Masa studi pendidikan tinggi saya hampir mencapai batas akhirnya. Target awal sebelum menyandang status budak kapitalisasi institusi perguruan tinggi mahasiswa adalah lulus delapan semester dengan predikat cumlaude kini hanya dapat direalisasikan dalam mimpi. 

Boro-boro lulus tepat waktu, lha wong cuma buat kasih lihat emak-bapak transkrip nilai per akhir semesternya saja rasanya ketar-ketir gimana gitu. Mau bohong, takut dosa; mau jujur, siap-siap kena ceramah. 

Apa daya ketika ditanya emak, saya hanya terdiam lalu mengalihkan bahasan. “Mak, kemarin saya dapat hadiah tupperware”.

Perkara kuliah memang tidak semudah cocot-nya Ferguso. Nilai A itu keajaiban, nilai B adalah anugerah, nilai C, itulah standar saya – dan alhamdulillah. Apalagi ketika berurusan dengan makhluk yang bernama skripsi. 

Mungkin buat saya adalah bukan lulus tepat waktu. Meminjam istilah dari senior-senior: lulus di waktu yang tepat, kiranya itu yang tepat buat saya. Sebuah logika – lebih tepatnya alibi - yang sungguh mashook. Sungkem ndlosor.

Skripsi atau tugas akhir mahasiswa untuk menuntaskan masa studi strata satu bagi saya – yang sok idealis – adalah sesuatu yang benar-benar berat. 

Bagaimana tidak? Karya tulis yang terdiri dari berpuluh-puluh hingga seribu halaman itu bukanlah tulisan ngalor-ngidul berisi sambat nan julid macam Mojok, Qureta, atau bahkan Tirto. Skripsi harus berupa karya ilmiah yang serius dengan bahasa baku dan segepok referensi. Apalagi jurusan saya adalah teknik yang notabenenya harus berurusan dengan angka-angka. Pusing pala beibeh!

Mungkin bagi kawan-kawan saya yang lainnya – yang pragmatis – skripsi tak lebih dari dokumen Word yang bisa di-copy-paste dan dimanipulasi. Di sini saya tidak bermaksud menggeneralisasi semua mahasiswa. Namun pada realitasnya, tidak sedikit yang seperti itu.

Hal ini didasarkan pada tujuan awal mereka kuliah. “Kuliah mung gae golek ijazah,” tutur kawan seperjuangan saya. “Lah piye maneh, ape tuku ijazah yo iwuh, iwuh duwit e.”

Bagi saya, perkara yang berhubungan dengan keilmuan dan pendidikan tidaklah sesimpel itu. Pendidikan, bagi saya, bukan merupakan proses transfer pengetahuan dari pendidik kepada yang dididik dengan porsi yang sama yang kemudian ditransfer kepada yang dididik lainnya secara berulang-ulang.

Pendidikan idealnya adalah proses pembangkitan kesadaran transformatif-kritis terhadap nara didik. Kesadaran ini nantinya akan mendorong lahirnya nalar kreatif dan solutif yang memungkinkan peserta didik mengembangkan rasa ingin tahu dan gairah mereka untuk maju melalui penelitian dan penemuan (Freire, 2001: Pendidikan yang Membebaskan). 

Pola pendidikan yang seperti itu nantinya akan menciptakan mahasiswa-mahasiswa yang inovatif dan solutif dalam menyikapi segala permasalahan yang ada dalam masyarakat.

Mungkin kawan-kawan yang paham mengenai sistem pendidikan ini akan gembruduk menyangkal saya. Wes gak relevan, Bosquh. Memang dari sisi latar belakangnya jika dibilang tidak relevan, bisa iya, bisa tidak.

Pola pendidikan seperti itu dilatarbelakangi oleh keadaan yang dirasakan Freire di mana sistem pendidikan yang dibawa oleh bangsa Portugis terhadap masyarakat Brasilia hanya akan menjadikan masyarakatnya manthuk-manthuk. Keadaan ini tentu saja menguntungkan pihak Portugis lantaran proses pendidikan yang ada hanya berupa pola pengulangan transfer pengetahuan sehingga nara didik hanya ‘menerima’ tanpa ada nalar kritis yang terbangun pada mindset mereka.

Namun jika dilihat dari konteks latar belakangnya, keadaan yang saat ini terjadi di kalangan mahasiswa hampir sama dengan keadaan masyarakat Brasilia saat itu. Bedanya, keadaan saat ini bukan merupakan hasil dari sistem penindasan dari kaum kolonial. Lebih tepatnya, keadaan yang ada saat ini merupakan buah dari budaya yang terbentuk sebelum-sebelumnya: junior mengerjakan tugas hingga skripsi mencontoh dari seniornya, dengan copy-paste. 

Di samping itu, tekanan dari orang tua yang pragmatis: anaknya dituntut cepat lulus agar gak entek-entek i duwit, agar ndang kerja di perusahaan bonafid, dan agar-agar lainnya. Hal ini lantas menjadikan mahasiswa ‘menghalalkan’ segala cara.

Sistem kausalitas ini sejatinya lebih berbahaya daripada sistem yang ada di era Freire. Objek dari sistem ini, mahasiswa, bukan ditekan, melainkan, lebih pada menikmatinya. Mereka lebih cepat lulus, nggak ribet, dan – ironinya – bangga, meski tidak menghasilkan apa-apa.

Berangkat dari permasalahan ini, saya lantas dirundung dilema. Tuntutan lulus begitu menggema. Orang tua di desa menunggu, calon istri gelisah menanti – emang punya? – Hanya ayah Pidie yang mengerti bagaimana rasanya. Dilema antara menjadi idealis se-notok-notok-nya atau berdamai dengan keadaan yang ada? Duh Gusti, paringi ekstasi!

Dari sini saya berkesimpulan bahwa mata kuliah, skripsi, nilai A, dan tetek bengek perkuliahan lainnya tak ubahnya bualan belaka bagi mereka yang pragmatis. Mending nggak usah, menurut saya – sembari mencondongkan dada.

Tapi ketika emak-bapak mengancam mengeluarkan saya dari KK kemudian berfatwa anak durhaka, ya mau gimana lagi? Tolonglah diriku, koboi kampus yang nggak lulus-lulus.