Betapa suram jalan hidup Azikin atas kematian istrinya, bukan karena menderita sakit ataukah mati lantaran terbunuh. Dari hasil keterangan polisi setempat yang datang memeriksa mengatakan bahwa dari hasil visum atau at repertum, tidak terdapat tanda kekerasan di jazad wanita muda itu.

Di tambah keterangan saksi, salah satunya bernama Jumarni, tetangganya itu pun menuturkan bahwa sehari sebelum Halimah bertemu ajal, ia masih melihatnya berjalan dari sumur tua yang biasa di gunakan warga kampung tuk mengambil air bersih guna keperluan sehari-hari.

Berbeda dengan keterangan polisi dengan warga, yang menghubungkan kematian itu dengan hal-hal mistis. Dari mulut ke mulut, Santer terdengar lirih bahwa diduga Halimah mati gara-gara perilaku Azikin di masa lalu.

Di tegah jazad yang tergeletak, berulang kali Azikin hanya mampu membenamkan wajahnya di tubuh sang istri yang amat di sayanginya itu kini telah pergi untuk selamanya. Sosok terkasih yang dinikahinya 2 tahun silam telah berpulang meninggalkan segala kenangan indah.

Dalam pernikahannya dengan Halimah, dia sempat di karuniai seorang anak perempuan. Tetapi takdir berkehendak lain. Ajal lebih cepat merenggut kebahagiaannya sebagai seorang ayah. Betapa pilu perasaan Azikin, yang kembali di rundung duka mendalam. Orang-orang  yang menjadi tumpuan kebahagiannya satu-persatu  di renggut kematian.

Dengan berlinang air mata dan suara menyendat, Azikin mulai  menceritakan ketika ia tak sempat berada di rumahnya kala detik-detik istrinya menghembuskan nafas terakhir. 

Waktu itu, sejak berangkat ke kebun  miliknya, ia baru kembali ke rumah menjelang magrib tiba. Sama sekali tak terlihat gelagak mencurigakan yang di perlihatkan istrinya jika sebentar lagi dirinya akan menutup usia.

Kecurigaan itu  datang pada saat memanggil Halimah namun sama sekali tidak di gubris. Padahal, kebiasannya selalu menyambut Azikin dengan senyuman ataukah segelas kopi telah menunggunya di atas meja. Tetapi sore itu justru berbeda dan jauh dari dugaannya.

Setelah melewati kebun yang di hiasi pohon pinus dan tanaman cengkeh, barulah ia sampai di kediamannya yang jauh dari kesan kemewahan. Lama mengetuk namun tak kunjung terbuka, Azikin pun bertanya tentang keberadaan istrinya. Dia pun memilih untuk lewat di bagian pintu depan akibat derasnya hujan menyulitkan suaranya terdengar di sela-sela dinding dapur rumahnya.

Sekujur tubuh Azikin  basah kuyup di terpa rintik hujan sepanjang jalan pulang. Ia pun lega, rupanya pintu  depan tidak terkunci, dan ia bisa masuk meski harus berjinjit cepat melewati ruang tamu menuju kamar mandi.

Selepas membersihkan badan dan berganti pakaian, matanya menyorot jam dinding yang terpajang mugil di ruang tengah. Waktu itu telah menujuk pukul 17.47 Wita. Ia pun bertanya-tanya tentang keberadaan istrinya yang sedari tadi tak nampak batang hidungnya.

"Apa dia pergi ke rumah ibunya?" Tanya Azikin dalam hati.

"Halimah, Halimah.....?!" (Sambil membuka satu-persatu  pintu kamar).

"Rupanya kamu di sini. Bangun, sayang. Ini sudah menjelang malam." 

Berlahan menghampiri lalu menyentuh pundak istrinya, betapa terkejut ketika merasakan tubuh Halimah begitu dingin dan berwajah pucat lantaran aliran darahnya telah berhenti.

"Tidaaaaaaakkkkkkkk." 

Sontak, raungan Azikin menggema membuat para tetangganya berhamburan keluar rumah dengan penuh tanya.

Tidak berselang lama, warga beramai-ramai memadati rumah kediaman Azikin, mereka datang dengan raut wajah penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi.

"Halimah telah tiada," ucap Azikin dengan suara terbata.

Warga yang datang larut dalam sedih dan ikut bermata sembab. Bagaimana tidak, dalam hitungan bulan Azikin kembali di timpa musibah.

****

Menurut cerita warga sekitar, Azikin pernah membunuh lelaki yang menghamili adik kandungnya dan mayatnya di temukan tergeletak di semak-semak dengan puluhan luka tusukan.

Dahulu, Azikin di kenal sebagai pemuda yang brutal dan pemimpin komplotan para penjahat lintas daerah. Berulang kali ia menginap di sel tahanan karna terbukti terlibat kejahatan.

Azikin banyak menghabiskan waktu diluar dan sesekali pulang ke rumah. Bersama ibu bapaknya, juga adiknya Alinda, mereka jarang berkomunikasi. Ia betul-betul di berikan kebebasan untuk mengatur hidupnya sendiri.

Namun begitu, dalam hati kecilnya, Azikin masih peduli dengan keluarga. Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, ia sangat jauh berbeda dari segi watak.

Kakaknya bernama Alimin, dia mewarisi sifat ayahnya yang penurut dan rajin dalam segala hal, itu sebabnya dia mendapat dukungan orang tua untuk terus melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. 

Sedangkan dalam diri Alinda, adiknya. Mengalir karakter ibunya. Di sekolah, ia menjadi idola karna kepintarannya. Beberapa kali dirinya mendapatkan penghargaan atas prestasinya mengikuti lomba. Namun ia terlena oleh rayuan pacarnya hingga terjebak cinta satu malam.

Hanya Azikin yang berbeda dari kedua saudaranya. Ia mudah bergaul dan mengenal banyak "perkumpulan" kaum muda. Sejak tamat SMP ( Sekolah  Menengah Pertama), ia memutuskan berhenti sekolah dan akhirnya terjerumus pada pergaulan bebas.

Dalam petualangan hidupnya, dia bertemu dengan Halimah, yang kelak di jadikan istri. Sebuah pertemuan tak terduga saat menyelamatkan wanita itu dari musibah kecelakan.

Waktu itu di sebuah pasar tempat dirinya mangkal dan menunggu setoran dari pedagang, tiba-tiba mobil melaju kencang mendekati Halimah yang sedang memotong jalan. Dengan gerakan cepat, Azikin melompat mendorong tubuh wanita itu hingga terpental ke bibir jalan.

Beruntung, mereka berdua selamat. Dari situlah berawal perkenalan tekun hingga benih-benih kasih sayang menyelinap pada hati keduanya. Dan, komitmen itu tumbuh maka pernikahan pun terjadi.

Azikin mulai berubah sejak kehadiran Halimah dalam hidupnya. Pada akhirnya, Mereka memutuskan pergi ke kampung halaman nenek Halimah, disanalah mereka menetap. 

Berkat keberadaan Halimah, yang tak letih menuntunnya dengan ketulusan hati, Azikin perlahan melupakan segala kebiasaan buruknya di masa lalu.