Buku Dilarang Mengutuk Hujan ini adalah buku keenam Iqbal Aji Daryono (IAD), yang merupakan kumpulan dari 21 esai pilihan. Bukan yang sekadar reaktif menghadapi satu-dua isu aktual, namun yang relatif timeless dan reflektif. Dilengkapi pula dengan sketsa-sketsa sarat makna di beberapa esainya.

Pada kata pengantar yang ditulis oleh Edi AH Iyubenu, IAD disebut sebagai pendulum. Yang ritmis, juga mistis.

Layaknya pendulum, logis saja IAD berayun-ayun membidik dan menuliskan ragam spot realitas kehidupan yang dikaribinya, dalam buku ini. Ia mengayun ke kanan-kiri, tangguh, anti menyerah, tak pernah ketinggalan isu dan berita. Tetapi senantiasa bersetia pada titik tumpu tengahnya, yang dengan cara itulah ia mengada. Titik tumpu itu, jika dipersonifikasikan adalah ibu, istri, kedua anak dan teman-teman dekatnya.

Luas lingkar pergaulannya, dialasi nilai-nilai spirit sangkan paraning dumadi yang disublimasikan sosok ibu, serta pengalaman das sein welas asih bapak-anak. Inilah yang dalam istilah hermeneutika Gadamer disebut fusion of horizons bagi langgam pemikiran dan kebatinan seorang IAD. Yang kemudian dengan kreatif diekplorasi dan dieksploitasinya menjadi tulisan-tulisan. Kendati barangkali tidak semua, tetapi dapat dinyatakan bahwa mayoritas tulisan IAD bersumber dari arus-arus pemaknaan yang begitu rupa.

IAD makin memantapkan diri di jalur story telling kemanusiaan, dengan beralaskan nilai-nilai spiritualitas universal. Wajar saja bila eksplorasi nilai-nilai kemanusiaan dalam ragam tulisannya senantiasa mengundang keterpikatan para audiencenya. Karena manusia pada dasarnya memiliki nilai-nilai fitrah yang sama, yang diikrarkan oleh Tuhan sejak pertama kali ruh ditiupkanNya di alam rahim. Yakni kecenderungan beraras pada spiritualitas dan maslahat hidup.

Memang, IAD bukan yang pertama kali melakukan gaya tulis ini. Namun ia cukup brilian dalam membangun sudut pandangnya yang begitu segar, berbeda, makin luas dan bahkan kerap tak terduga. Lazimnya, kondisi pikir demikian bersumber pada jelajah bacaan dan kepekaan batin yang cemerlang. yang artinya ia seorang perenung. Dan inilah yang kemudian menjadikan esai-esainya memiliki corak dan warna yang berbeda dibanding para pendahulunya.

Tak usah berharap akan bisa menemukan banyak perspektif teoritis tokoh-tokoh besar dalam tulisan-tulisan IAD. Sebab IAD membangun perspektifnya sendiri, teorinya sendiri. 

Seperti pada esai yang berjudul Pilih Teori atau Realitas? IAD menuliskan perspektifnya bahwa betapa teori-teori terus dijunjung tinggi, dan sering kali karena itulah justru realitas dicampakkan. Sementara, teori merupakan bagian dari infrastruktur yang dibangun oleh rezim kuasa kebenaran.

Di saat yang sama kita lupa bahwa teori merupakan abstraksi dan formulasi atas fakta-fakta. Faktalah yang membangun teori, bukan teori yang membangun fakta. Ketika ada suatu fakta berbicara, padahal fakta itu berlawanan dengan teori, semestinya teorinya yang direvisi. Bukan malah faktanya yang dianggap jadi-jadian.

Sebab dunia ilmiah adalah dunia yang bermartabat, namun rapuh. Ia berada dalam hukum dialektika pengetahuan. Maka salah satu sikap yang menjunjung tinggi kejujuran ilmiah adalah menyadari bahwa teori ilmiah mutakhir sangat mungkin dikoreksi, mengoreksi dirinya, atau minimal membuka diri untuk menerima koreksi.

Begitu pun di esai yang berjudul Arogansi Buku-Buku, IAD memercayai bahwa literasi itu sikap mental. Sikap literate bukan sesederhana sikap mau membaca teks, apalagi sekadar mau membaca buku. Literasi adalah sikap rakus akan pengetahuan, sekaligus sikap berusaha memahami pengetahuan dengan holistik dan komprehensif, dari beragam sudut pandang.

