2 bulan lalu · 101 view · 6 menit baca · Saintek 92144_24463.jpg
Tribunnews

Skeptisisme Anak Kecil terhadap Alam Semesta

Skeptis adalah sikap kritis yang senantiasa berfikir dengan menggunakan dalil-dalil logika untuk membuka gerbang pintu rasionalitas. Skeptisisme terhadap alam semesta adalah semacam keraguan di dalam mempertanyakan eksistensi individu yang sangat kecil di dalam jagat raya yang maha luas.

Menurut ilmu astronomi, ada beberapa teori tentang lahirnya alam semesta. Teori Steady State (Keadaan Tetap) menyebutkan bahwa jagat raya ini sudah ada sejak dahulu kala dan akan tetap kekal selamanya.  

Selain teori tersebut, teori lainnya yang sangat terkenal adalah mengenai Teori Big Bang. Big Bang terjadi sekitar 15 miliar tahun yang lalu dimana gas serta debu meledak dengan sangat dahsyat dan runtuh seketika sehingga partikel-partikelnya berhamburan dan semakin memendar seperti balon dan terus -menerus memutar untuk membentuk jutaan galaksi di alam semesta.

Galaksi adalah gasing raksasa  yang terdiri dari debu dan gas. Ada sekitar 100 juta Galaksi yang mengelilingi alam semesta dan di setiap galaksinya dikelilingi oleh bintang-bintang, planet, komet, asteroid dan benda-benda langit lainnya.

Galaksi kita bernama Bima Sakti yang berbentuk seperti spiral dan dikelilingi oleh 200 juta bintang-bintang, salah satunya adalah matahari sebagai pusat tata surya kita, matahari terletak di pinggiran Galaksi Bima Sakti.

Matahari adalah bintang yang berusia 5 miliar tahun, partikelnya berupa gumpalan gas yang berukuran sangat besar, suhunya panas mencapai 5.800 derajat Celsius. Sedangkan intinya mencapai suhu 15 juta derajat.

Seperti Bumi yang berputar mengelilingi matahari sebagai pusat tata surya selama 365 hari dan melakukan rotasi atau mengelilingi porosnya selama 24 jam. Matahari juga berputar untuk mengelilingi porosnya selama 25 hari dan juga Matahari berputar mengelilingi pusat Galaksi Bima Sakti sekitar 225 juta tahun.

Sistem tata surya kita terdiri dari satu bintang, yaitu : Matahari yang dikelilingi oleh planet-planet yaitu : Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

Bagi orang dewasa, berpikir skeptis tidaklah sesulit pada anak-anak yang sedang membangun daya nalarnya dan mendorongnya untuk berpikiran tajam, apalagi mengenai sesuatu yang menurut mereka terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, skeptisisme harus dikonstruksikan karena hal itu tidak lahir secara sendiri, perlu stimulus untuk membentuk anak dengan jiwa yang kritis dan skeptis pada dunia astronomi.

Dorongan itu seyogyanya dimulai sejak dini dengan menstimulasi minat dan menumbuhkan keingintahuan anak-anak agar dapat menyelami dunia astronomi melalui media lagu-lagu anak yang sudah populer di tanah air.


Metode memperkenalkan planet, satelit, bintang dan galaxy di ruang angkasa dengan lagu anak-anak tentusaja bukan hal yang baru, namun sampai saat ini hasilnya dinilai masih terasa kurang, apalagi dengan sasaran menumbuhkan antusiasme anak di dalam mengeksplorasi alam semesta. 

Ketidakberhasilan metode tersebut dikarenakan nyanyian pada lagu-lagu anak hanya dicerna sebagai hafalan semata bagi mereka. 

Selain itu, terbatasnya daya pikir anak kecil membatasi nalar pikirannya hanya pada kehidupan sehari-hari yang dekat dengan mereka saja dan menganggap bahwa lingkup sains adalah sesuatu yang sangat jauh dan berada di luar jangkauan karena menyangkut tata surya dan luar angkasa.  

Melalui lagu-lagu anak yang dekat dengan dunia mereka akan mampu mendekatkan sesuatu yang dianggap sangat jauh dan tak terjangkau itu sehingga menjadi stimulan yang efektif dalam menggugah minat dan rasa ingin tahu mereka yang sejalan dengan daya imajinasinya yang tinggi dan secara naluriah haus akan pengetahuan.

Lagu-lagu tersebut dinyanyikan bersama dengan alat peraga Sains akan menunjang anak-anak mengkonstruksikan reasoning atau cara berpikir mereka di dalam mengenali kehidupan alam semesta yang luas dengan imajinasi sebagai kekhasan dunia anak kecil. 

Misalnya: Lagu anak-anak berjudul ‘Bumi Planetku’ ciptaan Djito Kasilo, dengan lirik awal berbunyi…Bumi Planetku, Bulat Bentuknya, Berwarna Biru. Anak-anak diajak bernyanyi mengenai lagu Bumi Planetku sampai tuntas. 

Kemudian mereka bisa mengulanginya lagi perlahan-lahan sebari menelisik satu per satu lirik lagu anak yang dinyanyikan, disini dapat diberikan stimulasi aneka pertanyaan yang muncul dari lirik lagu dan jawabannya yang disertai oleh peraga sains sehingga pemahaman anak-anak lebih integral dengan sesuatu yang memang mereka senangi, yaitu; bernyanyi bersama dan melihat secara visual. 

