014, ribuan bahkan ratusan ribu orang dari berbagai latar belakang di kota-kota besar Eropa dan Amerika turun ke jalan menyuarakan aspirasi yang sama dengan sebagian besar masyarakat muslim, yakni penghentian pendudukan Israel di Jalur Gaza. Bahkan dari dalam negeri sendiri Israel mendapatkan tekanan dari sebagian masyarakatnya yang tidak menghendaki perang dan pendudukan.

Selain yang saya sebut di atas, masih banyak.daftar mereka yang bukan muslim dan berkontribusi dalam isu Palestina. Namun, bukan di sini tempatnya buat mengurai daftar mereka. Lagi pula poinnya bukan soal jumlah.

Keterlibatan banyak orang dari irisan kelompok etnis/agama/sosial politik yang berbeda menandai bahwa konflik Palestina adalah persoalan kemanusiaan. Setiap manusia yang adil sejak dalam pikiran, lepas dari latarbelakang agama atau etnisitasnya akan berada dalam barisan yang sama (bersama bangsa Palestina).

Ini sekaligus menjawab pertanyaan kedua. Sudah barang tentu konflik tak akan selesai dengan cara saling tuduh dan melempar label. Harapan akan kedamaian terletak pada kepercayaan kita pada kemanusiaan.

Jika kita masih percaya bahwa ada kebaikan pada manusia, termasuk mereka yang berbeda dengan kita, maka ruang untuk dialog dan penyelesaian konflik mungkin terjadi. Jika sejak awal kita percaya semua Yahudi adalah penindas, semua orang non muslim tidak peduli, maka sejak itu, kita telah membakar jembatan komunikasi yang memungkinkan koalisi dan perdamaian terjadi.

Jika pola pikir ini kita pertahankan, alih-alih menarik lebih banyak orang dalam lingkaran himpunan tengah dari dua kubu yang berkonflik, kita justru memperkuat polarisasi.