COVID-19 benar-benar memporakkan seluruh lini kehidupan manusia di segala bidang. Gerakan #dirumahsaja marak digencarkan dan digerakkan, baik oleh Pemerintah maupun pihak-pihak terkait lainnya. Masyarakat diharapkan tetap di rumah saja, terkecuali jika ada kepentingan yang sangat mendesak. Orang-orang mulai kebingungan, riuh ricuh bermacam informasi di berbagai media massa, dan internet, tentu saja.

Lantas kemudian, muncullah kehebohan social (media) distancing. Tindakan mengurangi asupan informasi terkait virus corona diramaikan dan lagi, dihebohkan agar masyarakat bisa memilih dan memilah informasi mana yang harus diterima. Untuk apa? Mengurangi tingkat stres dan depresi yang justru akan memperburuk kesehatan.

Di sinilah kita tersadar bahwa ada masalah lain yang mengancam selain virus korona itu sendiri. Tidak lain adalah kesehatan jiwa dan mental yang sesungguhnya teramat penting karena sangat berpengaruh terhadap kesehatan fisik. 

Seperti dikutip dari riliv.co, “Kesehatan fisik yang buruk dapat meningkatkan risiko terganggunya kesehatan mental. Begitu pula sebaliknya, kesehatan mental yang buruk dapat mengakibatkan menurunnya kesehatan fisik.

Jadi, apakah social (media) distancing mampu mengatasi ancaman ini? Mari kita uraikan. Di sini, fokus saya akan mengarah kepada permasalahan media sosial secara umum. 

Jujur saja, gerakan membatasi diri terhadap media sosial merupakan gerakan lama yang sampai saat ini masih sangat digencarkan melihat bagaimana masyarakat Indonesia, mulai dari anak-anak, milenial, setengah dewasa, dewasa, ibu, bapak, semua kalangan tidak lagi asing dengan eksistensi media sosial.

Suatu ketika saya melihat unggahan seseorang yang cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia, atau yang biasa kita sebut sebagai public figure. Sosok ini cukup menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat. 

Pada saat itu, saya bukanlah golongan mereka yang menyebut dirinya haters yang mengumpat dan mencaci di kolom komentar. Dalam urusan semacam ini, saya memilih diam. Akan tetapi, saya menyadari, pada saat itu, saya tetap berkata dalam hati, merutuki unggahan orang tersebut.

Lantas entah pikiran dari mana, tiba-tiba terlintas, “Bagaimana jika hal tersebut (unggahan di media sosial) merupakan cara dia untuk memperoleh kebahagiaan?”

Brakkk, dada saya terasa sesak, merasa tertampar. Membuat saya berpikir, benar juga. Orang-orang memperoleh kebahagiaan melalui cara yang berbeda-beda. Ada yang pergi memancing, jalan-jalan ke mall, maraton drama korea, mengagumi oppa-oppa, dan masih banyak lagi. 

Kemudian otak saya kembali bekerja dan saya pun teringat, sering kali saya terlalu berpikir ketika hendak mengunggah story di Instagram ataupun WhatsApp. “Apa tidak apa-apa? Bagaimana komentar orang-orang?” Sedetik kemudian, “Ah sudahlah, yang penting saya senang dengan mengunggahnya.”

Di sinilah pikiran saya berlanjut. Memang benar kita tidak boleh mengabaikan omongan orang lain. Tetapi sepanjang apa yang kita unggah itu tidak mengandung unsur SARA SARU, menyinggung, menyakiti, dan lain-lain yang bisa membuat kita terkena UU ITE, apakah juga tetap terlarang?

Di sini bukan berarti kita bisa sebebas-bebasnya melakukan apa pun di media sosial. Batas jelas tetap ada. Tapi bukankah batas tersebut bukanlah batas yang justru mengikat dan menjadikan orang ‘takut’ mengekspresikan diri? 

Mengapa tidak kita biarkan saja orang-orang berbahagia dengan mempercantik media sosial mereka, dengan berbagi kehebatan mereka, bahkan dengan mengajak kepada kebaikan? Jika tidak suka, ya sudah, tidak usah dilihat. Tidak perlu merutuk dan mengutuk (petuah untuk diri saya sendiri).

Lah, apa hubungannya dengan social (media) distancing di atas tadi? Ya benar, membatasi informasi sangat bisa membantu mengatasi rasa kecemasan dan kepanikan (saya sendiri pun merasakan). Filter filter filter. Terlebih memang informasi justru mengalir deras dari internet, terutama media sosial melalui broadcast-broadcast dan lagi, story yang diunggah oleh teman, keluarga, kolega, dan lainnya. 

Jika yang dimaksud dengan social (media) distancing adalah mem-filter informasi semacam ini, saya bisa katakan setuju untuk gerakan ini. Tapi jika social (media) distancing diartikan dengan berhenti, stop total dalam menggunakan media sosial, kok dirasa kurang setuju? Bagaimana dengan orang-orang tadi yang menemukan kebahagiaan dengan berselancar ria di media sosial?

Apa yang saya coba katakan di sini adalah mari bersama-sama saling menghargai ‘kesukaan’ masing-masing. Sangat boleh kita berada pada satu sisi, misal, “Saya sangat setuju dengan pembatasan media sosial dalam kehidupan.” Tentu sangat dipersilakan. Tetapi jangan sampai disertai dengan mengusik ‘mereka’, mengatai ‘mereka’ yang sudah telanjur bahagia bersama media sosialnya.

Ngapain sih ginian aja di-update, apa-apa update.” Komentar semacam ini yang harus kita tahan untuk dilontarkan. Mari saling koreksi dan introspeksi diri, terlebih saat ini kita berada dalam bulan yang penuh nikmat dan khidmat.

Covid-19 pasti akan berlalu. Penuhi hari dengan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan membahagiakan versi masing-masing dari diri kita selama tidak merugikan dan mengganggu orang  lain. 

Jadikan gerakan social (media) distancing sebagai gerakan yang membantu kita dalam menghadapi pandemi korona, bukan justru sebaliknya, menambah tingkat stres. Sekali lagi, demi kesehatan jiwa dan mental, juga kesehatan fisik yang akan membentuk pribadi yang sepenuhnya ‘sehat’.

Selalu jaga kesehatan dan kebahagiaan. Semoga semua segera membaik dan mari berjumpa kembali dalam tawa dan canda!