Penulis
8 bulan lalu · 58 view · 7 menit baca · Pendidikan 12399_68218.jpg
kemendikbud.go.id

Sistem Zonasi PPDB, Cocok Gak sih untuk Kita?

Setelah ramai-ramai pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) beberapa waktu kemarin, sekolah-sekolah sudah kembali memulai aktivitas hampir satu bulan lamanya. Guru kembali dengan setumpuk tugas, dan murid dengan sedikit buku dan segudang cerita untuk dibawa ke sekolah masing-masing seusai liburan panjang. 

Murid baru datang lengkap dengan peralatan sekolah baru beserta seragam yang masih kaku. Sedangkan kakak-kakak kelas menebar pesona ke adik-adik gemes yang masih lugu dan malu-malu. Meskipun begitu, biasanya mereka masih ragu untuk sekadar mengatakan hai atau bahkan bertanya: “Berapa PIN BBM-mu?" Ya, karena mungkin memang juga sudah bukan zamannya.

Sementara para murid sedang menikmati indahnya masa-masa sekolah, mari kita bahas kembali sistem zonasi PPDB yang kemarin ramai diperbincangkan di berbagai media sosial.

Sebetulnya, sudah menjadi agenda tahunan bagi setiap sekolah membuka PPDB. Biasanya bapak-ibu guru yang jadi panitia sudah menyiapkan jauh-jauh hari untuk menyambut para orangtua yang akan mendaftarkan anak-anaknya.

Ada sekolah yang sudah dapat duduk manis dan menunggu para orangtua datang, lengkap dengan perhiasan dan tas branded khas ibu-ibu kompleknya. Namun juga ada sekolah yang harus menentukan strategi jitu dulu untuk mendapatkan murid. Bahkan ada juga sekolah yang sampai harus mengiming-imingi “sesuatu” kepada sekolah asal untuk mau menggiring murid-muridnya supaya mau memilih sekolah tujuan tersebut.

Namun, ada yang baru di tahun 2018 ini. Setelah sebelumnya akun Instagram Kemendikbud dibanjiri komentar tentang Ujian Nasional yang lucu-lucu, kali ini akun tersebut kembali dipenuhi komentar dari murid dan orangtua yang protes atas kebijakan baru tentang PPDB. 

Kalau hanya membalas komentar anak-anak sekolah sih bisa dijawab asyik sama admin Kemendikbud. Nah ini yang komentar emak-emak yang geram dikarenakan harus was-was anaknya gak masuk di sekolah bergengsi bagi orangtua, maksudnya sekolah favorit. Admin Kemendikbud tentunya harus hati-hati kalau gak mau dikasih belokan dadakan tanpa lampu sein ketika di perempatan jalan.

Sebelum kita bahas lebih lanjut, alangkah lebih baiknya kalau kita bahas dulu apa sih sebenarnya sistem PPDB itu? Berikut penjelasan yang dikutip dari akun Instagram Kemendikbud dan Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018. Ini beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai sistem zonasi dalam PPDB 2018:

  • Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah (pemda) wajib menerima calon peserta didik berdomisili pada radius zona terdekat dari sekolah dengan kuota paling sedikit 90% dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.
  • Domisili calon peserta didik yang termasuk dalam zonasi sekolah didasarkan pada alamat di kartu keluarga (KK) yang diterbitkan paling lambat 6 (enam) bulan sebelum pelaksanaan PPDB.
  • Radius zona terdekat dalam sistem zonasi ditetapkan oleh pemda sesuai dengan kondisi di daerah tersebut dengan memperhatikan ketersediaan anak usia sekolah di daerah tersebut; dan jumlah ketersediaan daya tampung sekolah.
  • Penetapan radius zona pada sistem zonasi ditentukan oleh pemda dengan melibatkan musyawarah/kelompok kerja kepala sekolah.

Kalau dilihat dari permendikbud tersebut, sebetulnya kita sudah dapat melihat niat baik bapak Muhadjir yang selama menjalani tugasnya cukup banyak memberikan kebijakan-kebijakan yang tak jarang membuat ramai dunia pendidikan kamu, aku, dan calon anak-anak kita nantinya. Karena kalau dilihat dari kacamata bulat saya, Pak Muhadjir dkk ini ingin melaksanakan mimpinya yang diucapkan dan menjadi visi Hardiknas pada tahun 2017 silam, yaitu “Percepatan Pendidikan yang Berkualitas dan Merata”.

