Awal tahun 2019 merupakan salah satu waktu terpenting dalam sejarah umat manusia. Pada 21 Januari 2019, Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe melalui kantornya meluncurkan roadmap Society 5.0 atau Masyarakat 5.0 yang digadang-gadang akan menjadi super-smart-society berbasis manusia dengan penggabungan antara hasil teknologi Revolusi Industri 4.0 berupa kecerdasan buatan, robotika, Internet of Things (IoT) dan Big Data dengan sistem Sharing Economy (SE).

Masyarakat 5.0 diawali dari masa perburuan dan pengumpulan makanan, kemudian masa bercocok tanam disusul dengan masyarakat industri pasca revolusi industry pertama pecah, kemudian masa informasi –saat ini- dan akhirnya kita akan dipimpin Jepang dalam memasuki masyarakat 5.0 dimana seluruh teknologi informasi dan robotik akan terintegrasi dalam sebuah sistem besar yang akan dijalankan negara secara total, menciptakan smart society dengan tatanan ekonomi baru sehingga dapat menjamin kehidupan masyarakat secara berkelanjutan.

Sharing Economy dan Diskursus Ketimpangan Akses

 

Istilah Sharing Economy awalnya digunakan oleh para pengguna teknologi dari komunitas open-source untuk saling berbagi akses berbasis peer-to-peer untuk barang dan jasaNamun, istilah ini mendapat penggunaan yang luas belakangan ini, termasuk dalam penggunaan business-to-business, misalnya transaksi yang dilakuan di toko online yang mempertemukan ventura bisnis dengan pembeli personal, bahkan ventura dengan ventura. SE yang akan dibahas disini adalah sebuah sistem ekonomi yang memungkinkan semua penggunanya terhubung dalam rantai jaringan produksi sehingga mampu untuk menghasilkan produk atau ide yang bisa diakses orang lain dengan biaya yang minimal.

Dalam sebuah video yang diunggah oleh VICE, Jeremy Rifkin, seorang teoritikus sosial ekonomi yang menyampaikan tentang integrasi revolusi industri ketiga dengan SE, membuat sebuah tesis ekonomi baru sebagai solusi atas melambatnya pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang disebabkan oleh menurunnya produktivitas  yang terjadi di hampir seluruh negara di dunia. Dia mengkritik ketimpangan kekayaan yang terjadi di dunia, dimana gabungan kekayaan 62 orang terkaya di dunia sama dengan sekitar 50 persen kekayaan manusia di dunia, dan memperkenalkan sistem ekonomi dimana produsen adalah konsumen itu sendiri. 

Dia memberikan contoh industri musik dan hiburan televisi yang mulai melesu akibat perkembangan alat musik dan perlengkapannya secara open-source alias gratis, serta tayangan televisi telah tergeser oleh video-video yang diunggah oleh penontonnya dengan kontennya masing-masing. Rifkin menekankan pada zero marginal cost pada tesis ekonominya ini yang berarti tidak ada biaya selisih antara produksi dengan nilai penjualan.

Demi kelancaran SE, Rifkin mengatakan bahwa perlunya infrastruktur yang mendukung. Revolusi Industri 3.0 sesungguhnya telah mendukung hal ini, namun bagi beberapa pakar teknologi, Revolusi Industri 3.0 masih jauh dari ide SE. Penekanannya terletak pada akses teknologi yang masih terlalu timpang dan hanya dikuasai oleh segelintir orang demi kepentingan bisnis, bukan humanisme dan perkembangan peradaban manusia.

Masyarakat 5.0 seperti yang diutarakan Abe merupakan jalan yang tepat bagi Rifkin dalam melancarkan tujuan SE karena ia mengharapkan akses setara terhadap semua lapisan masyarakat, sehingga semua masyarakat dapat bergabung dan berkontribusi bagi perekonomian negara, bahkan dunia. Menghilangkan sekat-sekat primordial, dan membentuk masyarakat yang saling berkolaborasi dan hidup didalam kolektif.

