Blora, 12 Januari 2019, aku berkunjung ke kediaman Soesilo Toer, adik kandung dari sastrawan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer.

“Hallo, bro, silakan, silakan masuk. Dari mana ini? Tolong pegangin dulu itu tali kambing, nanti masuk rumah,” seloroh laki-laki berjanggut lebat kala aku memasuki halaman rumah tradisional itu.

Aku tak perlu berpikir panjang bergegas menyambut tali kambing jantan itu. Tak lama, selang beberapa menit, hujan deras menyambut. Aku pun masuk rumah yang telah dipersilakan Soesilo Toer, pemilik rumah, dengan sikap dinginnya.

Bro Soes, sapaan akrab Soesilo Toer, adalah penulis “jalanan” yang lahir dari keluarga Toer. “Usia boleh tua, tapi tetap berjiwa muda,” katanya.

Sembari menuntun kambing miliknya, aku berpikir bahwa kami telah lama saling mengenal. Ia seperti sosok kakek yang rela menghabiskan waktu di sisa usianya untuk berbagi ilmu dan pengalaman bersama cucu-cucunya. Bahkan tak ragu ia bercerita tentang pengalaman masa mudanya dengan disisipi celotehan konyolnya.

“Memilih hidup sederhana itu mudah, menjalaninya yang susah.” Bro Soes seolah ingin menjelaskan pilihan hidupnya menjadi seorang penulis, merangkap pemulung. 

Bagi generasi muda, langkah itu bukan perkara enteng. Banyak hal remeh-temeh yang tak kunjung rampung dikerjakan dewasa ini, termasuk bagaimana aktivitas keseharian Soes menjadi pemulung di sepanjang lorong-lorong, sudut kota Mustika, Blora.

“Dengan menjadi pemulung di jalanan, saya ingin memastikan memperpanjang usia barang yang telah (mati). Sepanjang hobi saya ini tidak dianggap terlarang, saya akan tetap merawatnya,” akunya sembari menunggu hidangan mi goreng instan yang sedang disiapkan anak-anak di dapur.

Di usianya yang ke-80an, Bro Soes tetap memancarkan optimisme yang kuat. Ia bekerja dengan kerendahan hati, bahkan sejak dini hari ia sudah bersiap untuk memulung. 

Sesekali aku menatap tajam lukisan Pramoedya Ananta Toer yang terpampang di muka lemari rak buku Perpustakaan Pataba. “Jika Pram masih satu rumah, mungkin ia sedang sibuk di ruangan tempat ia bekerja dan menuangkan ide-ide gilanya. Atau mungkin ia akan mengajakku mengabiskan lintingan tembakau asli nusantara,” gumamku dalam hati.

Mengidolakan seseorang dengan seabreg karyanya tentu tidak afdal jika tak bersua langsung dengan orangnya. Di samping jalan yang terlampau jauh untuk ditempuh dari Semarang, Blora merupakan wilayah dengan destinasi kaya akan sejarah yang jarang dieksplor. 

Orang-orang besar tak sedikit terlahir di kota pensiunan ini, seperti keluarga Toer, Bapak Pers sekaligus Pahlawan Nasional Tirto Adhi Soerjo (Sang Pemula) , Tokoh Islam Indonesia Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, dan Seniman Batik Iwan Tirta.

Tiggareo Ergo Sum

Breem... Breeeem.., terdengar motor yang baru dihidupkan, Sabtu malam, tepat pukul 21.30 WIB, dari arah halaman depan rumah Soesilo Toer. Aku berdiri, jalan menuju pintu rumah untuk memastikan kalau itu suara motor dari arah halaman rumah.

Iya, terlihat Soes tengah bersiap untuk melakukan aktivitas hobinya sebagai pemulung. Kapan ia akan berangkat memulung, memang tak ada jadwal khusus; kadang lebih cepat usai salat Isya. Jika lagi sibuk, sedang menerima tamu misalnya, ia memilih waktu mendekati larut malam. Ia tak sedisiplin Pramoedya Ananta Toer, yang punya timeline untuk aktivitas kerjanya sebagai pengarang.

Soes memilih kerjanya dengan waktu yang cukup fleksibel. Meski ia tidur lebih awal, Soes, jam berapapun bangun, langsung bersiap untuk memulung. Kesenangannya menjadi pemulung, bagi Soes, menjadi salah satu prinsip dasar hidup sebagai manusia.

“Kalau Rene Descartes bilang, Cogito Ergo Sum (ketika aku berpikir maka aku ada), saya bilang, Tiggaro Ergo Sum (ketika aku memulung maka aku ada),” kata Soes.

Lelaku, bertindak, berpikir, dan bahasa perlawanan Soes tak lepas dari ide-ide gilanya Pram. Meski banyak pertentangan antara keduanya.

Banyak hal unik dari cerita Bro Soes, tak terkecuali pengalaman pribadinya bersama Pram seperti yang ia ceritakan dalam salah satu buku pentaloginya Pram, “Pram dari Dalam”.

Soes menceritakan secara blak-blakan tentang Pram sebagai yang memiliki kelemahan-kelemahan di balik karya-karyanya yang gahar. Seolah kami sedang dibacakan apa cerita dalam buku itu secara gamblang, bahkan aku merasakan aroma Pram yang keras dalam mendidik Soes (sebagai adik kandungnya) hadir di tengah-tengah kami.

