Beberapa waktu lalu, kita dihebohkan oleh foto viral sebuah skripsi yang tebalnya sekitar 1.150 lembar. Tak butuh waktu yang lama, muncul beragam respons dari warganet. Ada yang memuji atas semangatnya yang tinggi, tetapi ada pula yang bilang bahwa mahasiswa tersebut kelewat rajin.  

Namun demikian, saya malah mau melihat kejadian itu dari sudut pandang lain. Kalau diberi kesempatan untuk bertemu dengannya, saya akan bertanya: sudah berapa banyak kertas yang terbuang hingga menjadi yang seperti sekarang ini?

Jangankan seribu lembar, skripsi saya yang relatif tipis saja mengorban banyak sekali uang. Dan kalau mengingat kejadian tiga tahun lalu, tepatnya ketika saya hendak meminta tanda tangan pengesahan skripsi dari dosen pembimbing, rasanya banyak sekali kertas yang terbuang sia-sia.

Betapa tidak, setelah seluruh konten selesai, bahkan sudah diuji dan direvisi, dan tinggal meminta pengesahan akhir, tanpa tedeng aling-aling, dosen tersebut memaksa saya untuk memangkas puluhan lembar, karena menurutnya skripsi saya terlalu tebal. Meski kesal dan menggerutu, saya menuruti kemauannya sebab saat itu yang ada di pikiran saya hanyalah kata “lulus”.

Sebenarnya cerita skripsi saya ini tidaklah benar-benar istimewa. Setiap pejuang skripsi pasti mengalami hal yang sama dengan saya: revisian berkali-kali, yang tentu saja menghabiskan sekian banyak kertas.

Yang paling tipis jumlah lembarnya, sebuah skripsi yang mungkin sekadar berbasis penelitian studi literatur, setidaknya harus menyiapkan satu rim. Sedangkan bagi mereka yang harus mengobservasi, melakukan wawancara, mengumpulkan data fisik, atau menggunakan angket, pasti mustahil mengandalkan 500 lembar kertas itu.

Apalagi jika di akhir momen kita perlu memperbanyak (copy) skripsinya sesuai dengan permintaan kampus, mulai dari prodi, fakultas, hingga perpustakaan meminta minimal satu buah skripsi kita.

Jika kita mau kritis, pasti muncul pertanyaan dalam benak, seperlu apakah penggunaan kertas—yang jumlahnya tentu sangat tidak sedikit—untuk skripsi? Karena saya melihat, sekurang-kurangnya akan ada dua waktu ketidakefisienan penggunaan kertas di sini. 

Pertama ialah di masa bimbingan dan revisian, sebuah momen di mana dosen kita gemar sekali mencorat-coret konten yang sudah kita buat tadi malam. Di masa saya kuliah (2012-2016), kebanyakan dosen hanya mau menerima bimbingan jika hasil kerja kita sudah di-print, dan bukan dalam bentuk soft file. 

Entah bagaimana nasib kertas-kertas itu. Sebagian memang masih mendekam di kamar saya dan tidak tahu kapan akan digunakan kembali, sedangkan sebagian yang lain mungkin sudah dijadikan sebagai bungkus gorengan atau terhempas menjadi sampah di laut.

Ada yang berkomentar kalau saya mungkin terlalu bodoh, mengapa tidak dikilokan saja kertas-kertas bekas tersebut ke tukang loak, kan lumayan bisa menambah uang jajan. Yang lebih idealis nyuruh saya untuk cerdas mendaya-kreasikan barang tersebut sehingga bisa memiliki nilai jual yang tinggi.

Untuk saran yang pertama memang mudah dilakukan. Tetapi tetap saja, apa yang telah dikeluarkan (membeli kertas) nilainya lebih besar daripada yang bisa kita dapatkan (menjual kembali). Mengapa tidak paperless saja sehingga kita bisa menggunakan uang tersebut untuk keperluan lain yang lebih genting dan bermanfaat?

Sedangkan saran kedua, bagi saya, terlalu sulit untuk direalisasikan. Betapa tidak, sebab tidak semua orang bisa meluangkan waktu untuk sekadar mendaur ulang kertas hingga menjualnya kembali. Kita adalah orang-orang yang sibuk yang butuh segalanya serbaefektif.  

Momen kedua ialah ketika skripsi kita sudah melewati masa finalisasi, hendak dijilid dan diperbanyak jumlahnya. Di bagian inilah saya sangat mempertanyakan kebermanfaatannya. 

Jika sekadar untuk keperluan arsip, apakah tidak lebih baik jika cukup menggunakan file e-book yang bisa di-copy sebanyak yang kita mau dan tidak menghabiskan space? Bisa dibayangkan seberapa luas ruangan yang diperlukan hanya untuk menyimpan kumpulan skripsi seluruh mahasiswa yang pernah terdaftar dalam satu kampus tersebut.

Belum lagi perlu ada perawatan, pemeliharaan, dan inventarisasi yang cukup rumit. Selain itu, mereka juga perlu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan buruk, seperti kebakaran. Sungguh tidak efisien, tidak ekonomis, dan tidak ramah lingkungan. Maka jangan heran jika kita melihat banyak skripsi yang terlantar, dibuang pihak kampus, atau dibakar.

Akan lain cerita jika semua skripsi kita berbasis data elektronik. Dalam hal mobilitas, misalnya, memindah-pinjamkan skripsi tidak lagi membutuhkan energi besar dan waktu yang lama. Sebab, sekali kedip, skripsi yang ingin dipinjam sudah ada di genggaman si peminjam.