Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad saw. merupakan sumber primer agama Islam. Sebagai sebuah sumber primer tentu mendapatkan nilai spesial bagi umat muslim sebagai pegangan dasar dalam mengamalkan ajaran agamanya.

Karena itu kedua warisan Nabi terakhir tersebut tidak berhenti dikaji oleh para sarjana muslim, bahkan non muslim dan keduanyapun selalu membuka diri untuk melakukan kajian terhadapnya, sehingga pesan-pesannya akan selalu hidup dan memberikan solusi terhadap broblem yang dihadapi oleh umat.

Namun keduanya mulai kaku, jumud dengan munculnya sekelompok umat yang meneriakan slogan “kembali ke al-Qur’an dan hadis”, mereka memahami kedua sumber tersebut dengan pemahaman tekstual sehingga pesan-pesannya sangat ekslusif bahkan menakutkan betapa tidak dalam pemahaman mereka umat Islam Indonesia saat ini telah melakukan banyak kesesatan atau penyelewengan terhadap ajaran Islam.

Sebab pola pikir seperti itu yang terbentuk maka orang lain yang berbeda dengannya dianggap salah dan sesat sehingga outputnya gemar menyesatkan, membid’ahkan bahkan mengkafirkan muslim lainnya. Pola pikir tersebutlah yang membawa pada pemahaman ekstrimisme dan intoleran.

Kaum ekstrimis tersebut semakin gencar melakukan dakwah ke berbagai daerah di tanah air (Indonesia) dengan membawa slogan “kembali ke al-Qur’an dan hadis”. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan slogan tersebut, tetapi mereka menafikan para ulama terkemuka yang telah puluhan tahun mempelajari dan mengkaji kedua sumber ajaran Islam tersebut.

Bahkan para ulama yang penguasaan ilmu keislamannya telah diakui oleh dunia tersebut tidak jarang mendapatkan cacian, fitnahan dan ancaman dari kaum ekstrimis.

Slogan “kembali ke al-Qur’an dan hadis” tersebut telah menghipnotis masyarakat Indonesia yang minim pengetahuan agamanya. Faktanya masyarakat menyambut baik dakwah mereka, khususnya generasi muda negeri ini, tingkat SMA dengan tarbiyah-tarbiyahnya, pada level perguruan tinggi dengan membentuk kelompok kajian, dakwah dan pelatihan sehingga pemahaman keislaman mereka telah diwarnai oleh kaum ekstrimis.

Tahun 2010 Litbang Makassar telah melakukan penelitian, tentang paham keagamaan mahasiswa. Dalam penelitian tersebut menunjukkan, lebih dari 60% mahasiswa Islam setuju dan mendorong adanya penerapan syari’at Islam atau formalisasi agama (Penelitian Litbang Paham Keagamaan Mahasiswa, 2010).

Dahulu dikalangan mahasiswa yang tumbuh subur adalah paham keagamaan yang dikembangkan oleh NU dan Muhammadiyah, yang direpresentasikan oleh organisasi kemahasiswaan; PMII, HMI dan IMM. Pemahaman keagamaan setiap organisasi tersebut adalah toleran, cinta tanah air dan mengapresiasi tradisi.

Saat ini telah berkembang pada setiap perguruan tinggi di Indonesia organisasi kemahasiswaan; KAMMI, LDK, HTI (telah dibubarkan). Organisasi tersebut mengandung faham fundamentalis yang mempengaruhi paham keagamaan dan kebangsaan, terutama mahasiswa yang menjadi kadernya.

Mahasiswa yang dahulu menghargai tradisi lokal, pelan-pelan meninggalkannya sehingga kelompok ini dikenal anti tradisi. Mereka menghendaki pemurnian ajaran Islam yang hanya berdasarkan al-Qur’an dan hadis, sesuai yang mereka pahami.

Perjuangan organisasi tersebut dari sudut kebangsaan adalah penerapan syari’at Islam dan sistem khilafah menggantikan demokrasi dan pancasila yang merupakan kesepakatan dari pendiri bangsa Indonesia.

Pengaruh dari pemahaman ekstrimis tersebut menyebabkan masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda mulai kehilangan kebanggaan terhadap pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

Pergeseran paham keagamaan masyarakat tersebut dapat mengganggu kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara bahkan dapat menimbulkan; Pertama memicu sikap intoleran, ekstrim bahkan kekerasan fisik yang berbasis agama yang akan menyebabkan permusuhan antara sesama rakyat Indonesia. Kedua menghilangkan rasa nasionalisme atau cinta tanah.

“Kembali ke Al-Qur’an dan Hadis”, Anda Waras?

Slogan “kembali ke al-Qur’an dan hadis” saat ini sedang booming dimana-mana. Setiap kali bertemu dengan para punggawa dakwah “kelompok tertentu” pasti kita mendengar slogan tersebut. Apalagi dengan bantuan media social, masyarakat semakin mudah memperolehnya.

Sejak dahulu, ulama terkemuka; Imam Abu Hanifah (pendiri mazhab Hanafi), Imam Malik bin Anas (pendiri mazhab Maliki), Imam Syafi’i (pendiri mazhab Syafi’i) dan Imam Ahmad bin Hambal (pendiri mazhab Hambali), ulama pengikut mereka dan seluruh ulama hadis tidak ada seorangpun yang membawa slogan tersebut dalam dakwah-dakwahnya.

Dalam khazanah keislaman kajian terhadap hukum Islam, ulama menempuh beberapa sumber selain Qur’an hadis, yaitu melalui ijma’ dan qiyas dengan berbagai pendekatan.

Ijma’ adalah kesepakatan ulama terhadap satu masalah yang tidak ada dalam al-Qur’an dan hadis, sedangkan qiyas adalah menetapkan suatu hukum yang tidak ada dalilnya dalam al-Qur’an dan hadis dengan cara membandingkan dengan sesuatu yang ada dasar hukumnya dalam al-Qur’an hadis.

Penetapan sebuah hukum melalui ijma’ dan qiyas merupakan langkah yang tepat agar al-Qur’an dan hadis dapat memberikan solusi setiap problem yang dihadapi umat. Dan Penetapan tersebut telah sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad saw.

Slogan tersebut telah melahirkan umat yang melupakan ulama, merasa tidak memerlukan ulama dengan alasan cukup baca al-Qur’an dan hadis melalui terjemahan sehingga lahirlah orang-orang yang dangkal ilmu agamanya dan merasa paling benar.

Dalam menetapkan hukum Islam al-Qur’an dan hadis tidaklah cukup sebab zaman dan aspek sosial kemasyarakatan selalu berkembang. Nabi saw., saat akan mengutus sahabatnya untuk menyebarkan ajaran Islam ke berbagai daerah, Nabi berpesan; Mudahkanlah, jangan mempersulit, berikan hal-hal yang menggembirakan dan jangan membuat masyarakat lari.

Saat Mu’az bin Jabal diutus menjadi hakim di Yaman, Nabi bertanya pada; bagaimana kamu akan memberi keputusan?, Mu’az menjawab; dengan kitab Allah (al-Qur’an), bagaimana kalau tidak, Mu’az menjawab dengan sunnah (hadis), jika tidak ada?, Mu’az menjawab saya akan berijtihad.

Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan segala bentuk pemerintahannya ini adalah hasil keputusan bersama, ulamapun ikut terlibat dalam pembentukannya.