Jumad pekan lalu, di sebuah rumah duka dalam layatan kerabat yang meninggal dunia di kampung sebelah, secara kebetulan atau memang direncanakan oleh Tuhan, saya tidak tahu persis! Berjumpalah saya dengan Ama Beda dan kawan-kawan yang datang dari kampung yang pada awal bulan April kemarin disinggahi badai siklon tropis bernama seroja yang mengakibatkan bencana banjir bandang plus tanah longsor.

Sambil menikmati suguhan kopi panas dari pelayan, kami awali obrolan dengan  pertanyaan saya yang mengundang cerita.

"Ama, saat kejadian itu, Ama di kampung, kah?"

Ama Beda kemudian memulai ceritanya yang pada poinnya menggambarkan bahwa dia memang alibi, tetapi ada beberapa sanak keluarganya  yang jadi korban bencana tanah itu.

Saya serius mendengarkan! Sesekali menimpali dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik sehingga bukan saja cerita itu datang dari Ama Beda, tetapi semacam tersambung secara otomatis dengan beberapa kerabat dari kampung itu sehingga mereka bersahutan bercerita, meski saya tahu bahwa luka batin mereka belum tuntas disembuhkan.

Ada bagian cerita tragedi yang terlampau perih untuk dilisankan. Tetapi ada kisah-kisah yang mengundang kesal ketika cerita tiba pada fase penanganan darurat bencana. Misalnya, tentang kelatahan pemerintah daerah dalam menangani bencana, mulai dari hal evakuasi korban bencana sampai pada ketiadaan anggaran daerah untuk penanganan para korban di barak pengungsian. Persis apa yang dikeluhkan masyarakat di media sosial pada fase penanganan tanggap darurat pasca bencana.

Obrolan kami berlanjut sampai kepada hal-hal penyebab terjadinya bencana di kampung itu, sehingga menarik untuk dicerna dari poin-poin cerita yang mengalir.

Bahwa bencana yang terjadi adalah kehendak Tuhan, adalah sebuah asumsi yang wajar, karena itulah yang kita imani sebagai orang beriman! Bahwa bencana yang memakan banyak korban dipicu oleh perilaku hidup manusia yang semakin tidak harmonis dalam menjaga kelestarian alam semesta melalui kearifan lokal (tradisi setempat), adalah juga sebuah kesimpulan yang tidak salah, apalagi jika penyebab bencana dikaji berdasarkan ilmu pengetahuan (sains).

Beragam premis  yang mengundang perdebatan sebagaimana yang dikisahakan sekelompok orang yang terdampak ini, dan juga sempat terjadi di media sosial pasca bencana  inilah, yang mesti dibungkus dalam sebuah  wahana untuk kemudian menjadikannya sebagai mitigasi bencana bagi masyarakat. Karena menurut saya, perbedaan pandangan tentang sebab-musebab terjadinya bencana yang diperdebatkan hanya terletak pada cara membidik sebuah objek dari perspektif yang berbeda. Itu saja!

***

Dengan demikian, saya kemudian tidak tertarik dengan perdebatan-perdebatan semacam itu, tetapi saya justeru lebih condong kepada sebuah pertanyaan yang terus terngiang di kepala saya, "mengapa bencana ini menelan korban begitu banyak?"

Dari obrolan lepas ini, kemudian diketahui bahwa di dalam satu rumah, tidak semua anggota keluarga menjadi korban, tetapi ada yang bisa menyelamatkan diri. Lantas mengapa banyak yang tidak sanggup menolong dirinya sendiri? Ternyata kebanyakan korban (tidak semua) terjebak karena mereka tidak tahu jalan ke mana harus berlindung dalam situasi terlanjur tanpa penerangan listrik PLN yang sudah "dilumpukan" terlebih dahulu.

Adalah benar, bahwa penerangan bukanlah satu-satunya yang mengakibatkan ratusan orang menjadi korban, tetapi jika ada penerangan, saya pikir korban berjatuhan tidak sebanyak ini, karena meskipun dalam keadaan panik, tetapi barangkali masih ada daya upaya ketika serpihan cahaya lampu bertahan  menerangi jalan.

Penerangan yang saya maksud tidak hanya pada listrik PLN, karena perkara bencana banjir dan tanah longsor, listrik PLN tidak menjadi jaminan, sebab dia (listrik PLN) menggunakan sistim jaringan, sehingga tentu

saling bersinggungan ketika salah satu tiang dihempas badai.

Penerangan yang dimaksud adalah listrik yang menggunakan energi matahari yang  dikenal dengan solar cell. Tentunya ada kelemahan tetapi juga ada kelebihannya, karena selain menggunakan tiang mono, solar cell memanfaatkan tenaga surya, sehingga tidak bersinggungan di saat tertimpa badai.

Barangakali terasa sederhana dan pasti senyum-senyum ketika membaca solusi yang saya sodorkan ini, tetapi saya pikir, jika itu terpasang di permukiman warga, di sudut-sudut kampung, di sudut-sudut jalan desa, sudah cukup membantu menyelamatkan anak manusia di saat bencana.

Sebab tindakan yang paling pertama ketika terjadi hal di luar dugaan adalah bagaimana kita berusaha untuk mengawasi situasi dan kondisi di sekeliling untuk kemudian berusaha menyelamatkan diri. Jika kita berada dalam kegelapan malam, bagaimana mungkin bisa mencari jalan untuk menghindar? Oleh karena itu, bagi saya, pemasangan solar cell di permukiman warga adalah bagian dari mitigasi bencana bagi masyarakat.

Obrolan masih terus Mengalir, "ada cerita-cerita menarik dari orang yang terselamatkan meski beberapa saat sempat terendam lumpur setinggi dada. Bahwa memang mereka kesulitan mencari jalan penyelamatan diri, dalam kegelapan!" Kenang Ama Beda menutup obrolan kami, mendahului seremonial penguburan jenasah yang akan segera dimulai.