Pernahkah kalian mendengar istilah “SMA kilat dalam 8 bulan”? Tentu saja belum pernah karena hal tersebut hanyalah sebuah kiasan semata. Lalu apakah makna di balik kiasan tersebut? Mari simak uraian berikut ini agar lebih cukup memahaminya.

Baru-baru ini jenjang pendidikan SMA menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) dimana para siswanya dapat menyelesaikan masa belajar lebih cepat (dua tahun) atau  bisa juga lebih lama dari biasanya (lebih dari tiga tahun). Oleh karena itu, beberapa sekolah favorit di beberapa kota/kabupaten, khususnya di kota saya menerapkan sistem SKS ini untuk menampung siswa yang memiliki kemampuan akademik lebih unggul dibandingkan dengan siswa lainnya.

Di SMA saya dulu, siswa yang dapat lolos untuk dapat meneruskan studi dengan waktu dua tahun tadi sudah dikelompokkan di kelas tersendiri bernama Kelas Belajar Cepat (KBC). Siswa KBC ini adalah mereka yang terpilih melalui nilai rapor dengan kriteria tertentu. Salah satu kriterianya yaitu nilai rapor yang lebih dari 85.

Lantas apa yang terjadi? Pada bulan Maret tahun 2020 lalu, terjadi pandemi covid-19 yang membuat sistem pendidikan kita berubah. Semua kegiatan belajar mengajar dialihkan menjadi proses pembelajaran daring. Hingga saya menuliskan tulisan ini pun kondisinya tidak jauh berbeda dari awal pandemi datang. Lantas bagaimana dengan nasib siswa yang telah terlanjur memilih bersekolah 2 tahun tadi?

Setelah adanya pandemi, siswa KBC juga terpaksa mengikuti pembelajaran dari rumah walaupun dari segi materi mereka harus jauh lebih cepat untuk menyelesaikannya. Bisa dibilang tergesa-gesa dalam mengejar materi yang ada.

Dengan pemaparan materi yang begitu cepat, mungkin sebagian dari mereka paham, tetapi tidak menutup kemungkinan jika yang lain belum paham. Hal tersebut terlihat ketika mereka sedang kelas online dan ditanyai guru banyak yang tidak dapat menjawabnya.  

Lantas bagaimana dengan potensi keberhasilan siswa KBC dalam proses seleksi masuk perguruan tinggi? Di sini akan sedikit saya ceritakan mengenai pengamatan saya secara langsung terhadap siswa KBC yang ada di sekolah saya dahulu.

Menurut saya, siswa KBC yang benar-benar memiliki penanaman konsep belajar yang kuat dalam diri mereka sejak awal kali mereka masuk ke kelas ini akan dapat berhasil untuk menembus perguruan tinggi impian mereka.

Berbeda dengan mereka yang teorinya belum tertanamkan pada diri mereka, mereka akan cenderung kesulitan untuk menangkap materi di saat kelas online. Bahkan sebenarnya kemampuan mereka pun tidak berbeda jauh dengan kami yang berasal dari kelas reguler.

Di saat proses Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), siswa KBC berada di sepuluh besar teratas pemeringkatan dengan nilai yang dapat dibilang sangat “wow”. Memang tidak perlu terkejut lagi karena proses seleksi mereka untuk masuk ke kelas KBC pun sudah dengan patokan nilai yang  sangat tinggi sehingga tidak memungkinkan bagi guru untuk menurunkan nilai mereka.

Pemilihan kampus serta jurusannya pun tidak kalah “wow”. Namun, apakah ada yang tahu bagaimana hasilnya? Banyak siswa KBC yang belum dapat diterima di jalur SNMPTN ini, padahal dari segi nilai dan prestasi, mereka jauh lebih unggul dari kami yang dari kelas reguler.

Setelah dari SNMPTN, mereka pun melanjutkan ke proses seleksi berikutnya seperti siswa yang lainnya yaitu Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Perlu diketahui bahwa SBMPTN ini penilaiannya berdasarkan hasil tes bukan berdasar nilai rapor lagi sehingga mereka tidak bisa mengandalkan nilai mereka yang sangat tinggi itu di proses seleksi ini.

Hasilnya? hanya 1 siswa KBC yang dapat menembus perguruan tinggi dengan jalur ini, itu pun pilihan kedua yang notabene hanya cadangan saja. Hal tersebut terjadi karena mereka yang over percaya diri , merasa dirinya mampu dengan nilai rapor yang tinggi. Padahal, nilai rapor bukanlah patokan yang mutlak untuk mengukur tingkat keberhasilan seorang siswa dalam masuk perguruan tinggi.

Disini dapat kita lihat bahwa siswa yang hanya menempuh pendidikan selama dua tahun (delapan bulan sekolah offline) sulit untuk menembus jalur-jalur masuk perguruan tinggi, sebenarnya bukan pada sistem pendidikan pemerintah yang salah, tetapi kita kembalikan lagi pada mental masing-masing siswa.

Mereka yang terlalu percaya diri dengan nilai yang tinggi dan buta akan kemampuan diri yang dimilikinya. Peran guru sebagai pemberi nilai dan penutur pun juga perlu dipertimbangkan lagi. Jika melihat hal seperti ini lantas siapakah yang malu?  

Harapan saya sebagai mahasiswa yang berada di jurusan pendidikan untuk ke depannya adalah para pendidik Indonesia tidak asal lagi dalam hal memberikan penilaian kepada para siswanya. Apalagi dalam situasi sekolah daring seperti ini. Nilai tidak harus melulu naik, kemampuan peserta didik pun juga tidak melulu naik bukan?

Di samping itu, juga dapat dengan memaksimalkan cara mengajar agar para siswanya dapat memahami materi bukan hanya  dengan ribuan jamkos (jam kosong) dan tugas, tiba-tiba memberi nilai rapor yang “wow”. Jadikanlah peserta didik itu benar-benar cakap dalam kemampuan akademiknya bukan cakap dengan nilainya. Waktu yang singkat boleh, tetapi tidak dengan kemampuan yang singkat pula.