Anak-anak juga membutuhkan setiap penjelasan dan jawaban atas pertanyaan untuk membentuk data kritisnya.

Pada kata ‘Bumi Planetku’, dapat dimulai stimulasinya dengan menerangkan bahwa bumi adalah tempat kita tinggal, tempat tinggal kita adalah sebuah planet, lantas bertanya pada anak-anak mengenai apakah planet itu? Sambil melakukan visualiasi melalui video film atau media visual yang menarik lainnya.

Pengajar dapat menjelaskan bahwa Planet merupakan debu dan gas yang jauh dari matahari dan mempunyai orbit, bergerak dalam jalur yang berbeda dan membentuk gumpalan selama 100 juta tahun.


Pada kata ‘Bulat Bentuknya’, dapat diberikan fakta bahwa zaman dahulu banyak orang berpikir bumi itu datar, namun bangsa Yunani Kuno menemukan kebenaran bentuk bumi yang bulat dan diperkuat wujudnya apabila dilihat dari antariksa.

Pada kata “Berwarna Biru”, Pengajar dapat bertanya bahwa laut lebih luas daripada daratan sehingga planet berwarna biru jika dilihat dari angkasa sehingga disebut sebagai planet biru.

Dengan metode seperti ini, anak-anak akan mencintai ilmu pengetahuan dan sains sehingga kedepannya bisa mengeksplorasi dunia astronomi. Selain itu munculnya skeptisisme pada setiap anak akan membuka gerbang untuk menggali lebih dalam lagi mengenai Alam Semesta beserta isinya.

Anak kecil bisa saja bertanya tentang pertanyaan yang sederhana, namun membutuhkan jawaban yang kompleks dan ketika ia tidak puas pada jawaban yang ia temukan di buku-buku atau jawaban dari pengajarnya, hal tersebut bisa memacu keingintahuannya lebih dalam tentang astronomi.

Jika ada awal, bagaimana akhirnya alam semesta yang luas ini? Pertanyaan itu pasti akan menggelitik di benak setiap orang. Ada teori yang mengemukakan bahwa adanya Lubang Hitam di Alam Semesta ini bisa menjadi akhir untuk segalanya.

Meskipun itu hanyalah sebuah teori yang perlu pembuktian nyata dan dapat saja dibantah atau dipatahkan, apabila ada bukti atau fakta lebih kuat yang bersifat ilmiah.  

Black Hole atau lubang hitam adalah bintang yang mati, namun masih memiliki massa dan gravitasi yang sangat besar. Black Hole berbentuk seujung jarum, namun kekuatannya sangat masive dan mampu menarik seluruh partikel; gas, debu, batu dan cahaya masuk ke dalamnya.

Jadi,  bukan hanya planet, komet, asteroid dan bintang lainnya yang dapat terhisap masuk ke Lubang Hitam, namun juga cahaya karena cahaya itu terbentuk dari foton yang tidak memiliki massa, namun memiliki gravitasi.

Pertanyaan mendasar mengenai alam semesta ini adalah kenapa Galaksi mengelilingi Alam Semesta? Kenapa Matahari mengelilingi porosnya dan juga Galaksi Bima Sakti? Kenapa Bumi dan planet-planet lain mengelilingi porosnya dan juga Matahari? Kenapa Bulan sebagai Satelit Bumi atau Phobos sebagai satelit Mars mengelilingi porosnya dan juga Bumi atau Mars?

Kenapa seperti itu? Mungkin anak kecil yang penuh imajinasi pun akan bertanya-tanya. Segala sesuatunya memang perlu pembuktian secara ilmiah dengan teori-teori yang sangat kompleks.


Namun, pertanyaan yang kompleks tersebut dapat dijawab dengan sesuatu yang absolut sifatnya, seperti dalam Fisika Kuantum yang dikolaborasikan dengan nilai-nilai kerohanian kita, yakni: mengenai ibadah kita kepada Tuhan.

Misalnya; sebagai muslim ada pertanyaan kenapa pada saat kita melakukan Tawaf harus mengelilingi Mekah sebanyak Tujuh kali dan Berjalan dari Safa ke Marwah sebanyak 7 kali? Kenapa pada gerakan Shalat itu dilakukan berulang dimulai dari berdiri sampai sujud? 

Jawabannya hanyalah satu. Satu bukti ketundukan semua mahluk kepada Tuhan Yang Maha Pencipta. Apa-apa yang ada di alam semesta berputar mengelilinginya dan gravitasi menahan agar tetap pada jalurnya dengan ruang kosong yang sangat jauh sehingga tidak bertabrakan satu dengan yang lain. 

Berputar adalah wujud ketundukan semesta pada Tuhan sehingga planet, bintang dan galaksi berputar terus tanpa henti. Begitupula dengan manusia yang berkewajiban untuk terus beribadah sepanjang hidupnya. Sehingga apabila semesta atau individu berhenti berputar, maka itu adalah akhir dari kehidupan.  

Daftar Pustaka

  • Beaumont, Emilie dan Guilloret, Marie-Renee, Ensiklopedia Junior: Luar Angkasa:  PT Bhuana Ilmu Populer - Kelompok Gramedia. 2010.
  • Hoon, Shing Dong Hoon, Seri Edukasi Britannica Antariksa. PT Bhuana Ilmu Populer - Kelompok Gramedia. 2018.
  • Wollard, Kathy, Einstein Aja Ingin Tahu! Scientific Press. 2004.

Artikel Terkait