Researcher
10 bulan lalu · 895 view · 6 min baca menit baca · Budaya 38691_44160.jpg
Facebook & Twitter

Social Justice Warrior, Perlukah Ada?

Menurut Injil Yohanes, suatu hari Yesus sedang makan di rumah Lazarus bersama murid-murid-Nya. Lalu datanglah seorang perempuan bernama Maria membawa kendi berisi minyak narwastu, lalu dengan itu ia meminyaki kaki Yesus. 

Melihat itu, Yudas Iskariot berkomentar, “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual 300 dinar (1000 dollar AS atau 14.6 juta rupiah, adalah pendapatan tahunan buruh tani di Kekaisaran Romawi) dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?”

Injil Matius dan Markus menceritakan narasi ini dengan sedikit perbedaan, misalnya: di rumah siapa mereka makan, siapa perempuan yang meminyaki kaki Yesus, atau siapa yang berkomentar sinis itu. Tetapi Yohanes memberi catatan tambahan tentang Yudas: ia berkomentar begitu bukan karena peduli pada orang miskin, tetapi untuk menutupi kejahatannya sendiri yang suka mencuri uang kas kelompok mereka.

Yesus membela Maria, tetapi tidak menyalahkan komentar itu secara langsung. Ia hanya setengah menyindir balik: “Orang-orang miskin selalu ada padamu.” Atau dengan kata lain, “Lha, kamu ke mana aja? Kok baru sekarang membela orang miskin?”

Sikap Yudas ini sebetulnya mencerminkan fenomena “Social Justice Warrior” (untuk selanjutnya kita sebut “SJW”) yang marak belakangan ini. ‘Modus operandi’ yang umum dari para SJW ini adalah ‘menembak’ suatu kejadian, isu atau fenomena sebagai: (1) representasi dari isu atau fenomena negatif yang lebih besar, dan/atau (2) pengabaian atau pemutihan dari isu atau fenomena negatif yang lebih besar tersebut.

Modus pertama bisa dengan mudah terlihat dari isu feminisme. Mereka mengecam film Dilan 1990 yang menyebut Milea ‘cantik’, atau presenter olahraga yang menyebut seorang atlit putri Asian Games 2018 ‘cantik’. Meskipun ngomong sembarangan pada perempuan (atau laki-laki) memang tidak sopan, mereka mengaitkan hal-hal tersebut pada ‘seksisme’, ‘patriarki’, dan ‘pelecehan seksual’.

Satu contoh lagi adalah cultural appropriation (perampasan budaya). Saya kaget ketika ada seorang presenter Indonesia yang memakai hiasan kepala Papua dikecam netizen, “Kau bunuh rakyat Papua, dan kau curi budaya mereka!” 


Hal serupa juga marak terjadi di Barat: orang-orang kulit putih yang memakai sombrero atau kimono dianggap rasis karena ‘merampas’ budaya orang-orang kulit berwarna.

Singkatnya, mereka ingin menunjukkan bahwa fenomena mikro seperti ‘catcalling’ dan perampasan budaya adalah representasi dari ‘rape culture’ dan rasisme. Tidak ada bedanya Anda memanggil perempuan ‘cantik’ dengan mereka yang ramai-ramai memperkosa perempuan sampai mati. Atau menyamakan orang bule yang memakai pakaian Afrika dengan pedagang budak, Nazi atau Ku Klux Klan.

Modus kedua adalah apa yang dilakukan Yudas: kurang lebih menuduh orang ‘menari di atas penderitaan orang lain’. Misalnya tuduhan acara pembukaan Asian Games yang mewah, padahal uangnya bisa digunakan untuk membantu korban gempa di Lombok. Atau seperti ketua BEM UI yang mengkartu kuning Jokowi soal gizi buruk di Papua di tengah pembangunan infrastruktur.

Dalam bentuk yang lebih halus, modus kedua ini menyerang kebaikan atau prestasi seseorang atau suatu kelompok sebagai marginalisasi atau diskriminasi terhadap orang atau kelompok lain. 

Lagi-lagi, Asian Games bisa menjadi contoh. Pujian terhadap raihan emas Lindswell Kwok yang Tionghoa non-Muslim dianggap sebagai pengabaian terhadap raihan emas atlit pribumi berhijab. Dengan kata lain, yak, betul sekali, Islamofobia.

(Kutipan injil Yohanes tersebut bukannya tidak kebal penyalahgunaan oleh orang Kristen. Ada yang menganggapnya sebagai justifikasi untuk membuat gereja atau ibadah super mewah dan mengabaikan kewajiban sosial umat. Jargon “Orang miskin selalu ada padamu” sering dianggap sebagai dalih orang Kristen untuk melanggengkan kemiskinan supaya mereka bisa ‘beramal’ dan meninabobokan orang miskin dengan janji-janji surga. Dalam beberapa kasus, celakanya, tuduhan ini valid.)

Seperti Yudas (setidaknya yang tercatat dalam injil tersebut), para SJW ini punya ‘agenda’ lain, entah terselubung atau tidak. Pola Yudas yang menutupi kejahatan itu adalah contoh ekstrem, tetapi bukan tidak mungkin terjadi. 

Marilah kita berandai-andai menyerah pada kecaman mereka: setelah bayar DP vendor pembukaan Asian Games, acaranya dibatalkan dan sisa anggarannya dialihkan ke donasi gempa Lombok. Mendadak ada aliran dana dalam jumlah besar yang sulit dipertanggungjawabkan. Apa perlu saya lanjutkan teori konspirasi saya?