Namun, dibalik ide cemerlang tersebut, sesungguhnya ide tentang SE lepas dari kritik. Kritik dimulai ketika kita melihat cara kerja SE secara praksis. Sebagaimana kita tahu, bahwa kekuatan SE terletak pada teknologi informasi dan akses terhadap teknologi informasi. Teknologi informasi berarti server atau penyedia jasa, -dalam hal ini kebanyakan berupa aplikasi- dan kehadiran korporasi yang menjalankan usaha berdasarkan pendayagunaan teknologi informasi tersebut. 

Fungsi ini adalah sebagai penghubung antara penjual dengan para pembelinya. Dari penjelasan tentang teknologi informasi, maka kita perlu membedah terkait akses terhadap teknologi tersebut. Jika merujuk kepada pengguna internet di seluruh dunia, tentu jumlahnya meningkat setiap harinya. Tentu ini mendukung agenda Masyarakat 5.0. Namun, jika kita melihat kembali secara komprehensif, bagaimana server atau korporasi teknologi mau memberikan akses terhadap semua orang untuk mendapatkan keuntungan secara adil?

"From Each According to His Ability, From Each According His Needs

Mari kita sedikit berimajinasi. Bayangkan sebuah produk teknologi, misalnya teknologi informasi seperti aplikasi anak bangsa karya Tegar Imansyah bernama Ngabarin. Ia mampu memberikan data pertanian dan akuakultur secara realtime. Data-data tersebut bisa berupa kelembaban tanah, kebutuhan air, jadwal pemupukan dan juga serangan hama dan pengingat panen. 

Dan untuk mengolah data-data tersebut dibutuhkan server atau pengendali jaringan. Bayangkan apabila semua petani yang terlibat didalam proses produksi pertanian tersebut memiliki akses yang sama terhadap kepemilikan teknologi tersebut. Ketika tiba waktu panen, seluruh produksi hasil pertanian dikumpulkan pada satu wadah teknologi aplikasi penjualan bersama dan memasarkan hasil panen lewat sistem yang terintegrasi dengan jumlah stok barang. 

Setiap petani kemudian mendata kebutuhan-kebutuhan rumah tangga dan pertaniannya untuk diintegrasikan dengan aplikasi, mendapatkan hasilnya dikumpulkan menjadi sebuah data rata-rata akumulasi kebutuhan kolektif petani tersebut. Kebutuhan-kebutuhan kolektif tersebut kemudian dibelanjakan secara bersama kepada produsennya. Hasil-hasil pertanian tidak perlu dibeli karena dapat dijangkau dari petani sendiri seperti beras, sayuran, ikan dan buah-buahan. 

Kebutuhan lainnya hanya perlu ke distributor pertama untuk dibelanjakan. Sisa laba dari hasil panen kemudian dikembalikan kepada kolektif untuk dikelola menjadi pendapatan daerah. Pendapatan ini digunakan untuk melakukan pembangunan daerah, perawatan alat teknologi serta kebutuhan-kebutuhan penduduk di daerah tersebut.

Konsepnya adalah kebersamaan kolektif, mulai dari kebutuhan seluruh petani, kepemilikan alat teknologi dan informasi, serta distribusi hasil yang dilakukan secara bersama-sama dalam satu platform. Bayangkan apabila konsep kesetaraan ini digunakan pada platform transportasi seperti Gojek, namun tanpa kepemilikan pribadi, dan pengaturan harga dari korporasi. 

Konsep sharing economy dalam Masyarakat 5.0 akhirnya dapat mencapai kesetaraan akses apabila kepemilikan dari platform tersebut tidak lagi dikuasai oleh segelintir orang, namun dimiliki, dikelola dan digunakan secara bersama-sama. Sehingga semua orang punya kendali atas alat produksinya, dan mengonsumsi komoditas yang menjadi kebutuhannya tanpa rasa khawatir perlu makan apa di esok hari.


Referensi :

Hamari, Juho; Sjöklint, Mimmi; Ukkonen, Antti (2016). "The Sharing Economy: Why People Participate in Collaborative Consumption". Journal of the Association for Information Science and Technology. 67(9): 2047–2059. doi:10.1002/asi.23552.

Realizing Society 5.0, Japan Government: https://www8.cao.go.jp/cstp/english/society5_0/index.html