Dewasa ini Indonesia memiliki masalah yang perlu mendapatkan perhatian lebih, yaitu kasus pelecehan seksual. Pelecehan seksual adalah tindakan yang berhubungan dengan seks yang tidak diinginkan, termasuk permintaan melakukan seks dan perilaku serupa, baik secara fisik maupun verbal yang merujuk pada kegiatan seks.

Marcheyla mengatakan bahwa hingga sekarang masih banyak perempuan dari berbagai belahan dunia yang masih mengalami kekerasan dan pelecehan seksual.

Pelecehan seksual bisa terjadi kepada laki-laki dan perempuan dari berbagai latar belakang pendidikan, usia, agama, dan suku. Seperti yang dilansir oleh tempo.com, KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) menyebutkan pada 2018, jumlah korban pelecehan seksual didominasi oleh anak laki-laki. Terdapat 122 korban laki-laki dan 32 korban perempuan. 

Dewasa ini, pelecehan seksual tidak hanya terjadi pada perempuan yang menginjak usia matang. Terdapat beberapa kekerasan dan pelecehan seksual yang menimpa anak-anak.

Edwin Partogi Pasaribu selaku Wakil Ketua LPSK (Lembaga Penanganan Saksi dan Korban) menyatakan bahwa angka kekerasan seksual dari 2016 sampai 2019 terus naik. Lembaga tersebut setidaknya mengkaji 4 kasus dalam setiap minggunya. Selain Edwin, Rita Pranawati selaku Wakil Ketua KPAI menyatakan dari Januari hingga Mei 2019, terdapat 1.192 kasus berupa pemerkosaan, pencabulan, inses, dan pelecehan seksual terhadap anak.

Pelecehan seksual yang terjadi pada usia dewasa atau anak-anak cenderung meninggalkan dampak traumatis yang luar biasa. Trauma yang dialami oleh korban pelecehan seksual akan menyebabkan depresi, stres, phobia, dan cenderung takut terhadap orang lain tanpa alasan yang jelas.

Bahkan bagi korban yang mengalami trauma sangat hebat, besar kemungkinan ia memiliki dorongan untuk bunuh diri. Fakta ini terbukti berdasarkan hasil penelitian oleh MS Magazine (Warshaw, 1994) yang menunjukkan bahwa 30% dari korban yang mengalami perkosaan mencoba untuk melakukan bunuh diri, 31% mencari psikoterapi, 22% mengambil latihan sejenis bela diri, dan 17% tidak dapat melupakan kejadian yang telah menimpanya.

Menurut hemat saya, Indonesia akan jauh dari kata maju apabila kekerasan dan pelecehan seksual masih merajalela. Mengapa demikian? Karena generasi penerus bangsa telah mati secara mental.

Bayangkan saja jika terdapat 4 kasus pelecehan dan kekerasan seksual dalam satu minggu, maka dalam kurun waktu tiga tahun mendatang akan banyak generasi muda bagaikan mayat hidup. Mereka tetap hidup menjalankan aktivitas sehari-hari, akan tetapi jiwa dan mental mereka beku akibat trauma yang berkepanjangan.

Lantas apa yang dapat dibanggakan dan diharapkan dari generasi muda yang sudah tidak memiliki semangat untuk hidup?

Menghadapi persoalan pelik seperti ini, saya berharap Indonesia memiliki sebuah terobosan baru dalam bidang teknologi untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual. Seperti pada negara Jepang, mereka memiliki sebuah aplikasi yang bernama “Digi Police”.

Digi Police diluncurkan 3 tahun yang lalu dan dikembangkan oleh Kepolisian Metropolitan Tokyo beberapa bulan yang lalu. Aplikasi ini digunakan untuk melindungi diri dari pelaku kekerasan dan pelecehan seksual saat berada di mana pun. Sejak pertama dikembangkan, aplikasi ini diinstal lebih dari 220 ribu kali. Desain yang mudah membuat aplikasi ini sangat bermanfaat bagi penggunanya.

Kejahatan di Jepang memang jarang terjadi, akan tetapi kasus serupa pelecehan seksual terhadap perempuan sudah seperti rutinitas. Pada umumnya mereka merasa takut untuk meminta pertolongan karena merasa malu.

Pada 2017, Kepolisian Metropolitas Tokyo menyatakan terdapat 2.620 kasus kejahatan seksual dengan rincian 1.750 merupakan kasus pelecehan seksual yang terjadi di stasiun atau kereta. Dengan adanya aplikasi tersebut, perempuan di Jepang merasa sangat terbantu.

