Jangan dikira saudara perlu belajar hanya waktu masih muda. Jamaknya, orang belajar saat masih muda, menjadi pelajar atau santri, kemudian menimba ilmu, kemudian berilmu, kadang-kadang sampai merasa benar-benar berilmu sehingga tak merasa berat hati ketika ia dipanggil guru, gus, ustaz, doktor, prof, apa pun. Lalu ia pun berhenti atau setidaknya mengurangi kadar belajarnya.

Padahal jika saudara paham, proses belajar paling krusial terjadi ketika saudara sudah dewasa. Karena biasanya ketika kita merasa sudah dewasa, kita jarang merasa perlu untuk mendewasakan diri dan untuk mencapai kebijaksanaan. Di tengah-tengah kelengahan itulah kita sangat butuh belajar.

Semua orang tahu cerita Musa. Ia adalah guru bagi semua orang. Kitab Taurat yang ia terima menjadi pedoman bagi umat-umat—bahkan nabi-nabi—sesudahnya. Sampai sekarang pun masih ada orang-orang yang menggunakan Taurat sebagai pedoman. Saking istimewanya ia sampai-sampai namanya paling sering di sebut di dalam al-Quran. Tak satu nabi pun yang namanya disebut lebih sering daripada namanya.

Saya tidak akan bercerita terlalu banyak tentang Musa. Jika saudara hobi menelaah al-Quran, dan khususnya rutin membaca al-Kahfi setiap Jumat, saudara tentu sudah akrab sekali dengan cerita Musa. Saya hanya ingin berkata bahwa tahap belajar paling penting pada hidup Musa terjadi justru saat ia sudah mencapai tingkat tertinggi dari nubuatnya, saat ia sudah menuntaskan mukjizat-mukjizatnya, saat ia telah menerima Taurat seutuhnya.

Atas perintah Allah, Musa berjalan ke tempat yang sangat jauh untuk belajar kepada seseorang. Saat ia pada akhirnya bertemu orang itu, ternyata orang itu memang hanyalah “seseorang.” ’Abdan min ‘ibaadinaa secara harfiah berarti “sembarang kawula.” Bukan sembarang orang dengan martabat tertentu, tapi sembarang kawula, hamba, budak sahaya, bukan siapa-siapa.

Bahkan kata ’abdan pun tidak ditempeli artikel makrifat al untuk menerangkan bahwa ia adalah seseorang yang tertentu. Kenakirahan identitasnya menegaskan bahwa ia bukanlah guru, bukan ustaz, bukan kyai, bukan gus, bukan doktor, bukan pula al-‘abdu. Bahkan namanya pun tidak Allah sebut dalam al-Quran.

Bayangkan, orang yang namanya paling sering disebut di dalam al-Quran diperintahkan untuk belajar kepada sembarang orang yang bahkan namanya tidak Allah sebut sama sekali.

Lalu apa yang membuatnya begitu istimewa? Allah menerangkan kepada Musa bahwa orang tersebut aatainaahu rahmatan min ‘indinaa wa’allamnaahu min ladunnaa ‘ilmaa, orang itu dianugerahi ilmu oleh Allah, tapi sebelum ilmu, ia telah terlebih dulu mendalami, menghayati, menggali, dan memanifestasikan Sifat Welas Asih Allah. Ilmu memang penting, tetapi rahmat dan kasih sayang tetap prioritas.

Musa berkata kepada orang tersebut, “hal attabi’uka ‘alaa an tu’allimanii mimmaa ‘ullimta rusydaa?” “Bolehkah saya ikut saudara supaya saya bisa belajar menjadi lebih dewasa dan bijaksana berbekal apa yang Allah telah ajarkan kepada saudara?”

Orang itu memperingati Musa, “innaka lan tastathii’a ma’iya shabraa,” kau tak akan pernah bisa sabar bersamaku.

Pencapaian ilmu dan syariat Musa memang sudah paripurna. Namun, sebenarnya keparipurnaan itulah yang acapkali menjadi kelemahannya. Ia sering lengah ketika berhadapan dengan realitas, terutama jika realitas tersebut tidak sesuai dengan norma, hukum, ilmu, dan syariat yang ia pahami. Itulah kenapa ia membunuh ketika masih di Mesir. Itu pula ketika ia begitu sulit menerima alasan Harun ketika kaumnya kembali menyembah berhala.

Musa tidak bisa sabar ketika harus menghadapi realitas dengan cara yang secara radikal menyalahi norma, walaupun sangat mungkin cara itulah yang sebenarnya dibutuhkan. Silakan saudara baca dan pahami selengkapnya cerita tersebut dalam Surat al-Kahfi.

Namun, Musa memiliki satu kelebihan istimewa: ia tidak sungkan mengaku bersalah, menyadari kesalahannya, dan memohon ampun ketika ia lengah, bahkan sekalipun apa yang dia lakukan sebenarnya secara syariat dibenarkan.

