"Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin." Soe Hok Gie

Hidup sebagai seorang yang idealis adalah hakikat dari kemerdekaan. Tidak untuk di perjual-belikan oleh harta bahkan mungkin juga kuasa. Soe Hok Gie, adalah salah seorang dari manusia yang merdeka. Ia telah selesai dengan kepentingan dirinya.

Baginya, lebih baik kemudian di asingkan dari pada menyerah pada kemunafikan. Lantang bersuara menentang para kuasa. Menjadi payung bagi kaum proletar adalah tujuan dari ke-manusiaan-nya, sebab, derajat di singgasana tidak lebih mulia dari menjadi hidup kaum dibawa.

Tentu kita paham betul bagaimana Gie, dalam sejarah perjuangannya, patriotis begitu nyata ia tampakkan. Membusungkan dada menolak kebijakan pemerintahan pada masa itu, Soekarno. Ia kerap kali menjadi seorang Arsitek aksi untuk mengonsep sebuah gerakan Long March. Baginya, melihat kaum kapitalis yang justru "kenyang" di tengah ketimpangan ekonomi adalah syarat mutlak untuk tegas menyatakan tidak terhadap kebijakan pemerintah.

"Sebagai manusia saya kira saya senang pada Bung Karno, tetapi sebagai pemimpin, tidak!." Dalam bukunya, Catatan seorang Demonstran.

Tak untuk di nafikan, Gie, ia selain lihai mengonsep sebuah aksi demonstrasi, ia juga adalah seorang yang pertama kali memanifestasikan hakikat cinta yang sebenarnya dalam wujud yang berbeda, sebab, kita ketahui bawa lewat darinya-lah di era ini kita akrab mendengar Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala).

Gie, memiliki cinta yang kuat terhadap Indonesia, tentu dengan caranya sendiri. Ia menunjukan kecintaanya terhadap alam dan masyarakat dengan cara paling sederhana. Bahkan di akhir hayat, bagi saya itulah kematian paling dicemburui bagi pendaki milenial. Ia yang muda, terbaring merdeka di Puncak Mahameru.

"Nasib terbaik adalah tidak di lahirkan, yang kedua, di lahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda." Gie, dari bukunya, Catatan Seorang Demonstran.

Seiring dengan perginya seorang Gie, kita paham betul jika nafas idealismenya tetap hidup menyeruak dalam hiruk-pikuk dunia ke-pemuda-an apalagi ke-mahasiswa-an. Organ-organ dalam Universitas, Fakultas hingga Jurusan menyatu menjadi satu tubuh dan bergerak dalam ruang kecintaan terhadap alam dan masyarakat pada sekarang ini.

Tentunya, pasang-surut dalam kehidupan adalah sebuah alarm dari hukum alam. Kecintaan terhadap Gie, begitu besar hingga kerap kali menyesatkan nafas kecintaan itu sendiri oleh generasi sekarang atau sebut saja mereka: Generasi Milenial.

Buruk bagi saya, entah benar ataukah tidak, keliru mungkin juga tidak, kenyataan dewasa ini adalah simbol-simbol atas ke-mapala-an lebih dikedepankan ketimbang nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Nafas akan ideologi ke-mapala-an terus terjerumus tertelan dalam lembah hedonisme. Implementasi dari nilai-nilai yang menjadi pilar ke-mapala-an seolah raib, tidak lagi menjadi landasan akan kritik terhadap kepekaan alam maupun sosial. Alih-alih generasi milenial malah tumbuh dengan sendiri-sendiri.

Lewat tiap perkaderan ke-mapala-an, tidak lagi kita temukan penanaman pondasi persaudaraan, kebersamaan dan jiwa yang kritis terhadap kepekaan cinta alam maupun sosial yang mulanya di hembuskan oleh Gie, lebih jauh hanyalah sebagai ajang "balas dendam" yang berpangkal disana.

"Ini bukan peloncoan. Ini siklus." Begitu apologi yang menyebar. Layaknya hadir sebagai legitimasi moral.

Kita belum lupa atas trageti pada Tahun lalu, 2017, di awal Januari yang menimpa Tiga mahasiswa Peserta Diksar Mapala UII Yogyakarta, ke-Tiganya mesti kehilangan nyawa saat mengikuti Diksar di Gunung Lawu Lereng Selatan, Tawangmangu, Jawa Tengah. Tidak keliru jika tragedi ini disebut sebagai akibat eliminasi oleh alam, namun sungguh celaka jika takdir di vonis menjadi dalang utama atas peristiwa itu.

Tentu kita paham betul, bahwa demikian itu bukan soal yang biasa-biasa saja, melainkan lebih dari sekadar untuk di jadikan bahan evaluasi semata. Dekadensi akan nilai begitu menampakan diri ke permukaan. Saya yakin, Gie, ia pasti nestapa di alam sana menemukan telah hilang sebuah cinta atas nama ke-mapala-an. Tentunya, kita juga demikian.

Degradasi kepekaan akan nilai-nilai ke-mapala-an seperti tumbuh subur dibiarkan dan diarusi era modern yang kian membludak tumpah ruah. Hal ini begitu nyata dan terus dipertontonkan oleh kaum milenial yang acuh tak acuh, sementara status ke-mapala-annya terpajang rapi hanya sebagai tindak pamer kepada khalayak ramai. Miris.

Patut untuk di sesalkan, begitu terjajahnya idealis oleh kesenangan yang sebenarnya itu sementara dan sia-sia saja. Mendapati generasi penerus yang jiwa kritisnya bahkan tumpul saja tidak, sungguh patut untuk di sayangkan. Tentu tidak menjadi soal jika dalihnya adalah mengikuti evolusi zaman, tetapi jika menggadaikan fungsi ke-mapala-an, bagi saya itu kesialan tersengaja. Lupa diri.

Bagaiamana tidak untuk menyebut kata “menggadaikan fungsi ke-mapala-an”, di ruang ruang yang sifatnya intim akan ke-mapala-an, justru di hegemoni arus social media. Individualis bersarang di dalamnya. Seolah peran terpenting dalam bermapala adalah menunjukkan bahwa Tempat Wisata, Gunung dan terkaitnya telah di taklukan atas nama Mapala.

Oleh karenanya, bagi saya, seorang yang pernah tercatat sebagai anggota Mapala, meyakini jika nafas Mapala akan tergerus oleh zaman modern yang bersemayam ditengah pusaran milenial begitu kencang, sebab pada ruang-ruang intim akan ke-mapala-an tidak lagi di temui diskursus akan ke-mapala-an itu sendiri. Tetapi juga saya yakin, di balik itu, kelak akan lahir satu generasi yang mampu menyeimbangkan antara nilai-nilai ke-mapala-an dan arus era modern.

Salam Lestari…