Setelah sempat tiga pekan melakukan kuliah tatap muka semester genap awal 2020 beralih pada mode jarak jauh, seperti yang disebut dalam artikel oleh Whisnu Triwibowo, masih ada kegamangan pengadopsian di dalamnya mengingat perkuliahan daring bukan menjadi suatu hal yang dirancang dari awal.

Namun begitu, pengalaman sebagai pekerja media sosial dan mengaku memilih berkarier di media sosial, menyusun konten digital, atas nama rasa suka membangun interaksi komunitas melalui media sosial, turut membantu saya mengelola perkuliahan jarak jauh.

Dalam pengelolaan perkuliahan, masing-masing dosen pengampu mata kuliah diarahkan membuat grup WhatsApp (WA) kelompok kelas mata kuliah. Saya tidak tahu apakah ini terstandar, yang jelas penggunaan grup WA ini terbilang efektif, walau dengan kekurangannya.

Di luar perkuliahan daring pun, pendekatan ini telah banyak diterapkan di berbagai program studi dengan membuat grup WA angkatan beranggotakan para dosen dan mahasiswa. Di sana para dosen membagikan update dan melakukan perbincangan dengan para mahasiswa dalam kapasitas mereka, tidak hanya sebagai pengampu mata kuliah namun juga sebagai intelektual.

Pengelolaan mata kuliah yang utama tentu mengacu pada jadwal yang ditentukan. Walau demikian, dengan kondisi pembelajaran jarak jauh, penting untuk selalu berkoordinasi menyampaikan pesan terkait perkuliahan pada mahasiswa, termasuk apabila ada materi tambahan. Praktis diperkirakan tiap dosen pada jam kerja harus dapat aktif berkomunikasi dengan para mahasiswa juga di luar jam mata kuliah efektif, ditambah tentunya waktu khusus memberikan kuliah pada mahasiswa pada jamnya.

Dalam mengelola mata kuliah seperti ini, selain hard skill atau technical skill, dibutuhkan soft skill dalam bentuk kemampuan membangun digital engagement atau keterikatan secara digital. Kemampuan yang biasanya kita sering dengar di ranah digital khususnya media sosial.

Biasanya kemampuan ini adalah mengenai bagaimana sebuah brand di media sosial membangun interaksi dua arah dengan audiens. Dengan kemampuan membangun digital engagement, audiens merasa dekat dengan brand. Tidak serta-merta diperlakukan sebagai penonton, namun juga melakukan interaksi dua arah sebagaimana prinsip internet 3.0. Audiens merasa perlu untuk terus mengikuti dan berinteraksi dengan konten yang dibagikan dari situ kita bisa menilai bahwa proses penyampaian pesan berjalan efektif.

Begitu juga dalam pengelolaan jarak jauh, membangun digital engagement antara dosen dan mahasiswa dibutuhkan. Perkuliahan yang selama ini dilakukan masih banyak yang tidak menyentuh para mahasiswa. Belum lagi apalagi bila kuliah sepanjang semester masih sekadar membagikan tugas tanpa penjelasan materi.

Perkuliahan secara daring yang menimbulkan jarak antara dosen dan mahasiswa hendaknya tidak serta-merta menjadi alasan untuk alpa akan membangun interaksi ini. Namun untuk mengganti interaksi tersebut ke ranah digital, lebih lagi membangun engagement di dalamnya, membutuhkan trik khusus. 

Dalam konteks perkuliahan di Indonesia, rumusannya masih diraba bersama-sama mengingat sifatnya yang masih insidental—terdorong krisis korona. Namun sebagaimana istilah ini saya adaptasi dari ranah pemasaran media sosial, tips bagaimana membangun keterikatan dalam perkuliahan jarak jauh juga dapat diadaptasi dari model pemasaran media sosial, antara lain dari tips yang disusun oleh Hootsuite, salah satu aplikasi pengelolaan media sosial terbesar, yaitu:

Define your goal

Tetapkan apa yang menjadi tujuan dalam perkuliahan, materi-materi yang ingin disampaikan dan juga seperti apa keluaran proyek yang ingin dicapai dalam semester, termasuk sejauh mana mahasiswa dapat memahami materi yang disampaikan dan bagaimana pengaplikasiannya. Dengan menetapkan tujuan di awal, kita dapat menyusun pembelajaran jarak jauh dengan baik dan mendetail sampai frekuensi penyampaian.

