Dalam minggu-minggu terakhir ini, sebagai mahasiswa yang kuliahnya ngaret banget bahkan sudah mendapat 'surat cinta' dari kampus, bahasa non-estetisnya bakalan di-drop out, saya berjalan santai menuju perpustakaan kampus ditemani gebetan untuk mencari buku referensi penulisan skripsi. Dalam perjalanan tersebut, saya berharap sesampainya di sana semangat 'tuk menuntaskan tugas-akhir-mahasiswa tiba-tiba terejawantah dalam bentuk nyata, bukan hanya sekedar ilusi, apalagi hanya sebagai romantisasi yang cuma berakhir di status media sosial.

Setibanya di sana, senyum yang elegan dan lembut milik petugas perpustakaan menyambut kami. Atmosfer literasi terasa menguar di udara, teori-teori canggih serta luhur berkelebat, tiba-tiba saya merasa menjadi seorang intelektual berintegritas yang mengetahui ragam pengetahuan, menguasai berbagai macam teori, serta berakhlak mulia (lebih baik mengkhayal seperti ini dong, daripada mengingat hutang di kampus).

Seusai mengkhayal demikian, kaki saya yang lama tidak berjalan di atas lantai perpustakaan tetiba perlahan demi perlahan menyusuri kenangan, eh rak-rak buku maksudnya. Buku-buku yang jumlahnya saya taksir melebihi total episode sinetron Tukang Bubur Naik Haji The Series plus Tukang Ojek Pengkolan (TOP) itu seakan-akan menarik tangan saya agar menyentuhnya, membuka, kemudian membaca pelbagai gagasan yang tertulis di tiap lembarnya. Hmmmm, wangi luhur pengetahuan begitu terasa.

Setelah agak lama bertamasya di ruangan intelektual ini, secara kebetulan atau tidak (entahlah) saya berada di rak buku-buku sastra yang bersebelahan dengan rak khusus skripsi. Kemudian saya mengedarkan pandangan, melihat-lihat sejenak. Selesai. Namun, ketika saya ingin berlalu, tiba-tiba mata saya melihat sebuah buku yang di sampulnya tertera nama Sapardi Djoko Damono, seorang sastrawan Indonesia yang begitu produktif dan konsisten berkarya hingga akhir usianya (Alfatihah).

Kemudian saya mengambil bukunya yang ternyata berjudul Alih Wahana, dan sebagaimana tradisi yang saya rawat ketika meminjam atau membeli buku baru, secara refleks saya langsung membaca keterangan di cover belakang. Di bagian sampul belakang tertulis:

Alih wahana artinya pengubahan dari satu jenis kesenian ke jenis kesenian lain. Wahana berarti kendaraan, jadi alih wahana adalah proses pengalihan dari satu jenis ‘kendaraan’ ke jenis ‘kendaraan’ lain. Sebagai ‘kendaraan’, suatu karya seni merupakan alat yang bisa mengalihkan sesuatu dari satu tempat ke tempat lain. Dalam arti yang lebih luas, istilah ini bahkan juga bisa mencakup pengubahan dari berbagai jenis ilmu pengetahuan menjadi karya seni.

Saya membacanya berulang-ulang kali, dan keinginan untuk 'meminjam' buku itu dengan trik Chairil Anwar tiba-tiba terlintas, namun hasrat itu saya begal secepatnya. Tobat. Saya membaca tulisan di sampul belakangnya dengan khidmat, tiba-tiba teringat file skripsi saya yang berdebu, dan skripsi-skripsi yang nongkrong di rak sebelahnya seakan-akan mengirimkan sinyal atau bisikan magis. Seketika terlintas di pikiran saya suatu ide atau gagasan atau apalah namanya.

Gagasan tersebut adalah mengalihwahanakan skripsi. Iya, mengalihwahanakan skripsi ke dalam wujud yang lain. Sebenarnya hal ini bukan sesuatu yang baru sih , sebab telah banyak skripsi yang dialihwahanakan menjadi sebuah buku dan beredar di pasaran. Namun, untuk melakukan demikian tentunya diperlukan biaya yang tidak sedikit, di mana hal ini berkebalikan dengan isi kantong kita, iya kita yang masih bingung menemukan cara efisien tuk memperoleh cuan, duwet, uang, atau apalah kita nyebutnya.

Tapi, jangan berkecil hati dulu Saudara-saudara sekalian. Tenang. Selalu ada jalan alternatif lainnya untuk mengalihwahanakan skripsi sehingga ia berpotensi dibaca banyak orang dan tidak membeku suram di rak-rak perpustakaan.

Yap, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, jalan alternatif tersebut dipetik dari gagasan yang dibisiki oleh ‘suara-suara skripsi’ usai memegang buku Eyang Sapardi. Yakni, mengalihwahanakan skripsi menjadi tulisan populer, kemudian dikirimkan ke media online. Melakukan ritual ini, kita tak dituntut banyak biaya bahkan gratis, cuma diperlukan energi yang lumayan untuk mengubah bahasa-bahasa ilmiah skripsi menjadi bahasa yang santuy, cair, dan akrab. Sebab yang ingin kita sampaikan adalah subtansinya saja kok.

Saya membayangkan skripsi-skripsi yang angker dan seram itu dipublikasikan dengan bahasa yang santai, penuh canda, dan ringan menghiasi laman-laman media, karena telah dialihwahanakan terlebih dahulu dalam bentuk berbeda tapi mengandung substansi yang sama. Renyah dan ramping, tidak memerlukan halaman yang setebal tembok gedung DPRD.

Sungguh mengharukan, skripsi yang ditulis dengan banyak pengorbanan, air mata, keringat, kebosanan menunggu dosen pembimbing, hasil penelitiannya dipublikasikan dan diedarkan dengan penuh persahabatan, sehingga banyak orang yang membaca tanpa mengkerutkan dahi terlebih dahulu. Dan tumpukan skripsi tidak menjadi Malin Kundang atau nongkrong tanpa kopi dan puisi di perpustakaan kampus.

Dan skripsi akhirnya menjadi makhluk-makhluk unyu yang gentayangan di berbagai platform, lucu, dan menghidupkan kembali spirit-spirit yang tertidur di benak mahasiswa tingkat akhir. Pada akhirnya, skripsi bukan lagi monster yang menakutkan, seram, dan blablablafafifu lagi. Terwujud atau tidak, entahlah.