Baru-baru ini saya melihat suatu debat di salah satu channel tv. Debat ini tentang makna dari logika Jokowi dan juga Prabowo dalam forum IMF. 

Ketika itu, yang menjadi pembicara adalah Rocky Gerung dan juga Adian Napitupulu. Kalau kita bahasakan secara kasar, dua pembicara ini mewakilkan kedua kubu. 


Pada awal mula perdebatan, kedua pembicara terlihat tenang dalam menyuguhkan argumen. Retorika dan juga dialektika dipergunakan di sana. Suasana terkendali. Tidak ada saling sela dan juga memajukan ego masing-masing. 

Situasi mulai berubah ketika menjelang pertengahan akhir. Yang mana kedua belah pihak saling mencoba untuk mengutarakan pendapatnya. 

Memang, dalam hal ini, Adian Napitupulu lebih keras dalam mengutarakan pendapatnya karena tidak mau mengalah dan memberikan lawan debatnya kesempatan berbicara. Karena pada saat itulah argumen-argumen dari Adian Napitupulu bisa dipelintir dan juga dibalikkan. 

Dengan terus melanjutkan omongannya yang menurut saya tidak perlu didengarkan karena tujuannya bukan untuk didengarkan omongannya tapi agar lawannya tidak punya kesempatan untuk berbicara, dari situlah terlihat bahwa Rocky Gerung “sedikit” mengalah. Bahkan ketika diberi waktu masing-masing berbicara, tetap saja ngotot dalam retorikanya.

Lalu saya juga pernah melihat suatu artikel yang dimuat di Majalah Tempo, 7 Juli 2014. Dalam artikel tersebut, Rocky Gerung menulis tentang demogogi. Dia menyamakan demogogi dengan sabung ayam. Karena, menurutnya, dalam suatu forum debat, di mana dialektika dan juga retorika diuji, masalah etika bukanlah suatu esensi yang terlalu dititikberatkan. Yang menjadi suatu urgensi adalah bagaimana mendapatkan sensasi dari tepuk tangan riuh-rendah penonton. 

Psikologis politiknya beranggapan bahwa membusungkan dada lebih utama daripada menundukkan kepala. Dari situlah ketika argumen dan sentimen membaur menjadi satu. Dan masalahnya adalah sentimennya lebih tajam baunya daripada argumennya.

Kita akan melihat kembali bagaimana kaum sofis pada zaman Yunani dulu. Aliran filsafat ini menjunjung tinggi relativisme, yang mana baik dan buruk segala sesuatu itu bersifat relatif. 

Protagoras adalah yang terkemuka dalam hal ini. Kalimatnya yang terkenal berbunyi man is the measure of all think, yaitu manusia adalah ukuran segala sesuatu. Dia beranggapan bahwa yang menentukan kebenaran sesuatu itu tergantung dari manusianya sendiri. Dalam hal ini, persepsi lebih diutamakan dibandingkan dengan kebenaran.

Sofisme ini memang pintar dalam mempermainkan retorikanya. Mencampuradukkan kebenaran dan juga kebohongan agar terlihat tidak ada bedanya. 

Kalau dalam bahasa inggris, arti dari sophisticated adalah sesuatu yang canggih. Penataan tata bahasa menjadikannya sempurna, high class, dan juga susah dipahami oleh orang biasa. 

Konteks ini akan menunjukkan perbedaan masalah tingkatan intelektual, seakan-akan lawan bicaranya adalah orang awam. Padahal yang benar-benar terjadi adalah fakta yang diputarbalikkan dan juga logika yang disalahgunakan. Maka, dalam berdialektika, kemampuan untuk membusakan dirinya sangat mungkin.

Setelah kita mengetahui sofisme, kita juga akan mengetahui demagog. 

Demagog ini sebenarnya adalah salah satu anak dari demokrasi. Karena demokrasi memberikan fasilitas bagi demagog untuk berkembang. Demagog ini, kalau dalam sejarah, identik dengan pemimpin yang menghasut rakyatnya dengan segala tipu daya. Dia mengangkat isu-isu mengenai rakyat dan membelanya. Seolah-olah dekat dengan rakyat. 

Kita bisa melihat demagog terbesar di dunia, salah satunya adalah Hitler. Dia menggunakan kekalahan Jerman pada Perang Dunia I untuk melanggengkan kekuasaannya. Persoalan ekonomi, sosial, dan politik digoreng sedemikian gurihnya. Pada akhirnya, ketika dia berkuasa, jutaan orang dibantai dan Perang Dunia II dimulai. 

Masih ada pemimpin lain yang seperti Hitler ini. Karena pada dasarnya problem demagog ini akan selalu ada dalam sostem demokrasi ini.

Dalam kaitan dengan ini, kita kembalikan iklim demokrasi yang berdialektika dengan unsur etika. Menggunakan argumentasi yang mengedepankan akal daripada hanya sekadar membuat mulutnya berbusa dengan omongan yang tidak pantas didengar, yang ditujukan hanya untuk memojokkan lawan mainnya saja. Hanya dengan tepuk tangan dari penonton tidaklah menjamin kemampuan seseorang dalam memajukan argumennya.

Debat adalah pelajaran tentang berpikir dan juga beretika. Debat adalah proses pertukaran dialektis dalam beragumen. Ada jual-beli pemikiran di sana. Bukan saling sikut dalam hal sentimen. Masyarakat perlu disuguhkan proses dialektika yang positif. 

Dialek mestinya menggunakan akal sehat. Bukan seperti kaum sofis yang memelintir fakta dan mencampurkan baik dan benar, bijak dan tidak bijak. Juga bukan seperti demagog yang menjadikan mulutnya berbusa karena ingin memperoleh kekuasaan saja. 

Segala hal yang akan menghalangi dipermalukan dan dihakimi. Menyebut dirinya sebagai orang yang mewakilkan rakyat padahal rakyat hanya dijadikan tangga berpijak. Janji-janji manis disodorkan untuk setelahnya dibuang dan diabaikan. 

Tan Malaka pernah berkata, "kita tidak boleh terlalu pesimistis, pun tidak boleh terlalu optimistis, karena kedua perasaan itu akan mudah membawa kita kepada oportunisme.”