Know Your Audience

Memahami mahasiswa, generasi secara umum, latar belakang, tak terkecuali budaya populer yang digandrungi oleh angkatan tersebut. Dari sana kita juga bisa melihat bagaimana komunikasi yang efektif bagi mahasiswa yang dituju. Dengan demikian, materi tujuan yang sebelumnya dicanangkan dapat tercapai.

Create Valuable Content

Penting bagi mahasiswa di kampus untuk dibangun kesadarannya akan media. Lebih spesifik, kesadaran bermedia. Hal ini dapat lebih digalakkan saat perkuliahan jarak jauh. Pembelajaran jauh bisa menjadi kesempatan untuk sama-sama saling belajar dan memberi contoh bagaimana menggunakan berbagai media yang ada dengan efektif.

Selain membagikan materi utama melalui sistem, berbagai fitur media sosial juga dapat digunakan, misalnya saja melalui WA story, atau untuk materi yang bersifat pengayaan bisa share melalui media sosial dosen.

Dengan adanya teknologi yang sudah ada tentu kita telah mengenal beberapa aplikasi web-conference macam Zoom, Team, atau video yang telah direkam sebelumnya di YouTube misalnya, untuk memastikan efektivitas perkuliahan. Tentu kita paham bagaimana kekuatan visual dan dampak secara emosi penggunaan teknologi ini ketimbang sekadar teks saja. 

Stay Topical

Setelah menetapkan tujuan dan mengenal dan memahami mahasiswa, sudah menjadi keharusan untuk update dengan info-info terkini. Misalnya dengan mengikuti perkembangan industri, membagikan secara rutin berita-berita dan juga menterjemahkannya melalui slide perkuliahan.

Tidak menutup kemungkinan budaya pop terkini yang sedang in seperti film atau serial bisa diambil pelajarannya untuk studi kasus kuliah. Jadi jangan anggap mahasiswa menonton film melalui layanan streaming artinya plek tidak belajar ya, Bapak-Ibu ISP.

Make a Move

Bergerak aktif dalam melakukan update rutin. Ada dua engagement yang secara disiplin bisa dilakukan antara lain reaktif dalam bentuk respon terhadap input yang hadir, atau yang tidak kalah penting, proaktif melakukan interaksi. Lebih dulu melakukan interaksi baik di grup WA atau medium lain. 

Seperti yang dibahas di atas misalnya, yaitu sebagai pengampu mata kuliah atau membagikan opini perihal isu terkini dalam kapasitas sebagai intelektual publik. Atau malah sesederhana menanyakan kabar atau memastikan para mahasiswa sehat secara jiwa dan raga. Perkuliahan jarak jauh, belajar di rumah, membutuhkan energi sendiri, terlebih bagi mahasiswa dengan kondisi khusus di rumahnya.

Find the Time

Yang utama tentu saja kuliah pada waktu yang telah ditentukan dan seperti yang telah dibahas, secara aktif dan proaktif membagikan materi pengaya atau membahas hal yang sedang ramai saat itu bisa di waktu yang lainnya. Perkuliahan jarak jauh, sebagaimana yang telah dibahas membuat waktu jadi kabur.

Bagi saya pribadi, penghargaan terhadap hari libur dan juga jam kerja penting sebagai cara mendidik mahasiswa menghargai waktu, sekaligus juga mendidik mereka untuk memahami hak mereka nantinya sebagai pekerja apalagi kemungkinan akan bekerja di bidang digital. 

Sumber: