Di antara tumpukan buku kuliah terselip satu karya saya yang berdebu dan tidak tersentuh: skripsi. Tumpukan buku tersebut merupakan bagian kenangan masa lalu yang membuat saya senang sekaligus sedih pada waktu yang bersamaan saat melihatnya. Perasaan senang karena itu satu-satunya karya saya yang berbentuk buku, sekaligus pengukuhan diri sebagai seorang sarjana. Sedih karena karya itu sekarang hanya teronggok, terlupakan, dan berdebu.

Siapa juga yang mau membaca karya tersebut? saya sendiri saja tidak menghargainya.

Saya bukan bermaksud sok filosifis dengan menganggap teks yang diciptakan seorang penulis bukan milik penulisnya lagi seperti yang diyakini pencetus Semiologi, Roland Barthes. Saya hanya merasa malu dengan skripsi itu. Isinya, sebagian besar, soal nyinyir acara teve yang menampilkan ukhti-ukhti berhijab.

Selain itu, saya merasa sedih karena jumlah kertas yang sudah dihabiskan untuk membuat skripsi tersebut. Jumlahnya jika saya total semua, mulai dari pembuatan proposal sampai skripsi, sudah mencapai hampir seribu halaman. 

Satu skripsi sekitar dua ratus halaman dan dicetak sebanyak tiga kali. Satu untuk perpustakaan jurusan, satu untuk perpustakaan kampus, dan satu untuk kenang-kenangan saya sendiri, plus salah satu dosen penguji memintanya untuk disimpan (yang ini saya sedikit berbangga). 

Saya merasa begitu berdosa ketika karya yang terdiri dari ratusan kertas itu sekarang diselimuti debu tebal. Kesedihan bertambah lagi saat saya mendengar kabar simpang siur bahwa skripsi yang sudah lama nasibnya berakhir di halaman belakang kampus -seperti kabar yang sempat beredar di salah satu kampus di Makasar pada tahun 2016.  

Keterbatasan ruang dan jumlah skripsi baru yang terus bertambah memang menjadi alasan rasional. Konversi skripsi dalam bentuk PDF memang dibutuhkan untuk menyiasati keterbatasan ruang penyimpanan.

Tindakan saya yang mencetak hampir seribu halaman dan tertumpuknya skripsi di halaman salah satu kampus di Makasar, dan berakhir menjadi abu, hampir serupa: pemborosan kertas. Jika dilihat dari segi kuantitas tindakan tersebut memang terlihat seperti membuang kertas secara percuma. 

Tapi, jika melihat ke belakang, ada proses panjang yang bukan hanya soal jumlah kertas yang dihabiskan tapi apa yang sudah didapat ketika menghabiskan banyak kertas tersebut.

Boleh dibilang ada rasa memaafkan diri sendiri ketika saya merenungi skripsi yang sudah tidak tersentuh terebut. Saya memang menghabiskan banyak kertas, tapi ada manfaat yang didapat.

Pertama, ada proses pencarian pengetahuan dalam pembuatan karya itu, sekaligus apresiasi terhadap karya orang lain (pencantuman sumber kutipan); kedua, ada secercah harapan tumbuh di benak saya bahwa karya tersebut bisa dibaca orang lain dan turut menambah wawasan pembacanya; ketiga, saya bisa lulus kuliah.

Lagi pula, saya tidak sendiri ketika menggunakan kertas dalam jumlah cukup besar. Ada Albert Einstein dengan kertas berserakan di meja kerjanya yang berbuah teori relativitas yang sekarang membesarkan namanya; Sigmund Freud, sembari menghisap cerutunya, juga menggunakan banyak kertas ketika menuliskan The Interpretation of Dreams; dan saya berhasil menyelesaikan skripsi berjudul Hijab dalam Media Televisi.

Saat melihat skripsi berdebu tersebut, saya mendapat pelajaran dari secarik kertas.

Ada pelajaran berupa kesabaran yang saya dapat ketika harus bolak-balik menemui dosen pembimbing; saat rancangan proposal skripsi saya ditolak, dan dicoret dosen pembimbing; kemdian menunggu printer tua saya mencetak ratusan halaman skripsi yang menghabiskan waktu hampir empat jam; dan harus sabar membaca arahan revisi yang dituliskan dosen saya yang tulisanya tidak lebih baik dari seorang dokter saat menulis resep obat untuk pasienya.