Ada beberapa contoh kasus. Setelah ia melakukan pembunuhan, yang sebenarnya layak dilakukan karena ia membela seseorang yang lemah, ia segera memohon ampun. Rabbi innii zhalamtu nafsii faghfir lii, “Tuhan, aku telah berbual lalim terhadap diriku sendiri. Ampunilah aku.” Maka serta merta Allah mengampuninya, faghafara lahu.

Sesaat setelah ia marah menarik-narik jenggot Harun sampai warnanya berubah, ia lagi-lagi langsung sadar dan meminta ampun. “Rabbighfir lii waliakhii waadkhilnaa fii rahmatika waanta arhamur raahimiin,” “Tuhan ampuni aku dan juga ampuni saudaraku dan masukanlah kami ke dalam pelukan kasih sayang-Mu karena Engkaulah yang paling penyayang.”

Musa memang sulit untuk bersabar, tapi kemampuannya untuk menyadari kesalahannya dan memohon ampun akan kesalahan tersebut adalah sifat yang pada akhirnya mengantarkannya mencapai puncak kebijaksanaan.

Mari kita beralih ke masa sekarang.

Pada saat ini, ada ustaz-ustaz dan kyai-kyai yang berdebat keras hanya karena masalah innii wajjahtu dalam doa iftitah. Ada yang hafal kitab-kitab bahkan sampai ke baris dan halamannya lalu merasa paham segalanya. Ada pula orang-orang yang merasa begitu paham dengan ayat-ayat, hadis-hadis, kitab-kitab fikih, lalu merasa paling berhak untuk menentukan hukum-hukum: ini halal, itu haram, ini muslim, ini kafir, dan sebagainya.

Saya tidak meragukan keparipurnaan keilmuan mereka. Saya sangat yakin bahwa ketika saudara minta mereka baca ayat apa pun di surat mana pun, dalam hitungan sepersekian detik mereka langsung bisa membacanya di depan saudara. Saya juga yakin bahwa bacaan mereka terhadap kitab gundul sama tartilnya dengan bacaan al-Quran mereka.

Namun, apakah benar mereka sudah memprioritaskan rahmat sebelum ilmu? Sudahkah mereka mendalami dan memahami realitas sebelum berfatwa? Apakah mereka sudah begitu bangga dengan keustazan mereka sampai-sampai merasa lebih cocok menjadi pengajar dan lupa begitu saja akan karier sejati mereka sebagai pembelajar? Tidakkah mereka paham bahwa pencapaian tertinggi dari seseorang—baik dalam bidang ilmu maupun agama—adalah dengan menjadi “bukan siapa-siapa,” ’abdan min ‘ibaadinaa?

Ketahuilah saudara-saudara, keadaan pernah tidak seberisik sekarang. Ada masa ketika orang-orang tidak begitu ribut tentang hukum menikmati musik, hukum bermain catur, dan sebagainya. Ada masa ketika orang-orang tidak begitu direpotkan oleh hukum bank konvensional. Ada masa ketika bahkan para nyai pun tidak begitu repot untuk memakai kerudung sekedarnya. Ada masa ketika orang tidak saling marah hanya karena berbeda keyakinan, atau berbeda pemahaman terhadap keyakinan.

Saya pernah mengalami hidup rukun dan bertetangga dengan komunitas Ahmadi selama bertahun-tahun tanpa pernah membayangkan bahwa suatu saat di masa depan, masjid mereka akan begitu mudahnya dibakar.

Mengapa suasana seperti itu bisa terjadi? Karena umumnya para pemuka agama terdahulu memprioritaskan rahmat sebelum ilmu. Mendalami dan memahami realitas terlebih dahulu sebelum membuka-buka kitab kuning kalau diperlukan. Mendahulukan apa yang diperlukan oleh realitas lalu mengaplikasikan kemantapan ilmu mereka secara lebih fleksibel.

Apakah kesimpulan itu hanya rekaan saya? Mari kita lihat beberapa contoh. Konon, KH Sahal Mahfudh hidup bertahun-tahun dengan para petani untuk bisa memberikan fatwa-fatwa yang memudahkan mereka, khususnya dalam masalah perekonomian. Saudara bisa membaca metode pendekatan fikihnya yang fleksibel dalam buku Nuansa Fiqh Sosial. Ada pula cerita dari KH Saifuddin Zuhri bahwa ayahnya, KH Muslim Imam Puro, gigih melarang pembantaian anggota PKI di desanya karena ia lebih suka mengajak mereka menuju pertobatan dengan cara yang damai.

Kita memang sulit untuk melakukan ijtihad dengan keterbatasan ilmu kita, tapi itu bukan berarti bahwa kita harus bersikap kaku, apalagi marah. Saya secara pribadi merindukan masa-masa tersebut, ketika Islam itu ramah dan tidak marah, ketika para pemuka agama menghayati peran mereka sebagai ’abdan min ‘ibaadinaa, menjadi pelayan bagi Allah dan kaum awam, dan bukannya menuntut pelayanan dari Allah dan kaum awam.