Sudah jadi tugas utama dosen memberi pelajaran di perkuliahan. Umumnya, perkuliahan memakan waktu dua jam. Itu hitungan normal, untuk dosen yang teladan. 

Namun, apabila dosen sibuk mengurus proyek atau sibuk karena punya jabatan di luar, maka harap maklum, hitungan waktu perkuliahannya cukup 30 menit saja. Mulai dari mengabsen mahasiswa yang hadir hingga memberi tugas. Cukup 30 menit. Sangat sederhana, bukan?

Dari durasi perkuliahan yang sangat sederhana itu, mahasiswa tentu dapat mengambil contoh, bahwa orang sukses harus bisa bagi waktu. Tengok saja dosen yang sukses mengurus berbagai proyek itu, masih menyempatkan diri memberi kuliah para bocah pemburu gelar di kampus.

Selain itu, ada juga dosen yang sangat pintar dan patut dijadikan panutan. Serupa tapi tak sama. Dosen tipe kedua ini pun sangat sederhana. Materi kuliah yang semestinya disampaikan dalam 4 kali pertemuan, bisa disulap jadi hanya 1 kali pertemuan, plus langsung ujian. Betul-betul haibat dosen macam ini.

Kedua tipe dosen di atas tentu sangat istimewa, oleh karena itu, mereka sering jadi bahan diskusi mahasiswa. Hasilnya, para mahasiswa di warkop institute menyimpulkan bahwa ada 4 skill yang bisa didapatkan mahasiswa dari dua tipe dosen di atas:

1. Negosiasi (lobi)

Keterampilan ini didapatkan sebab dua tipe dosen di atas terkadang sangat sok profesional. Bagi mahasiswa beruntung, yang datang setelah kuliah kilat 30 menit usai, atau yang tidak hadir di 1 kuliah (isi 4 meteri + Ujian), biasanya akan mendapat hadiah: bertemu lagi dengan dosen bersangkutan tahun depan a.k.a mengulang.

Nah, dari hadiah inilah mahasiswa bisa melatih diri dalam bernegosiasi. Keterampilan ini, dijamin, tidak akan ada di bangku kuliah. Hanya mahasiswa yang beruntung bisa mendapatkannya.

Mau latihan negosiasi juga? Cobalah, cara mudah kok. Cukup dengan bermalas-malasan saat kuliah. Setelah itu, siapkan senjatanya, yaitu: 1001 alasan ketidakhadiranmu, lalu mulailah berlatih. Dalam negosiasi, cobalah untuk tenang dan sedikit menekan. Kalau tidak tenang, maka sudah dua keterampilan yang klean latih. Bukan nego lagi, tapi akting.

2. Akting

Seni menjiwai peran. Itulah keterampilan kedua yang diraih mahasiswa beruntung. Latihan ini dilakukan apabila negosiasi menemui jalan buntu. Kalau sudah begitu, maka mimik, laku, intonasi suara para mahasiswa sama persis seperti pemeran pembantu sinetron rahasia ilahi yang ditindas. Mereka akan memelas, memohon, meminta belas kasih dengan mata yang berbinar agar diberi tugas atau ujian pengganti.

3. SKSD

Sok Kenal Sok Dekat (SKSD) atau cari muka. Keterampilan ini biasa diraih oleh mahasiswa yang haus perhatian. Karena tahu bahwa papa dosen punya jabatan dan banyak proyek, mahasiswa pencari muka ini pun segera melatih diri.

Awalnya mengajukan diri jadi ketua kelas. Setelah terpilih, Ia pun bertukar kontak dengan sang dosen. Ia akan jadi corong sang dosen untuk menyampaikan bahwa kuliah diundur sampai jam sekian. Lama menunggu, Ia kembali menyampaikan bahwa kuliah ditunda sampai 3 hari ke depan. 3 hari kemudian, sang dosen hanya memberi arahan untuk mengerjakan tugas yang dikumpul kepada ketua kelas. Praktis, papa dosen hanya mengenal si ketua kelas, si pencari muka.

Si mahasiswa yang menguasai keterampilan ini pun H2C (Harap-harap cemas) menanti hasil latihan skillnya ini. Apakah berhasil dan ia dipanggil jadi asisten dalam salah satu proyek sang papa dosen? atau paling tidak, ia akan meraih nilai sempurna dari mata kuliah yang digawanginya.

4. Kurir

Tidak perlu jadi driver ojek online (ojol) untuk bisa meraih dua keterampilan ini: kurir dan tukang service. Dosen di kampus pun bisa membantu mahasiswa menguasai dan merasakan bagaimana jadi ojol. Mahasiswa yang H2C pada papa dosen harus siap sedia diorder 24 jam. Jasa yang sering digunakan papa dosen adalah antar surat/proposal sampai jastip (jasa titip) sebungkus rokok.

“Kau ke ruangannya Dekan sekerang juga! pastikan proposalnya, diterima atau tidak?”

“Halo, kau dimana? Ke ruangan saya dulu, titip rokok satu bungkus yaa! Saya ada tamu ini, butuh asap, oke?”

“Ke rumah sekarang, remote ac saya ini bermasalah, kau ke sini dulu, bantu saya cepat!”

Maka demi panggilan hati untuk jadi asisten di proyek papa dosen, juga sebagai kosekwensi skill SKSD, mau tidak mau harus berangkat antar ini itu sesuai perintah sang papa dosen.

Kira-kira 4 keterampilan itulah yang bisa didapat mahasiswa yang punya sejumlah dosen yang sibuk dengan proyeknya. Benar kata orang yang selalu sabar saat ditempa masalah. Bahwa semua ada hikmahnya. Tak usah risau, tak usah gelisah dengan dosen seperti itu.

Apa kau bilang? Kualitas pendidikan? Itu urusan belakangan, bukankah yang utama itu gelar dan ijazah? Yang terpenting bisa lulus dan dapat kerja, kan? Lantas, kenapa pula kualitas pendidikan kau pertanyakan? Jangankan 4 materi dalam 1 kali pertemuan, 10 materi pun bisa digabung, kan yang tentukan papa dosen, mahasiswa bisa apa?

Sudahlah, terima saja, dosen juga butuh uang untuk beli 6 mobil dan 2 rumah, makanya mereka butuh proyek, kuliah kita nomor sekian, tak jadi soal! Jadi, seperti kata orang sabar: Semua ada hikmahnya. Cukup bersyukur dengan 4 keterampilan ini saja. Itu sudah!