The Second Sex (atau dalam bahasa aslinya Le Deuxième Sexe) merupakan karya filsafat kontemporer mengenai feminisme yang ditulis oleh Simone de Beauvoir. 

Dengan karyanya ini, Beauvoir dianggap feminis pertama yang mempertahankan pandangan-pandangannya dengan berlandaskan tesis-tesis filosofis dan historis.

Tetapi buku ini sebenarnya tidak ditulis dalam objektif feminis (tidak ditujukan sebagai bagian dari perjuangan gerakan perempuan). Buku ini (dan penulisnya) juga sempat menjadi skandal selama puluhan tahun di Prancis. 

Awal Mula Ide Tulisan: Berkat Sartre?

Saat itu sekitar tahun 1946, Beauvoir sangat ingin menulis tetapi tidak tahu pasti apa yang ingin ia tulis. Ia terpikir untuk berbicara tentang dirinya, dengan pertanyaan awalnya, ”Apa artinya bagi saya menjadi perempuan?”. 

Ia membahas hal ini dengan Jean-Paul Sartre. Filsuf yang satu ini hanya menjawab dengan singkat, ”Sudah jelas kamu tidak dibesarkan dalam cara-cara yang sama dengan laki-laki. Lihat dirimu lebih dekat.” 

Beauvoir merenungkan perkataan Sartre; ia mengamati dirinya, menembus jauh ke dalam dirinya, sebelum akhirnya menemukan ide mengenai apa yang harus ia tulis. 

Kurang lebih satu setengah tahun kemudian, lahirlah The Second Sex (1949) yang diterbitkan dalam dua volume : (1) Fakta-fakta dan Mitos-mitos; (2) Pengalaman Hidup.

Pembantaian Saat Penerbitan 

Buku ini (dan penulisnya tentu saja) dikritik habis-habisan pada saat baru diterbitkan. Dari 35 artikel yang mengulas buku ini pada minggu-minggu pertama setelah peluncurannya, 23 di antaranya merupakan kritik negatif penuh ketidakmengertian dan penghinaan. 

Beauvoir juga menerima banyak surat berisikan komentar-komentar pedas yang penuh hujatan. Ia disebut sebagai perempuan neurotik yang frustasi dan tidak bahagia karena tidak dicintai dan tidak terpuaskan secara seksual. 

Ada pula yang memanggilnya sebagai lesbian pendengki dengan kompleks rendah diri dalam hubungannya dengan laki-laki. Sebagian orang menyebutnya frigid sedangkan sebagian lagi menganggapnya gila seks. 

Mempermalukan Laki-laki Perancis

Beauvoir diserang dari berbagai sisi. Kelompok sayap kanan yang berpegang pada nilai-nilai tradisional tentang keluarga tentu menentang eksistensialisme Beauvoir yang individualis.  

Dalam salah satu bab, Beauvoir menggambarkan secara eksplisit alat kelamin perempuan dan hubungan seksual perempuan yang pertama kali. Pilihan-pilihan katanya sangat blak-blakan. 

Sementara laki-laki merentang (ereksi), perempuan “basah”. (lihat makna aktif yang melekat pada laki-laki dan pasif pada perempuan yang ingin ditunjukkan Beauvoir kepada pembaca). 

Ia menggambarkan vulva sebagai berikut,” Alat kelamin perempuan itu misterius bahkan bagi perempuan itu sendiri. Ia tersembunyi, tersiksa (dalam arti mengalami rasa sakit), lembab, berlendir. Terkadang ia  punya kehidupan rahasia dan berbahaya. Setiap bulan ia berdarah dan kadang dikotori dengan cairan tubuh lainnya (baca : sperma).”

Mengenai hubungan seksual perempuan yang pertama kali, Beauvoir menyatakan, ”Dengan laki-laki sopan dan terhormat sekalipun, penetrasi pertama selalu menjadi pemerkosaan bagi perempuan”. 

François Mauriac, pengarang buku Thérèse Desqueyroux, mewakili kelompok Katolik, menilai Beauvoir telah melampaui batas dengan kalimat-kalimatnya yang mereka anggap sangat menjijikkan itu. Sementara Albert Camus geram, Beauvoir dianggap telah mempermalukan laki-laki Perancis. 

Vatikan memasukkannya dalam Index librorum prohibitorum, yaitu indeks buku terlarang oleh gereja Katolik (berlaku sampai tahun 1966).  Namun mungkin juga pelarangan ini yang membantu penjualan buku ini untuk mencapai 22.000 eksemplar hanya dalam waktu 1 minggu.

Serangan Kelompok Komunis

Kelompok komunis yang Beauvoir harapkan dapat memberikan tanggapan positif atas bukunya ternyata ikut membantainya. Kelompok ini mengecam The Second Sex sebagai produk sastra bourjois yang tidak bermoral dan pornografik ; isu budaya masif amerika.

