Hari ini, tertanggal 4 September 2019, telah terjadi dengar pendapat untuk menggodok RUU SOGIE (Sexual Orientation and Gender Identity and Expression Equality) yang telah diperjuangkan oleh Risa Hontiveros dan kawan-kawan di senat Filipina. 

Dengar pendapat tersebut dilakukan untuk memperkuat RUU untuk segera diloloskan ke Majelis Tinggi.

SOGIE bill (RUU SOGIE), juga dikenal sebagai RUU Anti-Diskriminasi (ADB), merupakan undang-undang yang telah lama diperjuangkan dan diusulkan di Kongres Filipina. SOGIE bill nantinya diharapkan dapat mencegah berbagai macam tindakan kekerasan dan diskriminasi terhadap orientasi seksual, identitas gender, ataupun ekspresi seksualitas.

Preferensi objektif seksualitas seseorang di Mindanao sangatlah diskriminatif dan diperlakukan dengan sangat kejam. Daerah yang rata-rata dikuasai Muslim tersebut keras sekali menerapkan ajaran agama menurut versi masing-masing faksi.

Kebebasan perilaku, di mana seseorang berhak untuk menggunakan alasan objektifnya, tidaklah dihargai sebagai sebuah preferensi. Selain itu, LGBT juga mendapat tekanan dari pihak Katolik dan Maschimo yang makin tak toleransi di Filipina.

Gereja Katolik yang berpengaruh pernah menolak kampanye toleransi LGBT. Pihak gereja menyebutnya sebagai “agen setan”. Persekutuan gereja yang konservatif juga pernah menyerang Flavier, seorang menteri yang Protestan. Mereka menuduhnya telah mendukung pergaulan bebas, nafsu, zina, dan imoralitas seksual.

SOGIE bill yang sedang diperjuangkan diharapkan mampu melindungi hak-hak bebebasan mereka. RUU ini nantinya akan merawat dan melestarikan budaya LGBT di Filipina, seperti: kesenian Pro-gay Philippines, parade gay; lesbian; biseksual dan transgender, serta karya-karya di Quezon Memorial Circle.

LGBT di Filipina sebenarnya sudah cukup mendapat dukungan dari Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. Beliau telah menegaskan:

Anda mendapat jaminan saya bahwa setiap orang, setidaknya pada masa kepresidenan saya, akan dilindungi dan dipelihara sebagai manusia, tidak akan ada penindasan, dan Kami akan mengakui peran penting Anda di tengah masyarakat.

Perjuangan RUU SOGIE lahir setelah melihat kekejaman yang diterima oleh LGBT Muslim di wilayah Mindanao. 

Mereka, LGBT, wajib menjalani terapi penyembuhan LGBT dengan cara kejam, seperti: pernikahan paksa dan pelatihan militer. Cara ini diberlakukan oleh otoritas Mindanao, terutama LGBT Muslim Kota Marawi yang paling sering menerima kekerasan dan diskriminasi, setelah kota tersebut hancur total oleh terorisme.

Kebanyakan korban kekerasan tersebut adalah para pekerja salon kecantikan di Marawi. Mereka tanpa segan diberondong senapan oleh pihak tak dikenal. Pembunuhan dan kekerasan berbasis gender di kalangan LGBT terus meningkat dan memburuk di Kota Marawi.

Kenyataan itu, seperti yang telah diungkapkan oleh seorang gay muslim, Jul Amin dalam bahasa Tagalog: ang mga pagpatay na ito ay itinuturing na ‘Wajib’ o obligasyon ng mga Muslim (Pembunuhan ini hukumnya wajib menurut Muslim).

Selama ketercekaman tersebut, tidak ada gay dan lesbian lagi yang terlihat nongkrong di alun-alun kota Jolo. Dia juga menambahkan bahwa gay yang berprofesi sebagai penata rambut sering menjadi sasaran perampokan.

Laporan kekerasan dan diskriminasi lainnya terlihat dalam pernyataan ini:

Adalhin daw ang mga tomboy sa probinsya para mag-training sa military at bibitayin ang mga bakla yung mga pamilya na walang bakla o tomboy ang mga malakas na sumuporta dito (Lesbian akan dibawa ke luar kota untuk menjalani wajib militer ilegal, sedang keluarga yang tidak mempunyai LGBT, selalu bersemangat mendukung program wajib militer ilegal ini).

Kekerasan dan diskriminasi LGBT muslim di Mindanao jauh lebih buruk jika dibandingkan yang terjadi di Luzon. Mereka merasa gembira setelah mendengar adanya RUU Kesetaraan SOGIE yang akan segera diloloskan.

Pengesahkan RUU Kesetaraan SOGIE tentunya akan membawa perhatian serius terhadap nasib kaum LGBT Muslim di Mindanao yang sudah lama mengalami diskriminasi. 

RUU SOGIE merupakan upaya terobosan yang cukup unik, yaitu dengan cara menyatukan suara atas semua agama di Filipina untuk melawan diskriminasi. RUU SOGIE akan membahas kesamaan yang melindungi semua orang tanpa memandang agama, jenis kelamin, dan ras.

LGBT yang biasa disandingkan, dikait-kaitkan, serta digembor-gemborkan dengan suara lantang tanpa beban moral sebagai sumber penyebaran HIV/AIDS, pada dasarnya, adalah hoaks yang bisa dijerat dengan UU ITE. Pengaitan langsung LGBT dengan endemik HIV/AIDS merupakan informasi yang menyesatkan.

Atas alasan tersebut, banyak LSM di Filipina yang memperjuangkan nasib LGBT terhadap hoaks yang telah lama mengakar. Diskriminasi di lingkungan kerja terhadap pekerja dengan HIV di Filipina sangatlah keras, yang meliputi: penolakan, pelecehan, pemecatan sepihak, dan pemaksaan pengunduran diri.

Dalam beberapa kasus diskriminasi yang dicatat oleh Human Rights Watch, karyawan dengan HIV tidak membuat pengaduan secara formal. Alasan terbesar mereka adalah khawatir kondisinya akan terekspos secara luas, yang nantinya akan menyulitkan untuk mendapatkan pekerjaan di masa mendatang.

Dengan adanya kepastian dari RUU SOGIE, pemerintah Filipina bersama rakyatnya dapat segera menjamin kesetaraan dan perlindungan terhadap orang yang hidup dengan HIV. 

Mereka harus mendapatkan perlindungan yang lebih baik dalam pekerjaannya. Masyarakat juga diharapkan mendapat lebih banyak informasi yang benar dan lurus tentang HIV dan LGBT.