Dua orang berompi jingga mengangkat anjing hitam dengan tandu. Orang-orang sini menyebut anjing itu Sneki. Aku sempat mengintipnya, ia tampak mengenaskan. Perutnya berlubang akibat ledakan. Anjing itu mati. 

Menurut kasak-kusuk, perut anjing itu kena peluru panas. Peristiwa ini jadi “ucapan selamat datang kembali” yang tidak mengenakkan bagi orang yang masuk hari pertama kerja lagi, termasuk aku. Bau amis pekat menyambar lembar-lembar bulu hidung dan bikin beberapa orang ini muntah. Ada beberapa polisi yang bertugas menangani perampokan yang gagal semalam. Saksi utama itu kejadian itu adalah Pak Kasman.

Sneki awalnya dinamai Bleki oleh Pak Kasman, satpam yang membawanya ke komplek ruko ini. Sebuah nama sederhana karena warna hitam rambut di tubuhnya. Namun, sebagian orang menyebutnya Sneki karena anjing itu sering diberi makanan sisa snack, yang tak habis dilahap orang saat rapat. Akhirnya, sebutan Sneki lebih populer.

Ngomong-ngomong soal makanan sisa, di masa pandemi covid-19 ini Sneki kurang mendapat pasokan karena tak banyak orang yang berangkat ke komplek ruko ini untuk berkantor. Sebagian kantor merumahkan karyawannya, termasuk aku. Untungnya, aku tak di-PHK, seperti beberapa temanku dari kantor berbeda, tapi hanya satu bulan dirumahkan sebelum dipanggil untuk kerja lagi. 

Kurangnya makanan bikin Sneki kurus kering, matanya sayu seringkali tak bersemangat. Untungnya Pak Kasman hampir setiap hari membawakan Sneki makanan dari rumahnya, walau sedikit.

Pernah sepulang lembur, jauh sebelum kejadian ini, aku nongkrong di pos satpam. Waktu itu, Pak Kasman bercerita soal Sneki. Katanya, suatu ketika manajemen ruko ingin ada anjing di komplek ruko itu, supaya bikin bergidik orang yang berniat maling. Sayangnya, mereka tak punya bujet untuk membeli anjing penjaga yang layak. Akhirnya, Pak Kasman diberi misi menemukan anjing apapun yang bisa ditemukan. Yang penting anjing. 

Pak Kasman sepertinya tak mengerti soal anjing. Dia menemukan Sneki, yang dulunya entah siapa namanya, di pasar induk tak jauh dari komplek ruko.

“Pak kasman pak kasman, mosok anjing Golden Retriever dijadikan anjing penjaga? Gimana toh? Ndak jelas.” komentar temanku, Siswanto, sambil terkekeh. Namun, Pak Kasman tak ambil pusing ledekan itu. Seperti titah manajemen ruko, “Yang penting anjing!” katanya.

Namun, sebagai anjing, Sneki memang sama sekali tak punya wibawa. Cemen, kalau kata Arinda, temanku. Soalnya, pernah dia berbagi kudapan sisa rapat, sementara itu, ada dua kucing lari mendekat juga memburu sisa kudapan itu. 

Bukannya menjadi sosok yang sangar, Sneki malah keok lalu berlari menjauhi dua kucing lapar itu. Setelah itu, ia hanya menonton dua kucing itu menyantap makanan itu. Rupanya anggapan kucing takut pada anjing itu hanya sekadar opini. Faktanya tak selalu begitu.

Sneki menjadi pelengkap dua satpam yang menjaga komplek rukan, yang malah lumrah disebut ruko, ini setiap malam. Sebetulnya, jumlah penjaga itu kurang layak. Bagaimana tidak, ada dua koperasi dan satu BPR yang berkantor di sini. Saat malam, keadaan sepi karena tidak ada satupun rukan yang ditinggali layaknya rumah.

Semalam ada maling membobol dua koperasi itu di komplek ruko ini. Dua koperasi itu bidang usahanya adalah simpan pinjam. Jika dipikir-pikir, sebetulnya koperasi ini mirip dengan bank. Mereka menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan pinjaman kepada anggotanya. 

