Sebagai insan yang dianggap paling suci karena profesinya, guru menjadi modeling pertama dan cerminan terhadap kondisi sosial saat ini. Perilaku masyarakat hampir sebagian besar tergantung dari hasil pembelajaran yang dilakukan oleh guru, mulai dari pengetahuan, keterampilan, budi pekerti, dan spritualitasnya.

Secara historis, guru dan siswa memiliki rekaman perjalanan panjang dari para pendahulu, yang telah lebih dulu menyambung rantai hubungan hingga ke sang pemula, yaitu Adam.

Kemudian seorang siswa jelas memiliki hutang tuntutan pada guru, ustadz, kiai, wali, resih, suhu, batara, engku, ndoro, Mr-Miss, mentor, pelatih, pengampu, dosen, widyaiswara, dan cikgu.

Itulah deretan istilah yang dimiliki untuk menghormati para guru. Maka pemahaman secara mudahnya begini; guru-siswa adalah trah tumerah yang memiliki hubungan untuk melanjutkan pengajaran dalam aspek apa pun.

Di dalam diri yaitu guru, terikut kerumitan yang sedemikian rupa membingungkan, dan kita mesti memecahkan persandian itu satu per satu—sepanjang pengajaran. Satu di antara sandi utama yang harus kita pahami, yaitu perilaku siswa. salah satunya perilaku di sekolah.

Ada perilaku siswa yang unik, etah siapa yang memulai kebiasaan ini. Siswa sering mengunjungi suatu tempat yang sepi namun ketagihan, tidak ada yang istimewa namun dirindukan, dan kecil namun beralasan. Kurang lebih seperti kamu deh.

Tempat itu adalah kamar mandi, iya kamar mandi. Tempat yang hanya sebatas membuang air, mencuci tangan, dan bercermin, seakan menjadi tempat yang begitu istimewa. Lantas ada apa dibalik tempat yang seperti itu. Ettt tapi bukan beneran kamu ko, yang seperti kamar mandi, hanya kesannya saja seperti kamu wkwk.

Yuk kita kembali lagi ketulisan.

Kamar mandi memang tempat yang sangat penting untuk dihadirkan dimana pun. Jika tidak ada si dia, maksudnya kamar mandi pasti akan terjadi ke caos-an. Seperti halnya di sekolah.

Kamar mandi masuk ke dalam sarana dan prasarana yang tertuang di dalam Permendikbud No. 24 Tahun 2007 dan yang terbaru PP No. 57 Tahun 2021 tentang standar sarana dan prasarana pendidikan. Bahwa kamar mandi/toilet menjadi tempat yang harus ada di lingkungan lembaga pendidikan.

Setiap sekolah, hari ini sudah terfasilitasi kamar mandi yang layak dan bersih. Berbeda mungkin dengan kondisi ketika saya sekolah dasar, kamar mandi sekolah tidak terstandarisasi dan jumlahnya kurang memadai. Jika kamar mandi mengalami kerusakan atau ada orang yang sedang menggunakan. Bagi kami tidak ada lagi waktu mengantri sehingga harus pergi ke sungai yang memang jaraknya hanya beberapa meter.

Pengalaman mengajar saat ini menjadi memorial flash back pada saat melihat para siswa yang harus bolak balik ke kamar mandi. Bahkan diantara mereka ada yang sampai 3 atau 4 kali ke kamar mandi dalam rentang waktu 70 menit.

Padahal menurut kesehatan rentang waktu buang air kecil itu sekitar 3 jam sekali. Kecuali memang ada kondisi dimana seseorang akan lebih sering buang air. Misalnya kondisi suhu yang begitu dingin, karena pembuluh darah akan menyempit, lalu ginjal terpaksa menerima perintah untuk memproduksi urine dalam rangka menyaring limbah dari darah.

Tapi dalam episode ini berbeda, suhu di ruang kelas normal, tapi siswa sering ke kamar mandi. Sebagai seorang orang guru, melihat hal ini sepertinya akan menggangu proses pembelajaran, karena siswa yang ke luar, pasti tertinggal materi, walaupun hanya 5-10 menit.

Khawatirnya ketika guru sedang menerangkan suatu rumus, diperjalanan menerangkang rumus itu, ada siswa yang ke kamar mandi. Siswa tersebut baru memahami setengah dari rumus tersebut, sehingga untuk dapat memahami keseluruhan rumus, pasti harus menanyakan ulang kepada guru atau temannya. Yang menjadi permasalahan bagaimana jika siswa tersebut malah acuh tak acuh.

Faktor ini membuat saya diam-diam mengamati aktivitas apa yang dilakukan siswa ketika ke kamar mandi, khususnya siswa yang mulai beranjak remaja. Apa mungkin saja kejadiannya bisa sama dengan kami yang pernah menjadi siswa, seperti saya.

Ke kamar mandi hanya sebatas mengilangkan rasa bosan dengan metode pembelajaran yang disampaikan guru. Atau seperti para teman saya, ke kamar mandi hanya sebatas mengirim pesan untuk disampaikan kepada si dia. Dan bisa jadi kamar mandi hanya sebagai media menongkrong siswa-siswa.

Usut-mengusut fenomena siswa yang rajin ke kamar mandi hanya sekedar mencuci tangan. Tetapi setelah selesai mencuci tangan, mereka ada yang asik mengobrol dengan temannya yang baru datang ke kamar mandi. Dan ada juga siswa yang bercanda-canda, mematikan lampu, mengunci pintu kamar mandi, dan malah ada yang membuka pintu kamar mandi, pada saat temannya sedang memperbaiki kerudung. Perilaku ini memang tidak jauh berbeda dengan kami, yaitu saya. Kamar mandi malah menjadi media yang asik mengobrol dengan teman yang berbeda kelas.

Kejadian ini ternyata menjadi fenomena klasik, baik di masa lampau atau sekarang, di sekolah yang ada di perkotaan atau perdesaan. Sehingga dipandang perlu adanya pemecahan masalah yang harus didiskusikan.

Pernah pada suatu waktu pembelajaran, saya dengan siswa membuat kesepakatan, tidak boleh ke kamar mandi saat pembelajaran sudah di mulai. Siswa hanya boleh ke kamar mandi sebelum pembelajaran di mulai, lalu diberikan waktu selama 3 menit untuk ke kamar mandi.

Tetapi di tengah pembelajaran masih ada siswa yang ingin ke kamar mandi, dengan alasan buang air kecil. Jika saya mengikuti kesepakatan yang telah dibuat, khawatir siswa tersebut memang benar sudah tidak kuat untuk buang air dan bisa membahayakan kesehatannya. Dengan ragu, lantas mengizinkannya.

Peristiwa siswa dan kamar mandi memang belum ada pembuktian ilmiahnya. Apakah mereka yang ke kamar mandi berpengaruh terhadap pemahaman dan hasil belajarnya atau tidak ada sama sekali hubungan antara siswa dan kamar mandi.

Patutnya, ini menjadi sebuah penelitian yang dapat direkomendasikan. Yang mampu menjawab fenomena klasik dalam dunia pendidikan.