Dan proses pemahaman itu dijalankan dengan kritis bahkan skeptis. Tanpa sikap semacam itu, mau kita membaca sejuta buku pun, kita tidak akan pernah sampai ke titik kualitas literate yang sejati.

Di buku ini, IAD juga menuliskan tentang situasi di tengah wabah. Bahwa wabah ini memang mendidik kita dengan sangat keras dan sangat seketika untuk menyadari banyak sekali hal. Bukan hanya pelajaran tentang menjaga kesehatan, namun yang lebih mendasar lagi adalah pemahaman bahwa satu titik dengan titik lainnya selalu saling berhubungan.

Yang pada akhirnya kita akan merasa perlu berdoa untuk banyak sekali orang yang tidak kita kenal, yang sebangsa atau yang tidak sebangsa, yang seagama atau yang tidak seagama. Bahkan mungkin ujung-ujungnya kita harus berdoa bukan hanya untuk bangsa manusia.

Apakah kita mulia karena melakukan itu? Sama sekali tidak. Kita hanya seorang egois-oportunis yang sedang memikirkan diri dan keluarga kita sendiri. Sialnya, wabah ini sungguh-sungguh mengajarkan bahwa sangat tidak cukup jika sekarang ini kita hanya mengharap kebaikan untuk diri kita sendiri. Kalimat-kalimat tersebut bisa kita temui pada esai yang berjudul Doa yang Tak Cukup.

Membaca esai-esai IAD dalam buku ini, membuat saya tak henti berdecak kagum. Bagaimana tidak, dengan sekadar melihat hal sederhana seperti gundukan tanah kawanan semut saja misalnya, seketika mampu disulapnya menjadi sebuah esai reflektif Sertifikat Para Semut. Sungguh, betapa ia adalah seorang perenung ulung, ckckck...

Dan esai yang berjudul Dilarang Mengutuk Hujan, menjadi primadona dalam buku ini. Pada esai ini, IAD mengungkapkan kegundahannya tatkala hujan bikin kacau agenda jalan-jalannya. Dia hanya bisa tepekur di dalam bandara tanpa kejelasan. Meskipun ingin sekali memaki-maki, namun tentu saja ia tak berani sungguh-sungguh mengumpati hujan.

Nasihat yang kerap ia dengar semasa kecil agar jangan pernah memaki hujan, melekat kuat dalam ingatannya, meskipun tanpa rasionalisasi dan penjelasan ilmiah atas pelarangan memaki hujan. Dalam hidup ini, agaknya tidak semua hal layak dirasionalkan.

Seperti pada kondisi saat rasa lapar datang, hujan membuat para penumpang pesawat tak punya pilihan selain melangkah ke warung makan di dalam ruang tunggu, yang memasang harga jualannya tiga kali lipat dari harga di luar bandara. Namun di sisi lain, hujan adalah seratus persen berkah bagi para pedagang makanan di warung itu. Dan senyum di wajah mereka adalah jenis senyum yang sangat rasional.

IAD menyebut bahwa hujan itu mirip cinta. Ia jadi berkah hanya ketika dicurahkan dalam porsi yang cukup dan di saat yang tepat. Selebihnya, too much love will kill you.

Ini kali kedua saya membaca esai Dilarang Mengutuk Hujan. Sejujurnya saya pernah sempat merasa jatuh hati saat pertama kali membaca esai IAD ini di salah satu media online, ketika kala itu masih diberi judul Dilarang Mengumpati Hujan. Dan kali ini, saya sedikit kesulitan menahan diri agar tidak jatuh hati lagi untuk yang kedua kali, pada esai yang sama.

Memang ada banyak buku yang berhasil dicetak oleh para penulis handal, namun hanya beberapa buku saja yang benar-benar mampu membuat pembacanya terpikat. Dan saya rasa, buku IAD ini adalah salah satu dari yang beberapa itu.

_____

● Judul Buku: Dilarang Mengutuk Hujan

● Penulis: Iqbal Aji Daryono 

● Penerbit: DIVA Press, 2021

● Tebal Buku: 166 halaman