Maafkan kami, Gie!
Racun Semeru memang menumbangkan jasadmu!
Tapi tidak dengan pemikiranmu.
Ia tumbuh menjalar dan mewabah,
lebih menakutkan dari benalu yang menghantui tanaman kapas para Meneer!
Hari ini, di tahun 1969!

***

Ada kemiripan antara Soe Hok Gie dengan tokoh bernama Joker dalam rekaan Jostein Gaarder dalam novelnya The Solitaire Mystery. Mereka sama-sama adalah tokoh yang berbeda dari lingkungannya dan menyimpan banyak hal. Itulah Soe Hok Gie bagi saya.

Soe Hok Gie atau Gie adalah aktivis mahasiswa pada era Orde Lama. Gie lahir sebagai etnis Tionghoa di era Soekarno, yang sebenarnya menelurkan beberapa kebijakan yang mendeskriditkan etnis tersebut. 

Ketika yang lingkungan Tionghoanya berbondong-bondong mengganti nama dengan nama yang terkesan sangat "Indonesia" atau barangkali Jawa, Gie memilih untuk tetap dengan nama lahirnya.

Disadur dari buku Catatan Seorang Demostran, pada pengantar oleh Daniel Dhakidae yang menjelaskan bahwa kelompok peranakan Tionghoa, kala itu, ingin dipandang sama dengan "pribumi" dengan cara meleburkan identitas mereka sampai tak ada beda antara keduanya. Kelompok ini dimotori oleh Tjung Tin Jan dan Lauw Chuan Tho menginginkan tidak ada kelompok Tionghoa, namun seluruh peranakan harus menyatu dengan suku-suku yang ada di Indonesia.

Keluarga Soe Hok Gie pun menginginkan hal yang sama. Ayah Gie yang awalnya bernama Soe Lie Piet menjadi Salam Sutrawan. Kemudian kakak Gie, Dr. Arief Budiman yang juga adalah Guru Besar Indonesian Studies di University of Melbourne, ikut mengganti nama dari sebelumnya Soe Hok Djin. 

Gie? Tidak! Ia tidak menganggap hal tersebut perlu. Ia yakin bahwa identitasnya sebagai orang Indonesia tidak akan berkurang hanya karena nama dan label sebagai peranakan Tionghoa. Ia melawan!

Gie lahir pada 17 Desember 1942. Belajar Sejarah di Universitas Indonesia dan lahir kembali sebagai aktivis juga di kampus itu. Namun, sikap pemberontaknya lahir jauh sebelum itu.

Dalam catatan-catatan Gie, kita dapat temukan bahwa sejak masa-masa sekolah, Gie sudah berani menyuarakan apa yang diyakininya. Pada tahun 1958, tepatnya 8 Februari, Gie menuliskan ketidaksukaannya terhadap salah seorang guru yang berdebat dengan dirinya di kelas. Bagi Gie, guru yang tak tahan kritik sebaiknya masuk ke keranjang sampah. Karena baginya, guru bukan dewa dan selalu benar; murid bukan kerbau.

Hal semacam ini kerap saya temui ketika saya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) dahulu. Tentu saya tak seberani Gie. Ada beberapa guru yang berlindung di balik stigma dan menghardik anak muridnya karena status sosialnya. Saya pernah lakukan kritik melalui teater. Hasilnya baik, banyak yang mengapresiasi, namun tetap saja, bagi mereka yang tak tahan kritik, semua tembakan dalam dialog saya mental!

Tentu keberanian saya ketika SMA itu dikarenakan Gie dalam refleksi Nicholas Saputra yang melakoninya. Saya masih ingat, saya harus menitipkan DVD-nya ketika ibu saya bertugas ke Jakarta-karena untuk mendapatkan hal itu di Lombok akan sangat memerlukan usaha.

Film Gie garapan Riri Riza dan diproduseri oleh Mira Lesmana itu sangat memprovokasi saya untuk menjadi berani akan keyakinan saya. Di sanalah saya pertama kali mengenal sosok Gie. Saya kemudian mencari tahu lebih jauh. Sampai akhirnya acara Kick Andy di Metro TV menghadirkan pembahasan mengenai film ini.

Saya masih ingat betul, Andy F. Noya bertanya kepada Riri Riza, mengapa film ini perlu dibuat. Kurang lebih Riri Riza menjawab bahwa film ini bukan hanya perlu, tapi juga penting sebagai pengingat bahwa Gie itu ada.

Ya! Saya setuju benar akan hal itu. Selama saya berkuliah, saya menemukan ada banyak orang yang tak mengenal siapa Gie dan apa pengaruhnya. Hal ini saya maklumi, karena Gie memang hanya terkenal di segelintir kalangan yang ingin membaca karyanya atau kalangan aktivis yang dicekoki film Gie ketika dikader dahulu.

