Marhaen adalah kata yang pertama kali diperkenalkan oleh Soekarno dalam Pledoi Bung Karno di hadapan pengadilan Kolonial Belanda pada tahun 1930 yang berjudul Indonesia Menggugat. Rupanya kata marhaen ini ditemukan Soekarno ketika dirinya bertemu dengan seorang petani di daerah Bandung Selatan pada tahun 1926.

Bagi Soekarno penyebab utama adanya kolonialisasi adalah masalah keberesan rezeki. Soekarno menunjukkan bahwa yang pertama menyebabkan adanya kolonialisasi karena kekurangan bekal-hidup dalam tanah air bangsa Eropa (Iwan Siswo, 2014).

Soekarno yakin bahwa pergerakan akan lahir apabila suatu bangsa sudah terlalu lama merasakan celaka diri yang teraniaya. Dengan demikian, kaum marhaen pun harus mengadakan pergerakan dalam rangka melawan kesengsaraan dan kemelaratannya.

Kepercayaan pada usaha sendiri adalah kunci untuk membangkitkan semangat persatuan kaum marhaen agar dapat mengadakan pergerakan menuju perbaikan nasibnya. Tentu saja pergerakan ini menjadi pergerakan yang politis. Politis dalam artian, mengadakan perbaikan terhadap kesejahteran hidup bersama dalam masyarakat.

Dengan demikian, kemerdekaan dari Pemerintah Kolonial Belanda adalah syarat mutlak yang harus terpenuhi. Kepercayaan pada usaha dan kemampuan sendiri harus terbentuk dari kondisi kesengsaraan dan kemelaratan kaum marhaen yang hendak berjuang keluar dari kesengsaraan dan kemelaratannya sendiri.

Perjuangan kaum marhaen dimulai dengan pembentukan kekuatan atau kuasa dengan moderngeorganiseerde machtsvorming di dalam lingkungannya. Tujuan machtsvorming adalah pembentukan kekuatan karena seluruh riwayat dunia menunjukkan bahwa perubahan-perubahan besar hanyalah diadakan oleh kaum yang menang.

Selama rakyat Indonesia belum menjadi satu macht, selama rakyat Indonesia masih saja tercerai-berai dengan tiada kerukunan satu sama lain, selama rakyat belum bisa mendorong kemauannya dengan suatu kekuasaan yang teratur dan tersusun, selama itu pula kaum imprealisme yang mencari untuk sendiri itu akan tetaplah memandang kepadanya sebagai seekor kambing yang menurut dan akan mengabaikan segala tuntutannya.

Bagi kaum marhaen Indonesia, asasnya adalah sosionasionalisme dan sosiodemokrasi. Masyarakat Indonesia yang dibayangkan Soekarno adalah masyarkat sosionasionalisme dan sosiodemokrasi. Untuk berjuang mencapai masyarakat sosionasonalisme dan sosiodemokrasi, harus ada asas perjuangan.

Asas perjuangan adalah hukum-hukum yang menentukan perjuangan, menentukan strategie dari perjuangan itu. Asas perjuangan menentukan karakternya perjuangan itu, sifat wataknya perjuangan itu, garis-garis besar daripada perjuangan itu. Asas perjuangan marhaen adalah nonkoperasi, machtsvorming, dan massa-aksi.

Nonkoperasi karena Indonesia Merdeka tak akan tercapai dengan pekerjaan bersama dengan kaum sana, machtsvorming karena kaum sana tak akan memberikan ini dan itu kepada kita kalau tidak terpaksa oleh macht kita, massa aksi oleh karena machtsvorming itu hanya bisa kita kerjakan dengan massa-aksi.

Nasionalisme Indonesia

Ketika kita membicarakan perihal bagaimana menjadi seorang nasionalis, penting menyimak pesan Soekarno dalam tulisannya, “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme”. Ia menyatakan:

Nasionalisme sejati yang cinta terhadap tanah air itu bersendi pada pengetahuan atas susunan ekonomi dunia dan riwayat, dan bukan semata-mata timbul dari kesombongan bangsa belaka—nasionalis bukan chauvinis, tak boleh tidak, harus menolak segala faham pengecualian yang sempit-budi itu.

Nasionalis sejati, yang nasionalisme itu bukan semata-mata suatu copy atau tiruan dari nasionalisme Barat, akan tetapi dari rasa cinta akan manusia dan kemanusiaan—nasionalis yang menerima rasa nasionalismenya sebagai suatu wahyu dan melaksanakan rasa itu sebagai suatu bakti, adalah terhindar dari segala faham kekecilan dan kesempitan. Baginya, maka rasa cinta bangsa itu adalah lebar dan luas dengan memberi tempat pada segenap sesuatu yang perlu untuk hidupnya segala hal yang hidup.

Apakah arti kutipan di atas bagi kita dalam rangka usaha menjadi seorang nasionalis? Pertama, Soekarno menulis bahwa nasionalisme sejati yang cinta terhadap tanah air bersendikan pengetahuan atas susunan ekonomi dunia dan riwayat.

Masih dalam kaitan dengan tulisan Soekarno, “Nasionalisme, Islamisme dan Marxime”, kita secara cepat dapat memahami bahwa menjadi seorang nasionalis harus memiliki cakrawala berpikir, pengetahuan atas susunan ekonomi dunia dan riwayat.

Pengetahuan itu berdasarkan pada materialisme historis dan materialisme dialektisnya, Karl Marx. Sebab, hanya dengan materialisme historis dan materialisme dialektis kita dapat mendapatkan pengetahuan atas susunan ekonomi dunia dan riwayat.

Tidak hanya sampai di situ, materialisme historis dan materialisme dialektis dapat dipakai sebagai pisau analisis yang ampuh untuk mengetahui situasi ketertindasan yang terjadi dalam masyarakat.

Kedua, menjadi seorang nasionalis yang cinta terhadap tanah air tidak boleh tidak, serentak pula mencintai manusia dan kemanusiaan yang memberi tempat pada segenap sesuatu yang perlu untuk hidupnya segala hal yang hidup. Maksudnya, dalam relasi kita dengan dunia—tanah air—kita pun tidak boleh melupakan relasi kita dengan sesama karena dalam relasi dengan sesama kita pun menemukan diri kita dalam kemerdekaannya.

Berada sebagai manusia berarti memanusiakan dunia dan sesama. Manusia sebagai mahkluk yang membudaya berperan sebagai tuan sekaligus abdi. Ia bertindak sebagai sebagai tuan dengan menaklukkan alam dan memanusiakan manusia. Tapi dia pun sekaligus menjadi abdi yang membutuhkan alam dan harus menaati hukum-hukum alam serta membutuhkan sesamanya untuk mengakualisasi diri menjadi manusia (Snijders, 2004).

Persis di sini, ada perspektif sosio-ekologis yang sangat dalam yang ditunjukkan oleh Soekarno. Dengan demikian dapat kita pahami, menjadi nasionalis adalah menjadi manusia dengan kapasitas pengetahuan atas susunan ekonomi dunia yang berdasar pada materialisme dialektis dan materialisme historis sekaligus menjadi manusia yang menghayati eksistensinya yang utuh dengan Tuhan, dunia dan kemanusiaannya sendiri.