Beauvoir  yang menuntut hak perempuan untuk aborsi dan kontrasepsi tidak mendapatkan tempat di hati mereka. Mereka menilai tidak seharusnya tuntutan hak-hak ini mendahului perjuangan hak perempuan sebagai pekerja. Karya Beauvoir dianggap tidak ada gunanya bagi para pekerja perempuan. 

Ketika menulis buku ini,  Beauvoir mengacu kepada fenomenologi Hegel. Tesis utama buku ini adalah bahwa perempuan dianggap sebagai figur yang lain (Liyan); ia terasingkan dari budaya yang didominasi laki-laki. Ketidaksetaraan antara perempuan dan laki-laki menurutnya merupakan konstruksi budaya dan bukan kodrat. 

Awalnya perempuan setara dengan laki-laki. Adalah laki-laki, karena ia menghasilkan ideologi, karena ia dominan, ia mengantarkan perempuan pada keliyanan untuk membuatnya menjadi makhluk inferior. 

Beauvoir menggunakan dialektik majikan dan budak yang dikembangkan Hegel untuk menjelaskan penindasan terhadap perempuan. Menurutnya, laki-laki memiliki kesadaran imperialis dan selalu ingin menonjolkan dirinya untuk menyangkal keberadaan yang lain. 

Dihadapkan pada sesama laki-laki, mereka merasa terancam dengan tuntutan ini. Solusi mereka adalah menemukan yang secara biologis lebih rendah dari mereka untuk dijadikan budak. Dan bagi laki-laki, yang secara biologis lebih rendah adalah perempuan.

Jeannette Colombel, filsuf komunis, menyerang Beauvoir, dengan menegaskan bahwa bukan bukan laki-laki musuh perempuan, tetapi kapitalisme. Ia menganggap The Second Sex sebagai reaksi-reaksi dari perempuan bourjois melalui cermin-cermin yang tidak karuan bentuknya dari filosofi kemuakan terhadap laki-laki. 

Beauvoir menghina perempuan itu sendiri, tambah Colombel. Dengan menolak motherhood sebagai takdir perempuan,  Beauvoir terperangkap dalam individualisme yang mengerikan. Beauvoir dianggapnya tidak mampu mengakui perasaan yang paling alami dari setiap perempuan (Colombel, dalam Galster, 1999). 

Masalah Penerjemahan

The Second Sex kini sudah diterjemahkan ke dalam kurang lebih 40 bahasa. Penerjemahan pertama ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1953 oleh Howard Parshley. Terjemahan ini banyak dikritik karena ditemukan banyak kesalahan dan penghapusan cukup banyak bagian penting. 

Parshley kurang memahami istilah-istilah dan konsep-konsep filsafat karena memang bukan bidangnya. Ia adalah seorang ahli hewan, dengan spesialisasinya adalah serangga. Ia banyak menulis tentang reproduksi, genetika, dan seksualitas manusia, salah satu topik yang dibahas dalam The Second Sex.  

Baru pada tahun 2009, buku ini diterjemahkan ulang oleh Constance Borde and Sheila Malovany-Chevalier. Meski masih saja ada kritik terhadap terjemahan baru ini terutama tentang kesatuan makna filosofis yang mendasarinya, terjemahan kedua ini dianggap cukup memadai. Kesalahan-kesalahan dan bagian-bagian yang dihilangkan pada terjemahan pertama telah dikoreksi. 

Penutup 

Mengenai kalimat terkenal Beauvoir : “Seseorang tidak terlahir sebagai perempuan tetapi menjadi perempuan”. Kalimat ini sebenarnya terinspirasi dari kalimat Didier Erasme : “Seseorang tidak terlahir sebagai manusia tetapi ia menjadi manusia”. 

Erasme sendiri terinspirasi dari Tertullian, bapak gereja yang menggunakan istilah trinitas untuk pertama kalinya. Tertullian menyatakan ,”Seseorang tidak terlahir sebagai Kristen tetapi ia menjadi Kristen”. 

Dengan kalimatnya itu, Tertullian ingin menyatakan bahwa manusia bertumbuh sebagai manusia dalam proses pencarian akan Tuhan, dan Erasme ingin menunjukkan pentingnya pendidikan humanis dalam perkembangan kepribadian manusia. 

Sedangkan Beauvoir ingin mengecam konstruksi sosial yang membodohi perempuan, yang menjadikan perempuan seperti anak kecil dan mengkondisikannya untuk bergantung pada laki-laki. 

Pada akhir tahun 1980-an, ketika kehidupan pribadi Beauvoir terungkap,  Beauvoir dan The Second Sex kembali menjadi perbincangan (baca di sini). 

Terlepas dari semua kritik dan polemik, tidak ada yang menyangkal bahwa Beauvoir dan The Second Sex telah menginspirasi banyak perempuan dari generasi ke generasi, di kalangan feminis militan maupun akademis.