Soes seakan sedang menuliskan ulang karya-karyanya itu, dan kami harus bekerja keras menampung pengalaman ilmu Soes agar tidak berserakan. Meski pada akhirnya barangkali banyak hal yang tak sepenuhnya kami tampung, setidaknya ini awal mula membiasakan menjadi “santri”yang baik dan pekerja keras seperti yang ditunjukkan dalam laku Soes, penulis jalanan yang merangkap sebagai pemulung.

Di catatan pengantar buku pentaloginya Pram, Pram dalam Belenggu, Soes mengatakan bahwa manusia lahir bukan atas kemauan sendiri dan manusia mati bukan atas keinginan sendiri pula. Pasrah saja. Cuma pesan Pram yang perlu dicatat: berbuatlah sesuatu yang berarti sebelum mati.

Sementara itu dulu, sekelumit cerita dari pertemuan dengan rektor pemilik impian gila, dengan menjadi orang miskin. Kami pamit sekarang, karena dulu belum pernah bertemu.

Pram pernah bercerita masa kecilnya bahwa ia lahir dari golongan feodal, nasionalis kiri. Pram lekat dengan pendidikan nasionalis kiri yang ditanamkan keluarganya. 

Suatu kali, Pram kecil “dipekerjakan” orangtuanya untuk menggembala kambing. Di Desa, tentu pekerjaan menjadi seorang peggembala bukanlah hal yang asing. Orangtua Pram, terutama ayahnya, Mastoer, adalah seorang nasionalis kiri, dan pengaruhnya atas Ibu Pram, Siti Saidah, yang berasal dari golongan feodal, menentukannya menjadi kiri (nasionalis kiri).

Jadi, pendidikan Pram adalah pendidikan menjadi nasionalis kiri sejak kecil. Ibu Pram merupakan seorang ibu yang ideal baginya, bukan karena Pram anaknya, tetapi makin lama Pram makin kenal apa yang dilakukan dan dididikkannya terhadap Pram.

Suatu kali ibu Pram mengatakan, "Janganlah menjadi pegawai negeri, jadilah majikan atas dirimu sendiri. Jangan makan dari keringat orang lain, makanlah dari hasil keringatmu sendiri. Dan itu dibuktikan dengan kerja."

Pram menceritakan apa yang ia pelajari dari ayahnya adalah konsistensi sikap politis dan liberalited. Suatu kali Pram dan teman-temannya main kartu, kebetulan ayahnya lewat dan menyuruhnya berhenti.

“Berhenti, jangan teruskan. Nanti kalau kau sudah berpenghasilan sendiri, kau boleh melakukan sesuatu sesukamu,” kata Pram menirukan ayahnya.

Pram mengembala kambing sebelum usia 17 tahun. Setiap sore pergi mencari dedaunan untuk makan kambingnya. Hingga suatu kali menjumpai kejenuhan di mana ketika anak-anak seusianya justru mencemooh dan mengejek dia, si peggembala kambing. Lalu Pram tak segan mengadu pada ibunya.

“Ibu, saya malu sama teman-teman. Saya malu mengembala kambing. Saya malu karena diejek, lihat itu penggembala kambing, mencari daun untuk kambing,” terang Pram mengadu pada ibunya.

“Kamu itu bekerja untuk diri kamu sendiri. Daripada mereka, menghina tapi tidak bekerja. Semua orang yang bekerja itu mulia, yang tidak bekerja ia tak punya kemuliaan.”

Soesilo Toer memegang kuat prinsip orangtuanya seperti yang diceritakan Pram di atas. Memilih menjadi pemulung, ia melakukan apa yang dikehendaki ibunya: “Jangan makan dari keringat orang lain. Lebih baik makan dari hasil keringat sendiri, dan menjadi majikan atas diri sendiri.”

Bahkan Soes pun melanjutkan Pram kecil, menjadi penggembala kambing. Seingat aku, ada 3 ekor kambing yang di rumah Soes. Awalnya memiliki banyak kambing, hanya ia jual untuk keperluan keluarga. 

Alasannya cukup sederhana: “Kita ternak itu memang untuk dimanfaatkan keperluan kita. Bisa saja untuk disembelih atau mungkin untuk dijual sesuka hati kita,” jelasnya.

Soes menikmati betul pekerjaannya itu. Ia sangat telaten untuk memilah mana barang yang masih punya nilai untuk disimpannya, seperti sendok, arloji, dan barang-barang semacamnya. 

Ia menciptakan nilai lebih atas barang yang sudah mati (terlantar gak ada harganya). Bahkan ia sempatkan untuk menghitung plastik yang ia dapat dari mulung. 

Istilah Soes, benda yang ia miliki hasil mulungnya itu punya Value Absolute. Bahkan itu tidak ada dalam teori ekonomi, katanya. Benda-benda mati yang ia simpan akan hidup lebih lama, dan dapat dipastikan keberlangsungan hidupnya.

Menjadi pemulung, buat Soes, merasakan fungsi sebagai manusia. Bagi Soes, seseorang belum menjadi manusia kalau belum mengetahui hakikat diri sendiri. Karena hakikat manusia adalah ia yang mengenali dirinya sendiri. 

Maka, dengan menjadi pemulung, di situ Soes telah mengenali hakikat dirinya sebagai manusia. “Dengan menjadi pemulung, saya merasa menjadi manusia, bisa menghidupi diri sendiri, keluarga saya dan generasi berikutnya dengan hasil keringat sendiri. Dan saya merasa memiliki fungsi sebagai manusia,” kata Soes.

Ia mengutip Socrates bahwa kematian itu adalah kenikmatan abadi. Dan Soes menirunya, “Memulung adalah kenikmatan abadi.”