Ketika membaca catatan hariannya yang dibukukan itu, saya semakin kagum dengannya. Suatu ketika Gie pernah diundang ke Istana Merdeka dan menemui Bung Karno. Gie sibuk menganalisa. Bagi Gie, Soekarno menganggap dirinya adalah penerus raja-raja pulau Jawa dengan beristri banyak dan membangun istana-istana.

Gie juga jijik dengan kehidupan perkelaminan di Istana yang ia anggap kotor. Ketika Gie keluar dari Istana, dia merasa kecewa dan masygul karena hal itu, dia menganggap dirinya tak sama dengan orang lain yang keluar dari tempat itu dengan wajah riang gembira karena sudah bersalaman dengan Soekarno.

Gie, seorang pecinta alam, adalah alasan saya ingin naik gunung. Gie pernah berujar bahwa naiklah ke Semeru agar tidak Sorharto saja yang paling tinggi di Pulau Jawa. Gie adalah manifestasi dari ucapan banyak orang bahwa jangan mau mati di tempat tidur, maka Gie mati di atas gunung.

Jujur saja, setiap kaki saya menyentuh tanah bergelombang dan berbukit Semeru, hal pertama yang terngiang-ngiang dalam pikiran saya adalah apakah saya akan bernasib sama dengan Gie? Hal itu juga menghantui saya tiap kali berumah pada alam. 

Terakhir kali saya menginjakkan kaki di Puncak Mahameru, saya lebih banyak diam dan duduk dibandingkan berfoto. Entah, saya merasa aneh. Di pikiran saya hanya penggalan-penggalan ucapan dari Gie saja yang berputar. Menghantui saya secara lirih. Pikiran saya menembus alam sekitar hingga ke penderitaan sesama saya.

Barangkali ini yang terus menghantui Gie, pikir saya. Si periang dan banyak omong itu kerap kali menjadi semangat saya untuk terus mau memperbaiki diri. Gie yang malang.

16 Desember 1969, sehari sebelum ulang tahunnya. Gie akhirnya tiada. Gas beracun Semeru turun ke jalur Ayak-Ayak dan membunuh Gie dan Idan Lubis. Gie pergi begitu cepat, sama seperti perkataan Nietzsche yang dikaguminya. Nietzsche berujar bahwa nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, kemudian mati muda; dan yang paling sial adalah mati tua.

Gie telah selamat atas menjadi tua. Tua yang begitu banyak perhitungan dan kompromi dengan idealismenya. Tua yang angkuh dan ambisius. Ia mati dengan menjadi muda selamanya.

Gie sering mengkritik para pejabat, kolonel dan orang-orang dekat dengan penguasa yang sibuk menjilat bukan mengupas teka-teki keadilan untuk rakyat mereka yang menunggu. Gie pernah menuliskan pandangannya mengenai keadilan pada 28 Pebuari 1964: apakah yang lebih tidak adil selain daripada mendidik sebagaian kecil anak-anak orang kaya dan membiarkan sebagian besar rakyat miskin tetap bodoh?

Sebenarnya perkataan Gie terus teraktualisasi di hari-hari pada masa saat ini. Di Kota kecil saya, Praya, pertumbuhan minat pada Bimbingan Belajar (Bimbel) begitu optimis. Sampai saya juga memutuskan ikut Bimbel ketika SMA dahulu. Karena itu saya sadar, terkadang saya hanya disuguhkan dengan angin surga dan ketidakpekaan saya bahwa sekolah sebenarnya tidak efektif dalam mengajar, sehingga saya perlu Bimbel sepulang sekolah.

Tentunya Bimbel tak akan menggunakan dana BOS atau subsidi Pemerintah. Ada uang yang perlu disetor untuk mendaftar yang tentunya punya mereka yang beruang. Saya pernah menemukan ada oknum edukator (tidak di sekolah saya) yang sengaja serampangan mendidik agar anak-anak muridnya ikut les yang dia ampu--tentunya berbayar. Kita memang benar-benar tidak pernah adil.

Ya! Gie sudah memikirkannya, di malam-malam sunyinya dengan mesin tik dan buku catatannya. Di kesendirian memikirkan jutaan rakyat. Kadang saya merasa ditampar oleh almarhum, dalam kesendiriannya dia memikirkan banyak orang. Sedangkan saya yang kerap bermain dalam keramian hanya memikirkan diri sendiri.

Sebenarnya banyak sekali yang bisa kita kupas dari pemikiran liar dan idealis Gie, namun saya memilih untuk menyimpannya sebagi ucapan permintaan maaf di tahun-tahun berikutnya. 

