“Ada banyak kekurangan sekarang. Rumah sakit tidak memiliki cukup alat diagnostik yang berkualitas baik, dan kekurangan masker,” kata Noraladin Pirmoazzen, ahli bedah paru-paru yang juga mantan anggota parlemen Iran, dilansir dari thewashingtonpost.com

Ia menggambarkan kondisi Iran yang serba kekurangan pada masa awal wabah virus Corona. Bahkan pada saat itu, Iran menjadi negara kedua terparah terpapar wabah virus Corona di dunia setelah China.

Kalang kabutnya Iran menangani wabah ini tak lepas dari efek sanksi embargo Amerika Serikat (AS) atas Iran. “Staf medis yang menginginkan jenis obat atau peralatan tertentu mengalami kesulitan transfer uang ke luar Iran karena sanksi,” jelas Noraladin. 

Memang, sanksi ini membuat Iran tidak dapat mengimpor obat-obatan dan peralatan medis. Mengutip Press TV, para pekerja medis Iran dan banyak pakar medis di dunia mengecam tindakan AS yang enggan mencabut sanksinya meski untuk penanganan wabah virus Corona.

Menurut worldometers.info, pada 14 April, virus Corona telah menjangkit 74.877 warga Iran dan menewaskan 4.683 orang. Sejak ditemukannya kasus pasien positif pertama pada 18 Februari lalu, sudah 48.129 orang yang berhasil sembuh. Tingginya angka pasien sembuh dibanding pasien yang meninggal menunjukkan bahwa perlahan Iran mampu menanggulangi wabah ini.

Larangan Impor Bahan Makanan

Selain embargo obat-obatan dan peralatan medis, Iran juga dilarang untuk mengimpor bahan makanan. Padahal, di saat-saat wabah, stok pangan harus tersedia untuk menghindari chaos sipil akibat kelangkaan pangan. 

Menurut Global Hunger Index, Iran menempati peringkat 31 dari 117 negara dengan kualitas pangan menengah ke bawah. Tentunya, dibanding AS dan Italia, Iran tertinggal jauh di bawah. Tetapi, di saat penjarahan marak terjadi di kedua negara tersebut, justru kehidupan rakyat Iran berlangsung normal dan kondusif.

Meski pada awal wabah sempat terjadi kenaikan harga-harga kebutuhan hingga berkali lipat akibat ulah pedagang culas. Namun, hanya butuh waktu sekitar seminggu, harga-harga kebutuhan tersebut kembali normal. 

Dilansir dari kumparan.com, Ismail Amin, Presiden Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran, menceritakan bahwa aktivitas warga di sana secara umum berlangsung normal dan tidak terjadi panic buying. Harga-harga barang kebutuhan juga tetap stabil dan masker dibagikan secara gratis oleh pemerintah.

“Iran memproduksi 300 ribu masker setiap hari,” terangnya.

Tahun 2017, Berlaku Kembali Sanksi Embargo

Dalam 2 tahun terakhir, sejak diberlakukannya kembali sanksi embargo AS atas Iran, kondisi perekonomian dan sosial Iran menjadi tidak stabil. IMF (International Monetary Fund) mencatat, inflasi pada  2018 naik tiga kali lipat lebih dibanding tahun sebelumnya menjadi 30,5 persen. Bahkan, hingga tahun berikutnya masih menjulang tinggi sebesar 35,7 persen pada tahun 2019.

Kenaikan ekstrem tingkat inflasi tersebut tentunya berdampak pada kenaikan harga-harga barang dalam negeri Iran, mulai dari harga-harga barang pokok hingga bahan bakar minyak. Pertumbuhan ekonomi Iran pun menyusut hingga 4,8 persen pada 2018. 

Di tahun berikutnya, 2019, malah makin merosot hingga menyentuh 9,5 persen. Akibatnya, perekonomian Iran yang makin terpuruk berdampak pada ketidakstabilan sosial. Demonstrasi besar-besaran kemudian meletup pada akhir 2019, menuntut kebijakan pemerintah yang memangkas subsidi dan menaikkan harga bahan bakar minyak.

Pada awal 2020, gelombang protes sebenarnya masih terus menyerang pemerintah. Akan tetapi, demonstrasi ke jalan sudah tidak terjadi lagi. 

Beriringan dengan membaiknya kondisi sosial Iran, perekonomian Iran juga ikut membaik. IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi Iran akan naik hingga 0 persen pada 2020. Sayangnya, serangan wabah virus Corona membuat perekonomian Iran melemah kembali.

Setidaknya, untuk menanggulangi wabah ini, melansir ipiiran.org, Presiden Iran, Hassan Rouhani, telah mengucurkan dana sebanyak 2 triliun riyal Iran untuk produksi vaksin, masker, dan obat-obatan secara massal. Bahkan, Iran masih akan menambah anggaran lagi dengan berutang ke IMF untuk pertama kalinya sejak 1961.

Dikutip dari Reuters, Abdolnaser Hemmati, Kepala Bank Sentral Iran, telah melayangkan surat kepada IMF untuk pengajuan pinjaman sebesar 5 miliar dollar AS atau setara 72 triliun rupiah untuk penanggulangan wabah virus Corona.

Solidaritas Rakyat Iran

Tekanan embargo yang menghimpit Iran sejatinya membuat pemerintah Iran terbatas dalam menanggulangi wabah ini. Apalagi, dalam 2 tahun terakhir, Iran berada dalam masa sulit. Kekhawatiran akan chaos sipil pun membayang-bayanginya. 

Hal itu juga dirasakan Jennifer Green, warga negara AS yang terjebak di Iran selama wabah. Dalam tulisannya berjudul Life in During Coronavirus, ia mengisahkan bagaimana ia menjalani kehidupannya selama pandemi virus Corona di Iran.

Awalnya, ia sempat dirundung cemas harus tinggal di Iran. Akan tetapi, setelah tiga minggu lebih berada di Iran selama wabah, ia justru merasa lebih aman menetap di sana. Terlebih, ia mendapati informasi bahwa kondisi negara asalnya tidaklah lebih baik dari Iran. 

Menurutnya, selama di sana, ada beberapa kisah baik dan positif yang tidak dilaporkan, yang seharusnya diketahui. Ia terkagum melihat solidaritas rakyat Iran, “betapa berbedanya orang Iran dari tempat lain di dunia saat ini,” ungkap Jennifer. 

Di sana, seluruh elemen masyarakat saling tolong-menolong sesuai perannya masing-masing. Misalnya, pemilik toko yang membebaskan sewanya selama dua bulan atau komunitas masyarakat yang secara sukarela membuat masker dan alat pelindung diri untuk petugas kesehatan.

Menyaksikan itu, ia pun menyimpulkan, “bekerja sama adalah taruhan terbaik untuk bertahan hidup.”