Søren Aabye Kierkegaard adalah seorang filsuf eksistensialis berkebangsaan Denmark. Ia lahir pada 5 Mei 1813 dan wafat 11 November 1855 di tempat yang sama, Copenhagen. Ayahnya bernama Mikhael Pedersen Kierkegaard. Ia adalah seorang melankolis yang merasa hidupnya telah dikutuk akibat perbuatan-perbuatan yang telah diperbuatnya.

Pada 1830, Søren masuk Fakultas Teologi Universitas Copenhagen. Pada saat itu juga, ia mulai kritis terhadap patokan-patokan moral dalam lingkup sosialnya, terutama terhadap gereja. Maka dari situ ia mulai tidak percaya terhadap nilai-nilai moral yang ada pada masyarakat.

Hidupnya mulai tidak karuan--minum dan mabuk menjadi kebiasaannya, utangnya menumpuk, kepercayaannya mulai runtuh terhadap tuhan akibat mendengar cerita-cerita ayahnya tentang perbuatannya di masa lalu. Akhirnya Søren meninggalkan rumah ayahnya, dan sempat mencoba bunuh diri pada 1836.

Pada 1838, Paul Møller, guru yang paling dikaguminya, meninggal dunia. Akibat peristiwa ini, ia mulai lagi percaya terhadap tuhan, mulai melakukan pertobatan dengan hidup sesuai standar moral dalam masyarakat.

Hubungannya dengan ayahnya pun yang sempat renggang mulai kembali baik. Namun ayahnya juga meninggal di tahun yang sama. Betapa murungnya nasib Søren Kierkegaard, yang baru saja berusaha mengubah tatanan hidupnya menjadi religius.

Søren akhirnya menyelesaikan tesisnya yang berjudul The Concept of Irony pada 1841. Dan kemudian menjadi Pendeta.

Konsep Eksistensialisme

Pada tahun 1843, Søren menyelesaikan karyanya yang berjudul Either/Or--dengan nama samaran Victor Eremita.

Menurut Søren, yang saya kutip dari Fuad Hasan dalam buku Berkenalan Dengan Eksistensialisme (2018), mengatakan bahwa hidup adalah bukan hanya sekadar apa yang kita pikirkan, tapi apa yang kita hayati. Sebab makin mendalam penghayatan kita terhadap hidup, makin bermakna hidup itu.

Lebih lanjut, Søren kemudian mengkritisi tentang zaman kejayaan ilmu pada abad ke-19 yang memberikan pujian setinggi-tingginya pada akal untuk memahami kenyataan, sehingga apa yang menurut mereka nyata itulah yang akhirnya menjadi kebenaran umum atau universal, bukan lagi kebenaran partikular. 

Dengan begitu, manusia sangat mudah diperdaya oleh kesemuan-kesemuan yang abstrak di balik kenyataan itu yang akhirnya tidak memberikan makna pada hidup.

Kemudian, yang terjadi adalah setiap kenyataan tersebut menjadi bersifat objektif. Sedangkan menurut Søren, pangkal dari segala pengamatan kenyataan itu adalah manusianya--yaitu manusia sebagai kenyataan subjektif.

Dalam karyanya Either/Or itu, Søren kemudian memperkenalkan tentang eksistensi manusia, yang menganggap bahwa yang konkret adalah individual atau subjektif bukan lagi yang objektif. Karena manusia adalah pengambil keputusan dalam eksistensinya.

Tahap Eksistensialisme

Menurut Søren, manusia mempunyai kehendak bebas untuk memilih sendiri jalan hidupnya tanpa ada intervensi dari pihak luar. Maka dari itu ia menjelaskan pemikirannya tentang perkembangan eksistensi manusia.

1. Tahap Estetis

Pada tahap ini, manusia merupakan sosok yang selalu ingin memuaskan segala keinginannya dan kesenangan-kesenangan yang telah diraihnya. Manusia pada tahap ini memandang hidup tanpa tanggung jawab atau komitmen yang menolak aturan atau nilai etika dan moral yang ada pada masyarakat. 

Hidupnya selalu berada pada pemuasan keinginan, yang apabila keinginannya yang satu telah tercapai maka ia akan mencari keinginan yang lainnya. Eksistensi manusia pada tahap estetis ini sebatas pemenuhan keinginan maupun kepuasan jangka pendek.

Menurut Søren, prototipe dalam tahap estetis ini adalah Don Juan. Menurutnya, Don Juan adalah suatu contoh yang tampak ditandai dengan hasrat yang tiada habis-habisnya untuk memuaskan kehendaknya.

2. Tahap Etis

Pada tahap ini, perpindahan nilai-nilai atau transfigurasi yang digambarkan sebagai bentuk peningkatan dari tahap estetis ke tahap etis, yang di mana pemuasan nafsu seksual yang bersifat sementara menuju ke arah tahap perkawinan yang langgeng.

Pada tahap ini juga manusia sudah menerima nilai-nilai moral yang melekat pada dirinya dengan segala konsekuensi yang akan dihadapinya. Søren Kierkegaard mengatakan apabila manusia melihat hidup secara etis, maka ia akan menemukan segala keindahan, makna hidup dan sebagainya.

Prototipe dari tahap etis ini adalah Socrates, yang mati karena rela meminum racun akibat keputusan hukum atau nilai-nilai moral yang berlaku pada masyarakat waktu itu. Padahal Socrates telah ditawarkan oleh teman-temannya untuk melarikan diri.

3. Tahap Religius

Kemudian tahap religius yang telah meninggalkan sikap estetis dan etis sebagai eksistensi. Manusia pada tahap ini menunjukkan keseriusannya pada pertemuan tuhan yang hakiki. Kepercayaan terhadap hal yang bersifat transendental ini dilakukan karena menganggap tuhan telah memberikan kesempatan kepada manusia. 

Prototipe pada tahap religius ini adalah Ibrahim, yang rela mengorbankan anaknya sendiri demi alasan religius. Dengan begitu, Ibrahim percaya pada kebenaran yang hakiki.

Søren Kierkegaard berkata, yang saya kutip dari Fuad Hasan dalam buku Berkenalan Dengan Eksistensialisme (2018), "Tuhan adalah satu-satunya yang tidak pernah kesal mendengarkan manusia".