Tentu kita semua masih suka menonton atau masih ingat animasi yang tak lekang oleh waktu Nobita dan Doraemon, kan? Sadar gak sih kalau mereka setiap pagi jalan bersamaan dari rumahnya masing-masing di komplek menuju sekolah yang tentunya jarakanya tak lebih dari 3 kecamatan? 

Atau ingat gak adegan di animasi Captain Tsubasa ketika Tsubasa dan teman-temannya menggiring bola dari rumahnya masing-masing menuju ke sekolah? Indah bukan? Dan indahnya lagi, ketika pulang mereka dapat kembali jalan bersamaan tanpa harus melewati kemacetan dan kejamnya jalanan. Bahkan gak ada alasan orangtua yang memberikan anaknya motor hanya karena alasan kasihan melihat anaknya ke sekolah di perantauan kecamatan bahkan kota lain.

Eiiiitsss... tapi, sebelum saya dihujam komentar pedas emak-emak komplek yang bilang “Itu kan di Jepang bukan di Indonesia” atau “Itu kan cuma kehidupan kartun”, mari kita kembali ke pertanyaan awal. Cocok gak sih sistem PPDB ini untuk kita?

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas tadi bahwa Pak Muhadjir dkk di Kementerian Pendidikan sudah barang tentu memikirkan matang-matang tekait kebijakan ini supaya pemerataan kualitas pendidikan yang selama ini kita keluhkan dapat tercapai dan bukan hanya sebagai angan-angan saja. 

Pasalnya, saya yang saat ini menginjak umur 25 tahun ini, sudah mendengar pembahasan terkait pemerataan Pendidikan semenjak dulu SD dan mungkin saja si Surti tetangga saya waktu kecil dulu begitu. Namun, hingga hari ini, pemerataan itu seperti dongeng yang setiap tahun di hari Pendidikan Nasional dibacakan dan dibahas.

Tentu saja pemerataan pendidikan ini perlu waktu yang panjang, tapi juga bukankah dalam setiap tujuan dan waktu selalu ada awalan? Dan begitulah kita ini, memang harus selalu “dipaksakan” untuk setiap perubahan ke arah yang lebih baik. 

Tak percaya? Mari kita bahas beberapa hal yang dipaksakan, namun berdampak baik bagi masa depan bangsa ini.

  • Minyak ke gas.

Masih ingat tentang 1 benda yang membuat nama Wapres kita saat ini melambung namanya? Yap, tabung gas dan “Lebih cepat lebih baik”. Dan lihat hari ini mayoritas masyarakat Indonesia menggunakan kompor gas.

  • Commuter line

Siapa yang pernah merasakan naik kereta di Jabodetabek pada jaman karcis dan abang-abang pengamen dan jualan bersama mengantarkan kita ke stasiun tujuan? Rasanya dulu seperti mustahil membayangkan wajah transportasi massal seperti saat ini. Sehingga kemudian pun berdampak bagi moda transportasi lainnya, seperti bus dan angkutan umum lainnya.

  • Wajib belajar 9 tahun. 

Kalau gak ada kebijakan ini, saya rasa jumlah masyarakat yang hanya tamatan SD masih sangat menjamur hingga saat ini. Namun, dengan adanya kebijakan tersebut, presentase pendidikan tamatan SMA semakin meningkat dan kesadaran pentingnya pendidikan pun semakin membaik. Terlebih, pengangguran semakin berkurang karena makin banyak orang yang punya Ijazah dan melancarkan ijab sahnya kemudian.

  • UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer). 

Masih ingat pembahasan tentang murid yang menangis karena salah menggunakan pensil atau begitu menakutkannya lingkaran demi lingkaran yang harus kita isi dengan sempurna? Atau terlambatnya UN di daerah-daerah timur dan barat Indonesia dikarenakan distribusi soal dan LJK yang telat? Dan saat ini pendidikan kita sedang dipaksakan untuk transformasi ke sebuah sistem baru yang disebut UNBK.