Kertas juga tidak bisa lepas dari kehidupan saya. Selepas kuliah, dan sekarang ditemani dengan setumpuk buku dan skripi yang berdebu, saya gemar menulis resensi buku yang saya anggap menarik. Dalam proses penulisan resensi saya membutuhkan kertas untuk mencatat beberapa hal penting dari buku yang saya baca.

Kenapa tidak menggunkan ponsel atau laptop?

Saya masih percaya dengan perkataan Guru Bahasa Inggris saya sewaktu SMA bahwa menulis  di kertas secara langsung lebih baik karena ada efek “tersetrum” yang membuat kita bisa mudah mengingat apa yang dicatat. 

Efek tersetrum” itu petuah dari guru saya dan masih terngiang sampai sekarang. Entah teori dari siapa atau penelitian dari lembaga mana, tapi itu yang memang saya rasakan. Ya, saya merasakanya sendiri!

Mungkin, Guru Bahasa Inggris saya pernah membaca salah satu hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal Psychological Science mengenai manfaat menulis dengan pena dan kertas. Dalam penelitian tersebut dua peneliti, Pam Mueller dari Princeton Universitiy dan Dabiel Oppenheimer dari University of California membagi dua kelompok mahasiswa.

Kelompok pertama diarahkan untuk mendengarkan ceramah dan mencatat ceramah tersebut dengan metode menulis di kertas. Sementara kelompok kedua disuruh melakakukan hal yang sama tapi dengan metode mengetik. 

Setelah itu kedua kelompok tersebut diuji pemhamanya soal ceramah yang sudah mereka dengarkan. Hasil akhir menunjukkan bahwa kelompok kedua memiliki pemahman yang lebih rendah dari kelompok yang pertama.

Hasil ini, menurut kesimpulan kedua peneliti tersebut, disebabkan proses menulis di kertas lebih banyak melibatkan proses berpikir daripada mengetik. Kelompok yang menulis secara langsung dituntut untuk bisa “berimprovisasi” saat ada kata-kata yang terlewat dari ceramah dan mereka menuliskanya dengan bahasa mereka sendiri, selain itu proses internalisasi materi ceramah lebih berhasil pada kelpompok pertama.

Sementara kelompok kedua menunjukkan hasil catatan verbatim atau serupa dengan apa yang ada  dalam ceramah. Hal ini, yang diduga peneliti, menyebabkan pemahaman kelompok kedua lebih rendah dari kelompok pertama (hai.gri.id, 2017).

Hasil penelitian tersebut sedikit menjawab rasa penasaran saya ketika membaca salah satu buku karya Eric Weinner The Geoghrapy of Genius. Saat membaca buku ini, saya bingung bagaimana cara Travel Writer ini begitu paham dengan banyak teori psikologis yang banyak dicantumkan buku ini. Saya yakin Weinner lebih banyak menggunakan pena dan kertas saat mendalami kajian psikologis, daripada mengetik.

Beruntung bagi saya, yang sangat membutuhkan kertas, hidup di Indonesia karena Negara kita yang tercinta ini masuk dalam eksportir kertas terbesar di dunia. “Berdasarkan kinerja ekspornya industri kertas berhasil menduduki peringkat pertama dan industri pulp peringkat ketiga untuk ekspor produk kehutanan terbesar tahun 2011-2017,” ungkap Aryan Warga Dalam, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pulp dan Kertas Indonesia (Antaranews.com, 2018).

Tersadar dari lamunan memandang skripsi berdebu di siang bolong, saya lantas beranjak berdiri, mengusap bagian cover skripsi yang sudah tertutup debu. Saya bertekad memenuhi buku catatan yang sudah hampir habis. Saya merasa masih butuh lebih banyak kertas.

Ada harapan jika kamar mungil saya terlihat berantakan, dengan banyaknya kertas berserakan yang berisi catatan, ada kesan genius, padahal hanya pembenaran kalau saya malas bersih-bersih.