Jadi masuk akal juga kalau jadi sasaran disatroni maling karena menyimpan sejumlah uang di brankas mereka. Meskipun mirip bank tapi dalam segi keamanan mereka tidak seketat bank sehingga bank di ruko itu malah tidak disatroni maling.

Dari cerita Pak Kasman, dua maling itu kepergok saat memasukkan uang dari brankas ke dalam karung. Setelah puas mencuri uang dari satu koperasi, dua maling itu beralih ke koperasi di sebelahnya. Nah, di koperasi yang kedua ini mereka ketahuan karena digonggongi Sneki. Mendengar Sneki menggonggong, Pak Kasman dan Mas Mando bergegas mendatangi asal suara itu.

Perkelahian tak terelakan. Dua satpam dan dua maling saling melancarkan serangan dengan serampangan. Pak Kasman kewalahan melawan kedua maling karena Mas Mando sudah dilumpuhkan lebih dulu dengan pukulan benda tumpul di kepala. Dalam keadaan itu, pentungannya entah terlempar kemana membikin Pak Kasman pasrah. Mungkin ini malam terakhir hidupnya, pikirnya. 

Saat itulah Sneki menerjang salah satu maling. Ia menggigit kakinya. Saat maling itu bersusah payah membebaskan diri, maling yang lain bisa diatasi Pak Kasman.

Merasa terdesak oleh Pak Kasman, maling itu mengeluarkan pistol rakitan dari celananya. Ia mengacungkan pistolnya ke arah Pak Kasman yang seketika itu terpaku. Namun, ia tampak ragu melepaskan tembakan. Ia malah memerintah Pak Kasman untuk menyuruh Sneki melepaskan gigitan pada temannya. Pak Kasman menurutinya, tapi Sneki tegar tengkuk, ia tetap menggigit meski maling itu yang terus meronta. 

Maling pemegang pistol itu panik lalu menembak langit-langit. Tampaknya, ia ciut membayangkan ganjarannya jika membunuh orang di depannya. Terkesiap oleh bunyi tembakan itu, Sneki melepaskan gigitannya lalu belingsatan mencari tempat sembunyi, sementara itu Pak Kasman tiarap.

Maling pemegang pistol pun mendekati rekannya, lalu memapahnya. Mereka sadar bunyi tembakan bakal membuat komplek ruko ini dikerumuni orang, bahkan polisi. Ketika kedua maling itu melarikan diri, tiba-tiba maling yang sempat kena gigitan tersungkur. Rupanya Sneki tak mau melepaskan maling itu. Ia menggigit tepat di kaki yang sama. 

Maling lainnya makin panik. Ia tak ragu melepaskan tembakan. Pistol diarahkan ke Sneki dan dalam tiga tembakan serampangan, perut Sneki kena peluru panas itu. Sial bagi maling satunya, ia pun kena tembakan di bagian selangkangan. Maling penembak makin panik. Ia tak lagi peduli pada rekannya dan lari kocar-kacir.

Kira-kira begitulah Pak Kasman berkisah. Dengan kalem, ia beriwayat, padahal baru saja mengalami kejadian traumatis. Ia menuturkan kesedihan atas matinya Sneki dengan datar. Seolah-olah kejadian semalam tidak mengeratkan ikatan emosi yang terjalin antara mereka.

Beberapa hari kemudian, aku dengar kabar. Pak Kasman bilang, menurut polisi, maling-maling itu residivis. Mereka sempat dipenjara gara-gara merampok juga, sebelum akhirnya bebas dalam waktu lebih cepat karena mendapat remisi. Dari maling yang kabur lalu berhasil ditangkap, kabarnya, pelaku itu ada satu orang lagi yang bertugas menyupiri maling lainnya. Tapi si supir maling itu langsung tancap gas saat kekacauan terjadi.

Menurut temanku, kebijakan pemerintah membebaskan narapidana di tengah pandemi covid-19 memang aneh. Ia bilang, “Orang-orang menahan diri keluar rumah, kok ya yang sudah terkunci di dalam penjara malah dibebaskan. Lha iya kalo mereka punya tempat kembali, rumah atau keluarga misalnya. Tapi kalau tidak ada, mereka ya berkeliaran di jalanan. Sekarang orang bukan hanya berhadapan dengan ancaman virus tapi juga residivis kambuhan.”