Dan hari ini pendidikan kita sedang “dipaksakan” untuk melakukan perubahan supaya misi pendidikan yang merata dan berkualitas tak hanya menjadi sekadar pembahasan saja selama bertahun-tahun. Kita harus perhatikan sekali lagi, misi pendidikan merupakan misi panjang yang memerlukan permulaan. 

Dan kita semua tahu awalan tak selalu berjalan baik dan menyenangkan. Sherina di Petualangan Sherina saja butuh waktu supaya terlepas dari kenangan sekolah lama dan berdamai dengan Sadam si Derbi Romero yang gempal, apalagi ini mencakup hajat orang banyak. 

Tangisan seorang anak dan mencak-mencaknya ibu-ibu di berita televisi dikarenakan merasa dirugikan lantaran tak diterima di sekolah favorit saya rasa hal yang biasa dalam sebuah adaptasi yang sudah sangat lama begitu nyaman berjalan dalam sistem pendidikan kita. Toh sekolah favorit itu setahu saya ada karena sarana prasarananya, lulusannya, dan mungkin seragamnya.

Padahal sistem ini akan membawa dampak baik bagi seluruh sekolah di setiap wilayah supaya terpacu menjadi lebih baik dan tentunya fokus pemerintah melalui pemerintah daerah untuk memanjukan pendidikan di daerahnya semakin nyata. 

Sarana dan prasarana yang masih kurang dan belum merata tentu akan menjadi fokus selanjutnya bagi pemerintah kita supaya percepatan pemerataan pendidikan yang berkualitas ini dapat terlaksana sesuai misinya. Serta tersebarnya anak-anak yang unggul dalam bidang akademik dan non-akademik di daerahnya masing-masing tentu akan memberikan dampak positif bagi daerahnya untuk membangun daerahnya tersebut.

Sejatinya sekolah bukanlah ajang untuk keren-kerenan dan adu gengsi, baik orang-orang yang ada si sekolah maupun ibu-ibu, bahkan anaknya. Sekolah sejatinya harus kembali ke alasan dasar kenapa kita harus pergi ke sekolah, yakni untuk belajar. Bukan hanya tentang nilai dan angka, tapi lebih untuk value yang tertanam pada diri setiap murid di sekolah. 

Hari ini pendidikan kita sedang menuju mimpi kita bersama tentang bagaimana kita dapat melihat senyum dan tawa anak yang berjalan kaki ke sekolah bersama teman-temannya tanpa harus cemas ketinggalan angkutan umum atau pun terjebak kemacetan, bagaimana tak ada lagi sekolah favorit sedangkan sekolah lainnya adakah sekolah ecek-ecek.

Bagaimana tak ada lagi bahasan tahunan nilai UN yang dipaksakan atau siswa stress hanya karena takut tak diterima di sekolah bergengsi, bagaimana setiap murid dapat fokus akan mimpi dan cita-citanya melalui minat bakatnya bukan tentang sekadar fokus di nilai dan aturan gengsi-gengsian sekolah lainnya.

Sistem baru ini memang masih perlu banyak evaluasi, namun begitulah memang kita seharusnya. Negeri ini sudah terlalu lama menunggu untuk mendapatkan pendidikan berkualitas kawan. Jadi jangan hanya karena tangisan satu atau dua anak dan mencak-mencaknya ibu-ibu yang sebetulnya ada solusinya dapat menghambat mimpi kita bersama ini. 

Tentu ketimpangan sarana dan prasaran pendidikan akan menjadi PR penting bagi pemerintah kita, dan tugas kita adalah mendukung upaya-upaya pemerintah selagi itu memang berdampak positif baik jangka pendek maupun Panjang.

Akhir kata dari saya, sistem ini memang belum cocok untuk saat ini dan beberapa wilayah. Tapi bukankah cocok atau tidak itu perlu waktu? Anggap saja ini masa PDKT kita, biasanya dalam pendekatan ada yang acuh, ada yang tak suka, bahkan ada yang benci. 

Tapi, tunggu saja dulu siapa tahu nanti kita dapat merindu dan saling menyatu. Kalau sudah begitu misi pelaminan kita, eh pendidikan kita dapat terlaksana dengan baik dan lancar jaya. Amin.