Yang lebih sederhana dan jelas terlihat adalah motif politis. Tidak melulu soal mengejar posisi atau jabatan, tapi hampir selalu berhubungan dengan politik identitas

Saya mewakili orang miskin, gender terdiskriminasi, agama terzalimi atau suku tereksploitasi. Kamu melakukan sesuatu yang menyinggung mereka, kamu melakukan sesuatu padahal mereka sedang susah, maka kamu adalah bagian dari kelompok penindas. Mereka sebenarnya sedang memainkan narasi kita vs mereka.

Argumen-argumen para SJW ini bukannya tidak bisa dibantah, walaupun tidak selalu mudah. Misalnya saja: mengapa pria mengatakan ‘cantik’ pada atlit putri dianggap pelecehan seksual, tetapi kaum hawa yang jelas-jelas menyemburkan komentar seksual pada Jonathan Christie yang sedang ganti baju dimaklumi? Atau, mengikuti pola Yesus: “Kamu ke mana aja?” 

Ya, apa sih yang sudah dilakukan para SJW ini? Apakah mereka sudah jadi bagian dari solusi, atau hanya mengipas-ngipasi masalah?


Saya maklum jika Anda menganggap dua model bantahan ini sebagai logical fallacy ‘whataboutism’ karena tidak mengoreksi argumennya, tetapi menyerang kemunafikan mereka. Jangan lupa, mereka bukannya tidak siap dengan logika mereka sendiri. 

Misalnya: memanggil perempuan ‘cantik’ akan dianggap jahat tetapi menyuruh si Jojo buka celana sekalian adalah candaan wajar, adalah bentuk perlawanan terhadap sang akar kejahatan seksual yaitu: ‘relasi kuasa gender yang tidak setara’.

Memang lebih baik jika mereka dicerahkan dengan logika dan data. Misalnya, apakah ada penelitian yang membuktikan bahwa catcalling (psikis) berujung pada pemerkosaan (fisik). Atau apakah ‘relasi kuasa’ itu berlaku universal dan setiap saat (misalnya dalam acara olah raga). Atau membuktikan bahwa bantuan korban gempa di Lombok sudah lebih dari cukup sehingga tidak mengganggu pelaksanaan Asian Games.

Lalu bagaimana? Apakah para SJW ini hanya menjadi sampah munafik yang perlu disingkirkan masyarakat? Walaupun saya menjunjung tinggi petuah Kierkegaard; atas nama prinsip kebebasan berbicara, saya tidak sependapat. 

Masyarakat dan negara memerlukan para pengingat problem, dengan catatan: agenda pribadi, kemunafikan dan sikap permusuhan mereka bisa dikesampingkan, syukur-syukur dihilangkan sama sekali. Tetapi, para pengingat ini perlu diingatkan juga untuk bergerak dari wacana menuju tindakan.

Saya pernah melihat seorang arsitek berbicara di forum TEDx. Menurutnya, antrian toilet wanita di mal cenderung lama bukan karena perempuan suka berlama-lama di toilet, tetapi desainnya sangat tidak ramah perempuan. 

Lalu ia berbicara berputar-putar tentang para arsitek pria (seperti dirinya) yang tidak peduli kebutuhan wanita, hegemoni patriarki dalam desain bangunan, perlunya desain yang lebih inklusif pada semua gender dan sebagainya. Saya menunggu-nunggu presentasi desain toilet yang ramah gender itu, eh ternyata tidak muncul sama sekali!

Begitulah, mereka seperti berteriak “Awas pemanasan global!” kepada orang yang menyalakan lilin waktu mati lampu. Yang perlu dilakukan adalah menggerakkan para SJW ini dari pola pikir mikro mereka menuju dunia makro yang nyata. Jika memang ada masalah makro, bukan isu minor yang harus dipanas-panasi; masalah makro itulah yang harus ditanggapi dengan tindakan, meskipun awalnya kecil saja.

Misalnya, daripada meributkan catcalling, sudahkah kita peka pada perempuan tetangga kita yang suaminya suka KDRT? Kalau ‘agresi mikro’ semacam itu adalah masalah, sudahkah kita mengajari anak-anak kita sendiri untuk tidak melakukannya? Jika kita menuduh orang lain tidak peduli kemiskinan, sudahkah kita sendiri menolong orang miskin? Jika merasa agama kita dinista, sudahkah kita menghormati kepercayaan orang lain? Kenapa kita baru ‘mencintai’ budaya sendiri setelah ‘dicuri’ orang?

Setelah itu barulah kita siap menuju problem yang lebih besar: kesetaraan gender, ketimpangan ekonomi, diskriminasi minoritas, kerusakan lingkungan dan sebagainya. Jika dalam taraf mikro kita sudah tidak menyerang orang, maka kita siap menghadapi problem besar itu secara logis. 

Saya masih percaya bahwa jika kita bisa memenangkan logika berpikir orang lain, maka tidak perlu lagi ada kita vs mereka. Semua menyumbang ide dan tenaga untuk sedikit demi sedikit mengurangi problem kemanusiaan.

Jika tidak, mohon maaf, istilah Social Justice Warrior menurut saya tidak pantas. ‘Warrior’ berarti ‘Pejuang’, dan seorang pejuang bertindak. Lebih tepat mereka disebut Social Justice Whistleblower, yang cuma bisa nyemprit orang tapi tidak mau mengotori tangan. Atau mungkin boleh juga, Social Justice Wacana-er. Wacana melulu, tanpa solusi.


Artikel Terkait