Aplikasi ini dapat mengirim pesan secara otomatis hanya dengan menekan ikon Repel Groper. Setelah menekan ikon ini, maka sebuah pesan teks yang isinya “Ada pelaku pelecehan seksual di sini. Tolong bantu aku” akan terkirim secara otomatis kepada pihak kepolisian terdekat.

Jika ikon tersebut ditekan dua kali, maka pesan yang dikirimkan akan berwarna merah dan berbunyi dengan keras “Tolong berhentilah!” Ini menandakan bahwa pelaku pelecehan seksual semakin berbuat nekat.

Digi Police juga memiliki fitur alarm dan email yang dapat digunakan oleh orang tua dan anak. Juga dapat mendeteksi lokasi yang rawan kejahatan seksual dan dapat melacak di mana kantor polisi terdekat. Pelaku pelecehan seksual akan mendapatkan hukuman 6 bulan penjara.

Inovasi yang serupa dengan Digi Police adalah teknologi yang berhasil dikembangkan oleh mahasiswi asal Inggris, Beatriz Charvalo. Beatriz meluncurkan gelang Lux yang dapat memberi tahu teman atau seseorang terdekat jika terjadi pelecehan seksual. Gelang tersebut akan berubah warna apabila mendapatkan gerak-gerik dan sinyal yang membahayakan penggunanya.

Gelang tersebut terhubung dengan aplikasi yang dapat memberikan sinyal informasi kepada teman-teman yang terhubung kepada aplikasi tersebut. Hanya dengan menekan ikon satu kali saja, maka gelang tersebut akan menyala dan memberikan peringatan untuk mencari bantuan terdekat.

Berbeda dari aplikasi di atas, penulis mengharapkan terciptanya inovasi baru dalam bidang teknologi berupa Smart Watch yang didesain khusus untuk mencegah terjadinya kekerasan dan pelecehan seksual. Maraknya penggunaan smart watch pada semua kalangan termasuk anak-anak menjadi salah satu alasan mengapa teknologi ini harus dikembangkan.

Pelecehan dan kekerasan seksual yang belum teridentifikasi disebabkan oleh minimnya keberanian korban untuk melaporkan kejadian yang menimpanya. Korban merasa malu dan tidak memiliki bukti atas kekerasan seksual yang terjadi, akhirnya korban hanya menyimpan rasa traumanya yang menyebabkan korban kekerasan seksual menjadi tertutup terutama terhadap orang yang baru dikenal.

Smart Watch merupakan jam tangan yang dilengkapi dengan kamera pengintai 360 derajat. Kamera tersebut, jika diaktifkan, akan merekam segala sisi yang mencurigakan di sekitar pengguna. Sehingga korban tetap memiliki bukti nyata meskipun kekerasan seksual terjadi ditempat yang tidak terjangkau oleh CCTV. 

Kamera pengintai juga bisa dihubungkan dengan handphone. Bagi pengguna anak-anak, orang tua dapat memantau keberadaan anaknya melalui kamera yang terhubung pada jam tangan yang digunakan.

Selain kamera, jam tangan ini juga dilengkapi oleh detektor gerakan yang mencurigakan. Ketika ada gerakan yang mengarah pada tindakan pelecehan seksual, jam tangan ini dapat berbunyi sebagai tanda peringatan. Jika alat ini sudah booming, maka semua orang termasuk pelaku pelecehan akan memahami bahwa calon korban memiliki kamera pengintai dan suara alarm yang dapat dipahami sebagai peringatan adanya pelaku pelecehan seksual.

Harapan dari terciptanya Smart Watch ini adalah agar masyarakat Indonesia terutama perempuan dan anak-anak memiliki sistem perlindungan dari bahaya yang dapat mengancam di mana saja dan kapan saja tanpa memandang batasan. Dengan demikian, diharapkan angka kekerasan dan pelecehan seksual dapat menurun.

Pada usia dewasa, alat ini dapat langsung digunakan dan difungsikan, pada usia anak-anak diharapkan bagi orang tua untuk memberikan penjelasan dan juga sex education untuk mendukung pemahaman anak tentang pelecehan seksual. Sebab, salah satu faktor sulitnya mengidentifikasi pelecehan seksual terhadap anak-anak adalah mereka yang tidak memahami bahwa dirinya sedang menjadi korban kekerasan seksual.