Gie adalah salah satu faktor dan variable saya memilih tidak bergabung dengan golongan mana pun semasa kuliah. Memang Gie pernah mengkaderkan dirinya pada Gerakan Mahasiswa Sosialis (Gemsos), organisasi yang dibina oleh Partai Sosialis Indonesia pimpinan Sutan Syahrir. Namun, Gie tidak pernah sekalipun ingin menjadi robot dari golongan itu. Dia tetap berdiri pada kakinya.

Bahkan Gie aktif untuk mengkerdilkan pengaruh organisasi ekstra universitas pada Sehat dan Dewan Mahasiswa. Gie ingin organisasi intra itu bersih dari kepentingan luar, yang ada hanya kepentingan sehat mahasiswa. Sempai Gie menjadi Ketua Senat Mahasiswa pada 1967 dengan suara mayoritas.

Bukan ingin menyama-nyamakan saya dengan Gie, tapi beliau adalah inspirasi saya. Saya memilih untuk tetap berakal sehat dan memilih menjadi diri saya pada masa kuliah dahulu. Saya berdiri untuk hal-hal yang bagi saya baik, bahkan jika itu bukan dari golongan (yang katanya saya juga terlibat). 

Pemilihan BEM dan DPM di lingkup kampus memang tak jauh berubah dari masa-masa Gie. Masih ada yang menjalankan semangatnya atau hanya sekadar menolak kepentingan luar untuk kepentingan golongannya saja.

Pilihan saya untuk tidak masuk ke golongan manapun, tapi tetap aktif dalam politik kampus, tidak jarang membuat saya kehilangan (sementara) teman-teman saya. Bagi kubu ekstra, saya adalah orang yang sok netral dan hanya tahu antinya saja. Bagi yang tidak ekstra, saya tidak bisa dipercaya, karena saya tidak terlihat memihak mereka secara penuh.

Realitas memang tak berubah banyak dari tahun 1960an itu. Pelajar kita masih sibuk saling sikut. Termasuk saya, barangkali. Oleh sebab itu, saya sering meminta maaf pada Gie.

Simultan dengan menjadi idealis, sebenarnya bagi saya Gie adalah orang yang sangat spiritualis. Memang ia kerap mengkritik agama dan Tuhan, namun bagi saya di situlah titik spiritual Gie. Ong Hok Ham sebagai senior Gie di Jurusan Ilmu Sejarah pernah menganggap Gie adalah seorang moralis yang memiliki agama: logika.

Gie juga pernah mengutarakan kritiknya kepada agama ketika ia bertemu dengan seorang pelayan gereja yang begitu baii dan sopan tutur katanya. Pandangan Gie, jika seluruh pemuka agama seperti pelayan gereja itu, maka orang-orang akan berlomba-lomba ke tempat ibadah. 

Dilihat dari kacamata realitas saat ini, perkataan Gie itu sangatlah relevan. Mimbar-mimbar agama masih menjadi ajang menebarkan kebencian. Meski tidak semua mimbar agama begitu, namun dalam kadar kecil saja, kita sudah perlu khawatir.

Kritik Gie terhadap agama tersebut tidak berarti bahwa Gie anti terhadap agama. Gie, sebenarnya, adalah orang yang anti terhadap praktik-praktik ketidakadilan yang dibungkus oleh oknum-oknum yang membawa sensitivitas agama. Di zaman itu, ketika orang yang sependapat dengan Gie tidak banyak jumlahnya, namun Gie tetap berani melawan dogma yang tidak berperikemanusiaan. Luar biasa memang!

Daniel Dhakidae, dalam pengantar Catatan Seorang Demonstran, berujar bahwa Gie merasakan "Unio Mystica" relung tabrakan mistik yang tidak bisa dijelaskan, beberapa hari sebelum kematiannya. Dalam malam yang macet di Jakarta dan perasaan mistis itu, bahkan Gie masih sempat merasakannya, ia menyatu dengan rakyat yang tidur di emperan toko. Denyut hidup mereka adalah bagian dari perjuangan hidupnya yang tak kenal kata habis.

Hal itulah yang menjadi tulisan-tulisan terakhir sebelum Gie pergi meninggalkan kita. Jasadnya terkubur dan nyawanya melayang, namun tidak dengan semangat dan pemikirannya.

Saya tidak pernah merasa sedekat ini dengan seseorang yang tidak pernah saya temui bahkan sudah mati jauh sebelum orangtua saya berpikir untuk menikah. Begitu dekat hingga setiap tanggal 16-17 Desember selalu emosional bagi saya.

Sekali lagi, maafkan generasi kami, Gie!